Jumat, 02 Mei 2014

Renungan Minggu - 26 Januari 2014

RENUNGAN MINGGU 3 Set.EPIPHANIAS

Tidak masuk akal, pemberitaan salib yang disampaikan Paulus sebagai hikmat dan kekuatan Tuhan. Menurut lawan Paulus di Korintus, tidak masuk akal Tuhan harus tersalib untuk menyelamatkan umat manusia. Menurut Paulus (orang percaya) jalan salib adalah hikmat dan kekuatan Allah untuk menyelamatkan manusia berdosa. Manusia tidak mampu mengerti jalan Tuhan, karena akal manusia terbatas untuk itu. Jalan Tuhan sering tidak selaras dengan alur pikiran manusia. Menurut Yahudi, kehadiran Mesias harus dalam keperkasaan dan kemegahan bukan dalam kesederhanaan dan kelemahan. Menurut logika manusia: Bukankah Allah mampu menaklukkan iblis, kematian, dunia hanya dengan firmanNya? Mengapa harus menyerahkan nyawaNya kepada maut untuk menyelamatkan manusia? Itu yang dimaksud jemaat Korintus kebodohan. Menurut Paulus, memang itu kebodohan bagi orang binasa tetapi kekuatan bagi orang percaya (1 Korintus 1, 10-18).

Jalan salib, adalah hikmat Allah untuk menyatakan kasihNya yang sungguh besar kepada dunia, sehingga manusia diselamatkan. Menurut cara berpikir dunia, adalah kebodohan pemilihan Kristus kepada Paulus, yang adalah musuh dan pembunuh pengikut Kristus. Dia yang menghambat jalannya pekabaran injil, tetapi dia dipilih menjadi alat Kristus. Dalam hukum rimba, musuh harus dibinasakan. Hukum seperti itu tidak berlaku bagi Yesus; justru Dia merangkul Paulus, dan mengutus dia menyebarkan Injil, sehingga dia menjadi orang yang dibenci oleh musuh injil. Itulah jalan Tuhan yang tidak masuk akal. 

Allah bersedia mengorbankan diri supaya manusia kembali kepadaNya, supaya manusia kesayanganNya kembali hidup dalam damai. Jalan Tuhan boleh dimengerti dengan pepatah orang Batak, “Jujur mula ni bada, bolus mula ni dame”. Sebenarnya, kita harus menegakkan kebenaran kita kepada orang yang menghancurkan nama baik kita, namun menurut pepatah Batak, selama kita masih mempertahankan kebenaran kita, maka jalan damai tidak tercapai; mengalah adalah jalan mencapai perdamaian. Demikian halnya hikmat Allah di kayu salib. Yesus rela menggantikan kita, supaya kita selamat dari kutuk dosa dan maut, dan kita berdamai dengan Allah.

Jalan Tuhan tidak masuk akal manusia. Jalan Tuhan tidak sesuai dengan alur pikiran manusia. Dalam pertemuan dengan bapak Pdt.Dr. Andar Lumbantobing, almarhum, mantan Bishop GKPI, di gereja HKBP Jl. Jenderal Sudirman Medan No.17A Medan pada bulan Maret 1995, beliau menceritakan pengalamannya tentang jalan Tuhan yang tidak masuk akal, yang berlikuliku namun happy ending. Ketika beliau divonnis dokter harus menjalani operasi by pass jantung, beliau memilih Rumah Sakit di Australia. Mendengar rencana operasi jantung tersebut, di Australia, pemerhati warga jemaat GKPI di Medan membentuk Panitia Pengumpulan Dana biaya operasi tersebut. Dalam perjalanan menuju Australia, keluarga transit di Jakarta. Sahabat-sahatbatnya di Jakarta menyarankan, operasi tidak perlu dilakukan di Australia, di Jakarta saja. Akhirnya beliau dioperasi dan dirawat di Jakarta, sementara biaya operasi sudah terkumpul sesuai dengan biaya yang dibutuhkan di Australia. Operasi beliau berhasil di Jakarta. Biaya yang terkumpul tersisa banyak sekali.

Untuk mensyukuri kesembuhan beliau, Kantor Pusat GKPI mengadakan Kebaktian Syukuran di Kantor Pusat GKPI Pematang Siantar. Dalam Kebaktian Syukuran tersebut, beliau menyampaikan terima kasih kepada semua sahabat sahabatnya, khususnya kepada jemaat GKPI dan Panitia Pengumpulan Dana pengobatannya. Beliau berkata, “Ala ndang saut ahu marubat tu Australia, otik do hupangke hepeng i, hupaulak ma lobina i tu hamu”. Lalu Panitia Pengumpulan Dana menjawab, “Penyakit yang dialami Bapak Bishop, mengingatkan kami warga jemaat GKPI untuk berbuat kepada keluarga Bapak Bishop. Kami sadar bahwa Bapak belum memiliki rumah pribadi, padahal Bapak sudah puluhan tahun berbakti di GKPI. Kami sudah membeli lahan di Jl. Sei Besitang Terusan Medan Baru. Di lahan tersebut kami akan membangun rumah untuk Bapak, dengan menggunakan biaya pengobatan yang tidak terpakai”. 

“Memang jalan Tuhan sungguh berlikuliku, namun berakhir dengan suka cita. Dia biarkan saya sakit jantung, padahal di balik itu Dia merencanakan memberikan rumah kepada saya. Terpujilah Dia. Itulah rumah kami sekarang”, kata Bapak Pdt. DR. Lumbantobing, mengakhiri kesaksiannya tentang jalan Tuhan. 

Selamat Hari Minggu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

RENUNGAN MINGGU ADVENT I 28 NOVEMBER 2021

MENYAMBUT KEDATANGAN TUHAN DALAM KEKUDUSAN (1 Tesalonika 3: 9-13) Surat ini ditujukan kepada komunitas pengikut Kristus di Tesalonika. L...