Sabtu, 30 Agustus 2014

RENUNGAN MINGGU XI TRINITATIS Matius 16: 21-28

RENUNGAN MINGGU XI TRINITATIS 
Matius 16: 21-28 

Booker T. Washington, seorang Professor Negro yang terkenal di Institut Tukegee Alabama. Tidak lama setelah ia menjabat Presiden dari Institut Tukegee di Alabama, di suatu sore ia berjalan-jalan di pinggir kota untuk menghirup udara sore. Seorang wanita kulit putih tiba-tiba menghentikannya. Karena tidak mengenal Booker T. Washington, wanita kulit putih yang kaya ini menawarkan apakah laki-laki negro itu mau mendapat uang dengan membelah kayu bakar untuknya. Setelah berpikir bahwa tak ada urusan yang mendesak, maka Prof. Washington mengikuti wanita kaya itu ke rumahnya. Dengan tersenyum dia menggulung lengan bajunya dan memulai melakukan pekerjaan kasar yang diminta wanita tua itu. Setelah selesai dia membelah kayu bakar itu, ia membawa kayu-kayu bakar itu ke dalam rumah dan meletakkannya di dekat perapian. Seorang gadis, cucu wanita tua itu baru pulang dari kuliah heran karena ia mengenal Prof.Washington dan mengatakannya kepada neneknya. Keesokan harinya wanita tadi dengan perasaan malu mendatangi Prof.Washington di kantornya dan minta maaf. “Tidak apa-apa nyonya”, jawab Professor “Ada kalanya saya menyukai pekerjaan kasar. Di samping itu sungguh menyenangkan apabila saya dapat menolong teman”. Wanita tua itu dengan hangat menjabat tangan Washington dan memberikan pujian buat perilakunya yang sangat rendah hati. Beberapa waktu kemudian wanita kulit putih itu menyatakan penghormatannya dengan ikut menjadi donateur menyumbang beribu-ribu dolar untuk Institut Tukegee. Kerendahan hati seperti itu yang dimaksud Yesus menjadi siarat mengikut Dia dalam ayat 24 kotbah Minggu ini, Matius 16: 21-28. Menurut Yesus siarat mengikuti Dia adalah menyangkal diri. Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku”. Kerendahan hati adalah dasar pengorbanan. Seseorang mampu memikul salibnya, apabila mau menyangkal diri. Menyangkal diri artinya mengosongkan diri atau merendahkan diri di hadapan Yesus. Kerendahan hati adalah bagaikan pelampung, yang menjamin seseorang akan tetap mengapung di perairan yang luas. Tidak ada gunanya menjadi sombong. Jika Tuhan memberkatimu dengan kesuksesan finansial, jangan pernah pamerkan itu dengan kepongahan dan kemewahan yang tidak perlu. Jalanilah hidup secara rendah hati dan sederhana. Inilah cara hidup yang menjamin kedamaian dan stabilitas. Mengapa orang menjadi sombong sementara semua makhluk hidup pasti akan mati cepat atau lambat? Kerendahan hati selalu menang. 
 Selamat Hari Minggu.

Minggu, 24 Agustus 2014

PARHALADO HKBP PONDOK GEDE TAHUN 2014


DAFTAR PARHALADO HKBP PONDOK GEDE RESSORT PONDOK GEDE 
DISTRIK XIX BEKASI TAHUN 2014 
NO      NAMA  PELAYAN         ALAMAT WIJK     TANGGAL LAHIR TANGGAL DITAHBIS 
1 Pdt.TP. Nababan, S.Th Perum.Taman Pondok Gede Blok H No. 1-3, P. Gede 3 28-05-1951 07-05-1978 
2 Pdt.Nikson Simangunsong, STh Jl. Pulau Pejaba No. 6 Komp. AL - Jati Makmur 1 02-11-1968 13-12-1998 
3 Pdt.Wilson Saragih, S.Th Jl. Cengkeh No.4 RT 02/02 Cipayung Jaktim 4 06-02-1978 13-08-2006 
4 St.Ardian Sirait, SKM.SH Jl. Sadewo No. 160 Dirgantara I Halim P. Kusuma 1 14-03-1954 14-12-1997 
5 St.Drs. Charles Hutagalung Jl. Kramat No. 104 RT.004/02 Lubang Buaya, JakTim 1 01-04-1957 10-04-1994 
6 St.Lawrence Siregar Gg. Sadar III No. 11 RT.006/06 Lubang Buaya, JakTim 1 24-11-1949 20-09-2009 
7 St.Marasal Sianturi Jl. Kramat No. 54 RT.004/02 Lubang Buaya, Jak.Tim 1 01-07-1959 27-06-1988 
8 St.Marintang Gaja, SPd Jl. Rawa Binong Gg. Servis RT.01/10 No. 38 L. Buaya 1 24-05-1956 20-09-2009 
9 St.Siti Mariana br. Hasibuan, SPd (Kord Wijk I)Jl.Manunggal XVII No.10RT.006/011 16-09-1957 10-04-2011 
10 St.Pangihutan Sitanggang Monumen Panca Sila Sakti No. 62 RT.01/12 LB JakTim 1 02-12-1956 20-09-2009 
11 St.Drs. Kalfin Manalu Gg. Bintang RT.01/06 No. 23 Pondok Ranggon Cipayung 2 08-05-1959 02-06-2013 
12 St.Posma br. Manalu Komp. Sinar Kasih Jl. Agape Blok B/30 2 09-07-1961 02-06-2013 
13 St.Ir. Sabren Siadari (Kord. Wijk II) Jl. Makom 25A Jatikramat 2 06-12-1967 02-06-2013 
14 Ev.St.Retia br. Manullang Jl. Raya Jatiwaringin No. 8 Pondok Gede 2 15-06-1956 12-12-1999 
15 St.Aris Marisi Napitupulu, SE Jl. Tugu Kav. 323 RT.002/04 Jatiwaringin 2 05-05-1951 
16 St.Drs. Berlin Manurung Jl. Dieng V Blok C 14 No. 16 Jatiwaringin Asri 2 05-05-1955 09-04-1995 
17 St.Drs. Mananti Amperawan Marpaung Jl. Pulau Rangas Blok C 13/12 Kompl. AL2 20-11-1966 10-11-2011 
18 St.Edison Paiaman Tambunan Komp. BDN Blok AVII No. 2 Pondok Gede 2 10-02-1950 09-04-1995 
19 St.Ir. Sahala Sianturi, MM Komp. AL Jatimakmur Permai Blok DI/4 Pondok Gede2 08-12-1959 10-06-2007
20 St.Oloan Tua Panahatan Sianipar Komp. Muda Parsi No. 21 RT.02/05 Jatimakmur 2 28-10-1965 10-04-2011
21 St.Rein Charles Hutasoit, SE Jl. Bontang III No. 63 Jatiwaringin 2 14-01-1955 10-04-2011 
22 St.Parningotan Hotmanimbang Hutajulu Jl. Pintu Air RT.06/11 No. 45 Pondok Melati3 25-11-1968 02-06-2013
23 St.Robson Adi Person Siagian Pura Melati Blok D No. 7 Jatirahayu Pondok Melati3 03-04-1966 02-06-2013 
24 St.Barman Boromeus Lumbanraja Jl. Melati XI Blok M No. 15 RT.002/20 Pura Melati3 20-03-1957 10-04-2011 
25 St.Drs. Busmin Butarbutar Jl. Gotong Royong No.80RT.11/18 Bulak Poncol Jtrahayu3 02-02-1952 28-12-2003 
26 St.Lamsar Purba (Kord. Wijk III) Kusumah Indah No. 23 RT.01/05 Pondok Gede3 06-05-1954 09-04-1995
27 St.Robert Manuala Sirait Jl. H. Harun I No. 53 RT.008/010 P. Melati 3 17-06-1956 10-06-2007 
28 St.Saut Costan M. Nainggolan, SH Jl. Tomohon No. 77 Kusumah Indah Pondok Gede3 24-11-1951 18-05-1980 
29 St.Charles Manullang, SE Jl. Abadi III/FF No. 11, Kompl. Bukit Kencana II 4 02-08-1964 02-06-2013 
30 St.Demak Bonar Perjuangan Simanjuntak Jl. Chandra 3 Blok C.67 4 18-03-1961 02-06-2013 
31 Ev.St.Drs. Midian Simbolon Jl. Siliwangi Raya A No. 77 Chandra Baru P. Melati4 23-05-1952 09-04-1995 
32 St.Abidan Pendidikan Sianipar, SE Jl. Bhakti No. 68 Jatirahayu Pondok Melati4 02-05-1963 24-06-2012 
33 St.Bismen Tua Nainggolan, SH Komp. TVRI Blok E2 No. 15 Poris Pd. Melati 4 16-10-1950 09-04-1995 
34 St.Hery Waldypar Marbun Jl. Siliwangi X B.74 Chandra Baru Pondok Gede 4 07-05-1957 27-04-2003
35 St.Iriaman Sahat Situmorang, SE Jl. AL Amin No.145 RT.008/015 Jatirahayu P. Melati 4 01-10-1962 20-09-2009 
36 St.Karbudin Sitorus (pel. Kord. Wijk IV) Jl. Jawa Blok E No. 19 Chandra Lama4 13-05-1953 10-06-2007
37 St.Maruli Harapan Sinaga Jl. Bahagia V No. L.15 Bukit Kencana 4 06-02-1952 28-12-2003 
38 St.Syarifuddin Parhusip, SE Jl. Bulak Tinggi I No. 41 RT.10/016 Jatirahayu 4 03-03-1956 28-12-2003 39 St.Timbul Siringoringo Jl. Sulawesi No. 01 Chandra Lama Pondok Gede 4 20-03-1960 27-04-2003 
40 St.Edward Sihotang Jl. Raya Hankam Gg. BB RT.007/05 No. 32 5 04-03-1976 02-06-2013 
41 St.Simpan Silitonga, SE Perum. Pondok Melati Indah Jl. Rinjani Blok A2/6 Jtw 5 27-12-1956 17-06-2012 
42 St.Ir. Gustaf A. Simanjuntak Jatimurni Blok X No. 2 Pondok Gede 5 29-11-1951 12-12-1999 
43 St.Rosmawaty Siregar br. Silali Jl. Rawa Bacang No. 136 RT.01/013 Jatiwarna 5 11-08-1957 10-07-2011  
44 St.Sahat Hamonangan Sirait, SE Jl. Rambutan No. 44 RT.02/03 Jatimurni Pondok Melati5 14-04-1954 12-12-1999 
45 St.Tigor Simanjuntak Pedurenan No. 87 RT.06/03 Kel. Jatiluhur Jatiasih 5 21-08-1957 10-07-2007 
46 St.Uba Anthony Sitanggang Jl. Alam Raya II Blok EI No.9 Puri Gading Jati Melati5 28-08-1953 12-12-1999 
47 St.Zakeus Saragih Napitu (Kord. Wijk V) Wisma Melati No. 45 RT.002/09 Jatiwarna 5 09-05-1957 10-04-2011
48 St.Ardian Barisan Situmorang Jl. Gamprit I No. 73 RT.03/14 Jatiwaringin P. Gede 6 07-05-1951 27-04-2003 
49 St.Drs. Amir Tampubolon, SE.Akt Jl. Klayan Blok E No. 16 Perum.Asri Jatiwaringin P.Gd6 25-05-1956 28-12-2003 
50 St.Ir. Frans Edward Pakpahan Jl. Setia I No. 51 RT.04/010 Jatiwaringin Pondok Gede6 14-12-1954 12-12-1999 
51 St.Pardomuan Alexyus Samosir, SH Jl. Setia I No. 50 RT.003/017 Jatiwaringin 6 17-07-1963 10-04-2011 
52 St.Jony Marpaung (Kord. Wijk VI) Jl. Musolah No54RT.03/011 Jatiwaringin P.Gede6 15-01-1958 27-04-2003 
53 Ruas Drs. Frans M. Manurung Jl. Tembuni BII/12 Jati Makmur 2 22-09-1955 26-08-1957 Koinonia 
54 Ruas Bangsu Edison P. Panggabean Jln. Setia II RT 11/04 Jatiwaringin 6 31-01-1955 26-06-1961 Marturia

RENUNGAN MINGGU X TRINITATIS Roma 12: 1-8

RENUNGAN MINGGU X TRINITATIS 
Roma 12: 1-8

Dalam buku “Lentera Surgawi” Pdt.Ishak Sugianto bercerita: Ada suatu cerita tentang setan yang sedang berdiri dengan santainya di luar sebuah gereja yang penuh sesak dengan jemaat yang sedang beribadah kepada Tuhan. Lalu ada seorang pengembara lewat di depan gereja itu dan melihat setan tersebut. Pengembara bertanya, “Hai setan, apakah engkau tidak merasa gelisah melihat begitu banyak orang sedang beribadah kepada Tuhan di dalam gereja?. Bukankah dengan banyaknya orang yang beribadah digereja itu berarti kekuasaanmu atas diri mereka akan hilang?” Si Setan tersenyum licik dan menjawab: “Ah, aku sama sekali tidak gelisah, orang-orang yang beribadah di dalam gereja hanya dua jam saja berada di sana. Di antara mereka yang duduk dalam kebaktian ada yang tidak memuji Tuhan. Di antara mereka yang duduk di dalam kebaktian ada yang main game di android, membuat sms gelap dengan kata-kata kotor; bukan memuji Tuhan. Sebentar lagi mereka akan keluar di gereja, dan pada saat itulah aku akan menerkam dan menguasai hidup mereka lagi. Orang-orang itu hanya menjadi Kristen hari Minggu saja, seterusnya mereka jadi milikku dan bukan menjadi milik Kristus”. Apa yang diungkapkan dalam cerita ini mengandung kebenaran yang dalam. Banyak orang Kristen yang berbakti dan beribadah hanya secara lahiriah belaka, batin dan hatinya masih tetap jauh dari Tuhan. Inilah yang terjadi pada zaman nabi Yesaya. Bangsa Israel beribadah dengan baik sekali, termasuk merayakan hari-hari raya dengan semarak, tetapi tetap bergelimang dalam dosa-dosa mereka. Beribadah tetap jalan, tetapi tetap berbuat dosa (Yesaya 1:10-18). Inilah hal yang sangat memprihatinkan yang terjadi pada zaman jemaat mula-mula di Roma, dan juga dapat terjadi pada zaman sekarang. Jemaat di Roma rajin beribadah, tetapi tubuh mereka masih terikat pada keinginan tubuh, yang bertentangan dengan Kehendak Tuhan. Itu sebabnya Paulus berkata dalam Roma 12, 1, kotbah minggu ini: “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati”. Ibadah yang benar di gereja pada hari Minggu harus merupakan Training Centre, di mana seorang atlet dilatih dan digembleng sedemikian rupa. Lalu, dilepas untuk bertanding dalam pertandingan yang penting, di mana ia harus mempraktekkan semua yang diperoleh di Training Centre. Ibadah di gereja pada hari Minggu harus merupakan Training Centre. Dengan demikian ada kesinambungan antara ibadah Minggu dengan kehidupan seharihari. Itulah ibadah yang sejati. 
Selamat Hari Minggu.

Rabu, 20 Agustus 2014

RENUNGAN MINGGU IX TRINITATIS Mazmur 67: 2-8

RENUNGAN MINGGU IX TRINITATIS 
Mazmur 67: 2-8 

Pada tahun enampuluhan, ketika pemberontakan PRRI terjadi di negara kita, seorang Asisten Wedana Kecamatan di Tapanuli berkunjung ke wilayah kecamatan yang dipimpinnya. Di sebuah lapangan bola, masyarakat berkumpul menyambut Kepala Kecamatan mereka. Setelah Asisten Wedana menyampaikan wejangannya, supaya rakyat jangan mau dihasut memberontak kepada Pemerintah Pusat”. Kemudian dalam acara tanya jawab, seorang orang tua bertanya, “Amang Asisten Wedana. Sadia leleng nai hita na mardeka on?” (Berapa lama lagi kita yang merdeka ini). “Kita sudah merdeka amang”, jawab Asisten Wedana. Setelah melalui perdebatan yang panjang antara Asisten Wedana dengan orangtua yang berusia 65 tahun itu, ternyata pengertian orangtua tersebut dengan merdeka adalah perang. Dia memahami merdeka adalah perang, karena sejak dia mendengar kata merdeka Agustus 1945, suara bedil tidak pernah berhenti sampai waktu kedatangan Asisten Wedana ke daerahnya. Sehingga menurut dia, merdeka adalah perang, merdeka adalah ketakutan. Jam malam diberlakukan. Pemberontak merampas harta penduduk, beras dan sandang susah didapat, makan jagung, situasi mencekam dan menakutkan. Kemiskinan terasa dimana-mana. Artinya orangtua itu belum mengalami kebebasan. Itu sebabnya dia bertanya, “Sadia leleng nai hita na mardeka on?” (Berapa lama lagi kita yang merdeka ini). Dia belum merasakan kebebasan. Boleh saja perasaan seperti itu, ada ketika bangsa kita sudah 69 tahun merdeka. Kemerdekaan itu belum dirasakan semua bangsa Indonesia. Di daerah tertentu, hak beribadah dan mendirikan gereja dilarang. Pendidikan dan penanganan kesehatan hanya dinikmati di kota. Masih banyak daerah yang belum menikmati cahaya listrik dan air minum. Papua masih belum merasakan kemerdekaan itu; harga premium di Jakarta Rp.6.500, namun di Papua harga 1 liter premium Rp.30.000, bahkan lebih. Hari ini kita bersyukur karena bangsa kita dibebaskan Tuhan dari penjajah. Dari kacamata iman Kristen, kemedekaan itu adalah anugerah Tuhan, bukan karena perjuangan bangsa kita. Itu sebabnya, kotbah hari Minggu ini, Mazmur 67: 2-8 mengajak bangsa kita untuk bersyukur kepadaNya, karena Dia yang membebaskan bangsa kita, 69 tahun lalu. Rasa syukur kita kepadaNya, karena kemerdekaan itu, kita perlihatkan dalam persatuan. Bersatu dalam keberagaman; bersatu dalam kepelbagaian (pluralisme). Tuhan menciptakan kita dalam keberagaman dan perbedaan, supaya dengan perbedaan itu kita boleh saling melengkapi. Perbedaan itu bukan untuk pertentangan, tetapi untuk saling melengkapi. Hari ini kita merayakan hari kebebebasan bangsa kita dari kuasa penjajah. Rasa syukur kita atas kebebasan itu harus kita perlihatkan dengan kehidupan yang rukuan dan damai. Mengingat 350 tahun bangsa kita dijajah, 346,5 oleh Belanda dan 3,5 dijajah Jepang, boleh saja kita dipancing untuk tidak senang kepada Belanda dan Jepang karena mereka menindas bangsa kita. Apabila kita tidak senang kepada mereka karena penindasan, kita pun harus menjauhkan diri dari penindasan terhadap sesama kita. Adalah penjajahan dan penindasan apabila kita membatasi kebebasan kelompok lemah dan minoritas. Adalah penindasan apabila aspirasi golongan lemah tidak dihiraukan pemerintah dan penguasa. Pada masa Orde Baru, tidak dimasalahkan apabila orang Batak menjadi Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) di Jawa Barat, atau Sulawesi Selatan. Dengan adanya UU Otonomi Daerah, menjadi masalah apabila orang Batak menjadi Kepala Dinas di Kalimantan atau Sulawesi. Ternyata kemerdekaan itu belum hak segala bangsa. Setiap bangsa kita berkumpul di tanah lapang untuk merayakan hari kemerdekaan Negara Republik Indonesia, selalu berkumandang kata-kata “Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh” dan “Bhinneka Tunggal Ika". Kata-kata itu sengaja diungkapkan dalam perayaan hari kemerdekaan negara kita, untuk mengingatkan bangsa Indonesia bahwa persatuan adalah modal membangun negara untuk mewujudkan kemerdekaan bangsa kita. Persatuan itu terwujud, apabila kita rendah hati bersyukur kepada Tuhan, apabila kita melakukan revolusi mental. 
Selamat Hari Minggu. 
Selamat Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Merdeka.

Jumat, 08 Agustus 2014

RENUNGAN MINGGU VIII TRINITATIS Matius 14: 22-33

RENUNGAN MINGGU VIII TRINITATIS 
Matius 14: 22-33 

Satu waktu, di museum Inggeris London dipamerkan satu peta yang dilukis pada tahun 1525. Dalam peta itu digambarkan perjalanan seorang pensiunan marinir di pantai Amerika Utara dan pantai, daerah di sekitarnya. Di bawah peta pantai dan daerah yang belum sempat dijalani marinir itu, ditulisnya, “Di sini mungkin ada raksasa”; “Di sini mungkin ada kalajengking ganas”; “Di sini barangkali ada naga”. Pada tahun 1800-an, setelah ratusan tahun peta itu dilukis, John Franklin dari Inggeris, seorang penjelajah dunia membeli peta itu. John Franklin menghapus catatan marinir tua itu, catatan yang menakutkan pembaca, lalu diganti dengan perkataan, “Di sini ada Tuhan”; Di situ ada Tuhan”; “Di sana ada Tuhan”. Orang Kristen sering ketakutan seperti marinir tua itu, ketakutan terhadap sesuatu bayangan yang belum jelas wujudnya, ketakutan terhadap sesuatu yang tidak beralasan. Berlapis ketakutan yang membayangi hidup kita: Kita senang, apabila anak kita sudah menjadi remaja dan dewasa, namun di balik kesenangan itu hati kita merasa waswas, apabila mereka telat pulang dari sekolah atau dari kebaktian di gereja, apalagi apabila mereka larut malam pulang ke rumah. Kita senang menduduki jabatan dan posisi dalam pekerjaan, namun di balik itu kita cemas dan takut, karena dibayang-bayangi penggantian atau digeser dari jabatan itu. Kita senang apabila petang dan malam tiba, namun karena kegelapan malam kita dibayang-bayangi kejahatan. Kita senang memiliki harta dan benda, namun kita merasa takut kehilangan itu. Kita berbahagia berumah tangga, namun kita ketakutan terjadi perselingkuhan. Kita senang memiliki rumah Tuhan (gereja), namun di gereja kita dibayangi ketakutan pekerjaan iblis dan perbuatan kemunafikan. Hati kita selalu dibayangi ketakutan, seperti catatan marinir tua itu, “D isini mungkin ada raksasa”; “Di sini mungkin ada kalajengking ganas”; “Di sini barangkali ada naga”. Bersama masyarakat Indonesia, kita bersyukur karena KPU (Komisi Pemilihan Umum) sudah mengumumkan Presiden terpilih, namun kita dibayangi ketakutan karena ada pernyataan yang memancing keributan karena kemenangan Presiden terpilih tersebut. Hati kita senang dengan terpilihnya Presiden yang baru, namun negara kita bersama dunia menjadi takut dengan issu dan gerakan ISIS (Islamic State in Iraq and Syria), satu gerakan dan organisasi radikal yang menggunakan kekerasan demi memperjuangkan gagasannya. Namun kotbah minggu ini, Matius 14:22-33, menyampaikan “Tenanglah. Ini Aku Jangan takut”. Ketika perahu para muridNya diombang-ambingkan gelombang, para murid ketakutan. Yesus yang berjalan di atas air, yang hendak menolong mereka, bukan menghilangkan ketakutan, bahkan mereka mengira Yesus, Penyelamat itu sebagai hantu. Demikian sering hidup kita, karena ketakutan, Firman Tuhan tidak berkuasa di hati kita. Untuk ketakutan itu, Tuhan berfirman, “Tenanglah. Ini Aku. Jangan Takut”. 
Selamat Hari Minggu.

Senin, 04 Agustus 2014

RENUNGAN MINGGU VII TRINITATIS Yesaya 55: 1-5

RENUNGAN MINGGU VII TRINITATIS 
Yesaya 55: 1-5

Konon bertahta di Inggris seorang ratu yang bernama Viktoria. Beliau sangat ternama dan dicintai rakyatnya. Di pinggiran kota, hidup seorang ibu dan anaknya yang berusia 12 tahun. Dari ibunya, anak tersebut sering mendengar kisah tentang ratu yang baik hati itu. Timbul dari lubuk hati yang kecil ini kerinduan untuk bertemu dengan sang ratu. Pada suatu hari ia memberanikan diri datang ke istana untuk bertemu dengan ratu. Di pintu gerbang istana, ia ditanya oleh penjaga yang bertubuh tinggi besar, katanya, “Hai!, adik kecil, mau kemana kamu?”.”Saya mau bertemu ratu!”, jawabnya dengan berani. Penjaga itu menjelaskan bahwa ratu tidak boleh sembarangan dikunjungi oleh orang biasa. Alangkah sedih dan kecewanya anak itu, tidak bisa bertemu dengan ratu yang dirindukannya itu. Ia hanya bisa menangis di luar pintu gerbang istana. Sewaktu ia menangis dengan sedihnya, tiba-tiba ia mendengar suara lembut menegurnya: “Adik kecil, mengapa engkau bersedih?”. Tergetar hatinya mendengar suara lembut itu. Dengan cepat ia mengangkat kepala untuk melihat orang yang menegurnya itu. Di depannya berdiri seorang pemuda yang cakap, berwibawa tapi lemah-lembut. Dengan tersedu-sedu si anak menceritakan maksudnya untuk bertemu dengan ratu, tapi dihalangi oleh penjaga pintu. “Jangan bersedih, ikutilah aku! engkau akan bertemu dengan ratu”, katanya menghibur. Anak ini lalu mengikuti pemuda cakap ini mendekati pintu gerbang istana. Dengan takut-takut ia melihat kepada penjaga pintu yang bertubuh tinggi besar itu. Eh…. sungguh heran, penjaga itu tidak menghalangi ia masuk istana. Wah! alangkah indahnya istana ratu itu, tamannya dipenuhi dengan bunga yang berwarna-warni. Burung-burung dengan bebasnya terbang kesana-kemari. Oh! alangkah senang dan bahagia hatinya dapat masuk ke istana. Sesampainya di hadapan ratu, maka pemuda ini berkata, “Ibunda ratu, di sini ada seorang anak ingin bertemu denganmu”. Apa yang didengarnya selama ini tentang ratu, memang tidak salah. Sungguh baik dan ramah sekali ratu terhadapnya dan ia mendapat banyak sekali anugerah dari sang ratu. dengan perasaan senang dan puas ia meninggalkan istana. Seumur hidupnya, ia tidak akan melupakan pengalamannya ini. Siapakah pemuda yang membawa masuk anak ini ke istana? Wah! Nyatanya, pemuda ini tidak lain tidak bukan adalah putera mahkota Kerajaan Inggris yang kemudian menjadi raja yang terkenal dengan nama Edward VII. Demikian halnya manusia, kita tidak dapat mendekati tahta Kerajaan Allah, karena Allah Mahasuci, sedangkan kita manusia adalah najis dan kotor karena dosa. Tetapi Tuhan Yesus Kristus, yang telah mati di salib untuk menebus dosa-dosa kita. Sehingga kita yang percaya kepada Yesus mendapat keampunan dosa. Melalui Yesus sebagai pengantara kita, maka dengan bebas tanpa takut kita dapat mendekati tahta Allah. Hal itu yang dinubuatkan Jesaya dalam nats kotbah Minggu ini, “Ayo, hai semua orang yang haus, marilah dan minumlah air, dan hai orang yang tidak mempunyai uang, marilah! Terimalah gandum tanpa uang pembeli dan makanlah, juga anggur dan susu tanpa bayaran! Sendengkanlah telingamu dan datanglah kepada-Ku; dengarkanlah, maka kamu akan hidup! Aku hendak mengikat perjanjian abadi dengan kamu, menurut kasih setia yang teguh yang Kujanjikan kepada Daud, Yes.55:1+3. 
 Selamat Hari Minggu

RENUNGAN MINGGU ADVENT I 28 NOVEMBER 2021

MENYAMBUT KEDATANGAN TUHAN DALAM KEKUDUSAN (1 Tesalonika 3: 9-13) Surat ini ditujukan kepada komunitas pengikut Kristus di Tesalonika. L...