Rabu, 29 Januari 2020

RENUNGAN MINGGU IV SETELAH EPIPHANIAS, 2 FEBRUARI 2020

Orang Yang Berbahagia 

Menurut Yesus

(Matius 5:1-12)




Boleh jadi orang berbeda-beda pemahaman akan sebuah kata “berbahagia”. Orang yang bagaimanakah yang pantas disebutkan sebagai orang yang berbahagia? Ada yang mengatakan jikalau ia memiliki harta yang bayak, jabatan tinggi, memiliki kekuasaan; yang dapat menikmati segalanya dalam kehidupannya, dan yang dapat melakukan segala sesuatu apa yang dia suka (hidup yang bebas hambatan?). Dalam pemahaman orang Batak dulu, seseorang yang berbahagia adalah mereka yang memiliki keturunan yang banyak, memiliki harta kekayaan dan memiliki jabatan/kekuasaan (Hamoraon; Hagabeon; Hasangapon). Atau boleh jadi kebahagiaan itu diukur dengan sejauh mana seseorang itu dapat menikmati kehidupannya dengan baik, berkecukupan.

Berbeda dengan pemahaman pola berfikir kita memahami nilai sebuah kebahagiaan; Tuhan Yesus mengingatkan kita bahwa kebahagiaan sejati adalah merupakan pemberian Tuhan kepada mereka yang hidupnya didasarkan pada kebaikan, kemurahan, kebenaran dan kasih Tuhan; jadi tidak diukur dengan harta/kesenangan/kepuasan duniawi. Kebahagiaan yang sesungguhnya dapat kita miliki jikalau kehidupan kita awali dengan sebuah pertobatan, dan hidupnya berorientasi pada hal-hal yang dapat menyenangkan hati Tuhan; atau jikalau seseorang itu memfokuskan seluruh kehidupannya kepada Allah. Artinya bagaimana kehidupan kita awali dengan pertobatan, di mana kita berusaha meninggalkan pola hidup, pola pikir lama, kebiasaan dan budaya yang salah. Lahirnya kesadaran moral dan spiritualitas kita akan makna hidup, akan membawa kita semakin menyadari betapa miskinnya kita di hadapan Tuhan; betapa kita belum memiliki nilai tambah bagi kehidupan sekitar kita.

Yang berbahagia di hadapan Tuhan adalah mereka yang mampu menguasai diri/keinginan duniawi, tetapi mau melangkah kepada sebuah pengorbanan akan kebenaran, kasih, kejujuran, kebenaran, kesucian dan keadilan yang diwujudkan dalam tindakan nyata, bukan dalam rutinitas seremonial keagamaan belaka. Tetapi juga mereka yang tahan uji, yang mau menderita oleh karena kebenaran yang dia lakukan, yang mampu menolong orang lain bangkit kembali dari keterpurukannya untuk melangkah maju dalam iman dan pengharapannya; yang mampu membawa dan menciptakan perdamaian dan kedamaian bagi dunia dan sesamanya; yang setia akan firman Tuhan walaupun harus mengalami banyak penderitaan; artinya bagaimana seseorang itu mampu menjadi berkat bagi orang lain/ciptaan lainnya dan inilah kebahagiaan surgawi yang memiliki karakteristik memberi perhatian sepenuhnya terhadap mereka yang membutuhkannya.

Jikalau dunia ini merasa berbahagia saat kepentingannya terpuaskan waklaupun harus banyak orang yang teraniaya; sebaliknya kebahagiaan sorgawi adalah meliputi kemampuan seseorang/tekad dan keinginan seseorang untuk terus-menerus disucikan; berusaha berbuat kebaikan, menghadirkan sejahtera bagi semua orang dan mereka yang tidak pernah mengeluh, putus asa walaupun harus menderita oleh karena imannya akan Tuhan Yesus. Berbahagialah sebab upahmu besar di surga kelak. Amin. Selamat hari Minggu. (HS).

Rabu, 22 Januari 2020

RENUNGAN MINGGU III SETELAH EPIPHANIAS, 26 JANUARI 2020

AMAN 

DALAM PERLINDUNGAN ALLAH


(Mazmur 27: 1-6)






Pada tanggal 4 Agustus 2019 sekitar pukul 11.50 WIB tahun lalu di Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan Jawa Tengah listrik padam. Kejadian itu diduga disebabkan pohon yang terlalu tinggi hingga mengganggu jaringan listrik pada sisi transmisi Ungaran dan Pemalang 500 kV. Gangguan tersebut mengakibatkan transfer energi dari timur ke barat gagal. Hampir separuh Pulau Jawa mengalami dampaknya. Masyarakat dibuat kelimpungan dengan padamnya listrik. Para pengusaha, baik besar atau kecil hingga moda transportasi merugi. Mereka yang sehari-hari bergantung pada listrik terpaksa menghentikan kegiatannya. Berikut 5 dampak yang dirasakan akibat mati lampu di Jakarta dihimpun Liputan6.com: (1) Ketakutan hingga Sinyal Susah (2) Pedagang Ikan Hias Merugi (3) Polri Jaga Objek Vital (4) Banyak Kebakaran (5) Penumpang KRL Begadang di Stasiun. Arus Listrik yang adalah buatan manusia, yang digunakan mengaliri kabel dan menghasilkan energi salah satunya energi cahaya. Ketika pasokan arus listriknya terputus, mengakibatkan kepanikan ancaman dan kerugian yang luar biasa.

Bagaimana dan apa yang terjadi,  jika terang dan keselamatan Tuhan padam atau terputus?

M
enurut Alkitab Daud adalah orang yang sangat kuat, mampu, dan sukses. Kecakapan fisiknya dibanding saudara-saudaranya, ia anggap berasal dari Tuhan (1 Sam. 16). Dengan bantuan Tuhan dia membunuh singa dan beruang, dan berani membunuh Goliat. Tuhanlah yang membuat kakinya seperti kaki kuda, dan memungkinkannya untuk melompati tembok benteng gunung. Dia mengaku bahwa sumber kebaikan dalam jiwanya dari Tuhan.  Daud adalah orang yang beriman, bernyanyi dan berdoa. Dan inilah yang menopangnya dalam setiap masalah, dan memberikan semangat, antusiasme dan kemenangan. Dia memiliki keyakinan kuat bahwa Allah adalah pembebas dari semua yang percaya kepada-Nya. Dan iman yang sama inilah yang memberi penyesalannya akan dosa yang dilakukannya terhadap Uria. (2 Sam. 11). Dia percaya Tuhan Maha pengampun, meskipun dia tahu dia harus mendapat hukuman. Tetapi ia benar-benar mempercayai Tuhan, dan yakin bahwa Tuhan akan memulihkannya untuk kebaikan sehingga mengembalikannya untuk berguna. Tertuang dalam Mazmurnya: “TUHAN adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? TUHAN adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar?” (ay.1). Sungguh, Daud dengan kecakapan yang sedemikian mengandalkan Tuhan, bagaimana dengan Anda?

Terang bola lampu karena aliran listrik sangat kita butuhkan, terang sinar Matahari juga sangat kita butuhkan. Terang Tuhan jauh melebihi semua itu, Dialah keselamatan melalui Yesus Kristus yang adalah terang dunia. Sebagaimana Daud, kita juga aman dalam perlindungan-Nya.


Doa:

Kami memuji dan bersyukur kepada-Mu ya Tuhan, Yesus Kristus adalah Terang dunia yang menuntun menyelamatkan orang yang berdosa! Amin. Selamat hari Minggu!(NS).

PENELAAHAN ALKITAB SEKSI REMAJA DI AWAL TAHUN 2020

PENELAAHAN ALKITAB (PA) SEKSI REMAJA
HKBP PONDOK GEDE RESORT PONDOK GEDE
“BERGEREJA DAN BERBUSANA
(Yakobus 1: 14-15)
Tempat:
Rumah Pdt. Nikson Simangunsong boru Silitonga (Rachel)
Jl. Bougenvikke 2 No. 3 Perum. BKKBN Jati Waringin
Jumat, 17 Januari 2020 Pukul 19.00 WIB











1.  Bernyanyi BN. HKBP No. 3: 1 Puji Hai Jiwaku Puji Tuhan BL. 137 As=Do
     (Bernyanyi dipandu: Gabriel Rajagukguk
      Gitaris : Yuda + Timoty
      Kajon: Doni)

Puji hai jiwaku, puji Tuhan’ pujilah Allahmu s’lamanya
Sebelum berakhir kehidupan, syukuri semua anugrah-Nya
Dia khalik alam semesta, semua memuji nama-Nya
Haleluya! Haleluya!

2.  AGENDA (St. Esteria br. Berutu, S.Pd)

3.  Bernyanyi BN. HKBP No. 18: 2 Bukalah pintu gerbang-Nya BL.84  C=Do

2. Aku datang ya Tuhanku, lihat akau hamba-Mu
Dalam rumah-Mu Tuhanku, kami t’rima berkat-Mu
Tinggallah di hatiku, jadi rumah bagimu

4. Pembacaan Nats: Yakobus 1: 14-15; 2: 26 (P: Pemimpin – R: Remaja)
     (Membaca Nas: Timoty Sianipar)

P:   Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya.

R:  Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut.

P:   Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.


5.  Penjelasan
BERGEREJA 

DAN 

BERBUSANA


Dalam kehidupan bergereja kita memerlukan etika, karena etika membantu kita memantapkan dasar iman, serta membantu agar tidak menutup diri dalam menghadapi dimensi masyarakat (individu lain) dengan segala kompleksitasnya. Intinya dalam setiap berperilaku kita hendaknya mengedepankan etika dan moral, karena menurut Alkitab iman tanpa perbuatan adalah mati. (Yak. 2: 26).
Pakaian adalah hasil karya manusia. Manusia mendapat pengetahuan untuk membuat pakaian karena Allah mengajarkannya (Kej. 3: 21). Jenis-jenis pakaian saat ini, yang indah, seksi, sopan, nyaman serta apapun sebutannya adalah bagian dari aktualisasi diri yang menyatakan keberadaan manusia sebagaimana dia ada dalam pengaruh modernisasi dan perubahan sosial. Dan, control iman serta kenyataan Alkitabiah adalah suatu hal yang penting, karena iman menuntun pengetahuan; Pengetahuan membawa iman pada kenyataan. Alkitab memberi jalan untuk menyadari bahwa potensi diri yang disebut kehendak hatilah penentu aksi dan reaksi dalam suatu lingkungan sosial, maka jagalah keinginan hati.

“Pantaskah Berpakaian Mini dan Seksi di Gereja?”

Suatu pertanyaan yang singkat namun memiliki makna mendalam ketika diperhadapkan dengan konsep religius. Sesungguhnya cara berpakaian seseorang adalah hak mutlak orang itu sendiri, merupakan kebebasan dan bagian dari aktualisasi diri. Akan tetapi ketika diperhadapkan dengan etika sosial dan standar religius, maka cara berpakaian menjadi satu bagian penilaian yang menggambarkan keadaan atau status maupun tingkat penghargaan diri orang lain terhadap yang bersangkutan dalam suatu lingkungan pergaulan sosial.
Dari penelusuran ayat-ayat Alkitab secara elektronik (LAI); ditemukan paling tidak ada 5 (lima) konsep pakaian dalam Alkitab:
1.    Pakaian adalah pelindung badan dan penutup tubuh;
2.    Pakaian adalah tanda pengenal-bagian dari jati diri;
3.    Pakaian adalah tanda kebesaran;
4.    Pakaian adalah simbol keadaan diri secara utuh;
5.    Pakaian adalah simbol hak azasi seseorang.

Dari kelima konsep di atas serta paparannya mengenai peradaban berpakaian bangsa Israel terlihat bahwa konsep berpakaian mengalami perubahan secara dinamis, dari yang sederhana menuju hal yang lebih kompleks sesuai masanya. Dari “ketelanjangan” menuju “ketertutupan”.
Ketika diperhadapkan dengan konteks masa kini, di saat timbul wacana tentang cara berpakaian yang seksi, mini dan terbuka, tentunya menimbulkan suatu keadaan sungsang dalam peradaban berpakaian. Karena dalam perjalanan sejarah Alkitab prosesnya dimulai dari “ketelanjangan menuju ketertutupan”, namun yang terjadi kini menyatakan bahwa telah terjadi proses menuju “ketelanjangan”.  Akan tetapi dengan satu catatan bahwa ternyata, proses “ketelanjangan” menuju “ketertutupan” lalu “ketertutupan” menuju “ketelanjangan” itu berjalan secara simpang siur, artinya perjalanannya tidak seperti suatu proses garis lurus-linear, melainkan berjalan secara turun-naik, bolak-balik-sirkular.
Ketika dikaitkan dengan kelayakan seseorang datang beribadah dari cara berpakaian, berdasarkan penelusuran terhadap ayat-ayat Alkitab, hal tersebut tidak ditemukan secara lugas. Namun secara tersirat ada satu ayat yang dengan arif dan tegas mengatakan bahwa beribadah kepada Allah harus menurut cara yang berkenan kepada-Nya, yaitu dengan hormat dan takut (Ibr. 12: 28). Dalam hal ini Allah lebih melihat hati manusia yang datang kepada-Nya untuk beribadah karena Allah adalah Roh (Yoh. 3: 23-24). Kalimat hormat dan takut ini lebih mengarah kepada persepsi pribadi secara subjektif dan terlepas dari cara berpakaian. Ditambah lagi dalam ayat lain bahwa Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya (Yak. 1: 26). Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang (Mark. 7: 23).
Dalam kitab Markus 7: 23, bahwa hal jahat pertama-tama timbul dari dalam hati dan menajiskan orang; Maka ketika seseorang berpakaian dengan alasan untuk menarik perhatian orang lain dengan cara “mengeksploitasi” bagian tubuhnya, apalagi ketika beribadah maka hal itu adalah sebuah perbuatan dosa. Demikian pula dengan kenyataan bahwa mungkin ia berpakaian yang tidak terbuka; “tertutup” dan “tidak mengumbar nafsu” tetapi menonjolkan kesombongan, pun sebuah perbuatan dosa. Inilah sebuah realita etis Alkitab yang menegaskan bahwa sangat tipis batasan antara perbuatan dosa dan yang bukan perbuatan dosa, batasannya berasal dari hati. Pantas tidaknya seseorang menggunakan pakaian itu tergantung dari “rasa” si pemakai dan pengetahuan si pemakai, etika bersosial, kebenaran kolektif dari lingkungan di mana individu berada serta situasi lingkungan secara alamiah.
Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut. (Yakobus 1: 14-15).  

6. Diskusi (Dipimpin Cindy br. Marpaung)

6.1. Bagaimana Pendapatmu dengan topik bahasan kita awal tahun ini?

6.2. Apa yang harus kamu lakukan sekarang sebagai remaja Kristen yang setiap hari harus berdandan rapi ala Alkitab?


7.  Bernyanyi BN. HKBP No. 25: 1 Firman-Mu Tuhan Allahku BL.181 Es=Do

Firman-Mu Tuhan Allahku, tak ternilai bagiku.
Kujadikan peganganku, di tiap langkah hidupku.
Kalau bukan Firman Tuhan, dasar iman umat-Mu.
Apakah dasar yang kuat, selain firman Tuhanku.

8. Doa Syafaat (Pdt. Nikson Simangunsong)

9. Bernyanyi BN. HKBP No. 15: 1-2 Andai ‘ku punya suara indah BL.103 F=Do (Persembahan)

   (Petugas: Seren br. Sihite)

Andai ‘ku punya suara indah, seribukali suaraku.
Aku bermazmur sangat indah, dari seluruh jiwaku.
Hatiku sangat bergemar, memuji karya cipta-Mu.

            Andaikan suaraku menjangkau semua alam ciptaan-Mu.
            Akan ‘ku ajak semua makhluk nyanyikan kidung bagi-Mu.
            Hendaklah jiwa ragaku, memuji Tuhan Allahku.

10. Doa Bapa Kami – Berkat

Jumat, 17 Januari 2020

ACARA PAMASUMASUON PABAGASHON IMANUEL NATANAEL RICARDO MANURUNG DOHOT PRINCESA SOFIA BORU SITANGGANG




ACARA PAMASUMASUON PABAGASHON

IMANUEL NATANAEL RICARDO MANURUNG 

DOHOT

 PRINCESA SOFIA BORU SITANGGANG


Sabtu, 18 Januari 2020 Pukul 09.00 WIB







I.   Pra Ibadah

1.   Mangarade di Bilut Parhobasan (Calon Pangoli Oroan, Natoras, Parhalado rap martangiang)

2.       Calon Pangoli Oroan dohot keluarga udur tu gereja (diiringi musik angonangon)

II.   I b a d a h

1.  Marende BE. No. 6: 1+4
Puji Jahowa na Sangap  BL. 56 C=Do

1.    Puji Jahowa na sangap huhut marmulia,
       Hamu sudena parroha na ringgas na ria,
       Marpungu be, marolopolop sude.
       Hamu sude manisia.

(Jongjong)

4.      Puji Jahowa situmpak sude ulaonmu
Ai ditumpakhon tu ho tongtong hangoluanmu
Ingot ma i, denggan basa-Na do i.
Tomutomu-Na sambing do.






2.   Votum – Introitus -Tangiang
 (P: Paragenda - R= Ruas)

P:       Marhitehite Goar ni Debata Ama dohot Goar ni Anak-Na Tuhan Jesus Kristus dohot Goar ni Tondi Parbadia.

R:      Amen.

P:       Puji hamu ma Jahowa, baritahon hamu ma Goar-Na i, pabotohon hamu di tongatonga ni angka bangso angka pambahenan-Na i,

R:      Mandok mauliate ma hamu di Jahowa, ai na basa do Ibana, ai ro di salelenglelengna do asi ni roha-Na i,

P:       Martua ma angka na mangaradoti uhum, na tongtong patupahon hatigoran. Haleluya! (Martangiang ma hita:) Ale Tuhan Debata Amanami na di banua ginjang. Ho do na mangaturhon pardongansaripeon i. Diida Ho dongannami on na marsangkap naeng  marbagas. Jala na ro do nasida mangido pasupasuM. Antong sai tatap ma nasida di bagasan asi ni rohaM, pasupasu jala ramoti ma nasida marhitehite panghaholongiM. Rajai ma nasida marhitehite Tondi Parbadia asa mamungka jala marujung di bagasan dame pardongansaripeonnasida i. Tangihon ma tangiangnami on ala ni asi dohot holong ni rohaM.

R:      Amen.

(Hundul)


3.   Koor/VG/Solo: Ebenezer


4.   Marende BE. No. 158: 1-2
Tuhan Debata BL. 59 As= Do

1.     Jesus Debata, sai uluhon ma
Hami angka sisean-Mu,
Na tinobus ni mudra-Mu,
Tiop ma tongtong tangannami on.

2.     Ia masa pe na bernit muse,
       Sai patogu rohanami,
       Asa unang ganggu hami,
       Haporsuhon do lapang lao tu Ho.

5.   Jamita: 1 Korint 13: 13

Asa tolu do na hot: I ma haporseaon, pangkirimon dohot haholongon; 

alai haholongon do na umbalga i.



6.   Koor/VG/Solo: Gabungan Wijk 2

7.   Marende BE. No. 160: 1-2
O Tondi Parbadia i, Bongoti  BL. 206 Es= Do

1.     Au dohot na saripengkon, o, Jesus na di joloM on,
Ho naeng oloannami. Ho ma nampuna hami on,
Saleleng hosanami on, sai pasupasu hami.
Ho ma Raja, Sioloan, pausoan, sisungkunon,
Di patikMu ale Tuhan.

(Pangoli dohot Oroan ro tu langgatan)

2.     Sai pasupasu hami be, pasinghop bohalnami pe,
       Padao ma hapogoson. Horasi dohot daging i,
       Sai tuk ma baen gogona i, manahan di ulaon.
       Tolong, tolong ganup hami, asa hami manghaposi
       Roha-Mi na sai marasi.

8.   Pamasumasuon

9.   Pasahathon Tanda Holong sian huria

10.   Koor/VG/Solo: Parompuan


11.   Marende BE. No. 159: 1-2
Martua Dongan Angka na  BL. 201 C= Do

(Pelean I tu Huria dohot II Sosial Huria)

1.     Martua dongan angka na sabagas,
       Na mardonganhon Tuhan Jesus i.
       Na mangoloi Ibana mansai ringgas,
       Na so marholang tangiangna i.
       Tongtong holong rohana di Ibana,
       Manungkun lomo ni roha-Na i.
       Huhut tongtong marguru tu Hata-Na.
       Dibaen sandok pangalaho-Na i.

..... Musik .....

2.     Martua baoa dohot inaina,
       Sisadaroha mida Jesus i.
       Na rap marholong roha di Tuhanna,
       Marsaulihon hatuaon i.
       Na sahat sian asi ni roha-Na,
       Tu halak na porsea sasude.
       I do dibaen nasida haposanna,
       Manang beha parsorionna pe.

12.     Tangiang Pelean – Pasupasu

13.  (Mangendehon:) Amen, amen, amen.

III.  Mandok Hata:

1.       Sian Paranak
2.       Sian Parboru


IV.  Poto Bersama

1.       Pangoli dohot Oroan
2.       Pangoli dohot Oroan dohot Pandita
3.       Pangoli dohot Oroan dohot natoras ni Pangoli
4.       Pangoli dohot Oroandohot natoras ni Oroan
5.       Pangoli dohot Oroan, natoras ni Pangoli dohot Oroan


V. Masijalangan 

(Calon Pangoli, Oroan jongjong dohot natoras di jolo Langgatan mangadop tu ruas huhut mangendehon BE. No. 141 Sai Tiur ma Langkamuna BL. 222 C= Do)



Sai tiur ma langkamuna,
Sai Debata ma donganmuna,
Nang surusuruan-Na pe.
Molo diramoti Jesus,
Hamuna ndang tarbaen so bulus,
Do langkamuna sasude.
Antong Tuhanta i, ma donganmuna i ganup ari,
Hamu sude sai ingot be, tumangiangkon hami pe.

RENUNGAN MINGGU II SETELAH EPIPHANIAS, 12 JANUARI 2020

Hiduplah dalam Anugerah

dan

Kasih Allah

(1 Korint 1:1-9)


Tidak semua orang dapat menghargai dan menerima setiap perbuatan baik yang dapat kita lakukan, boleh jadi karena beberapa alasan; seperti adanya ketersinggungan kepentingan, atau boleh jadi kurang relevan bagi keadaan mereka saat itu sehingga mereka mengharapkan yang lain, dan boleh juga karena adanya keengganan untuk mengakuinya secara terang-terangan. Akibatnya boleh jadi ada sebagian mereka yang membentuk kelompok untuk tujuan “semacam perlawanan atau penolakan”. Terkadang mereka harus menyebarkan berita yang kurang baik didengar terhadap pelaku kebaikan tersebut, dengan tujuan orang banyak menolaknya, mereka berusaha menghasut dengan berita-berita yang kurang baik. 

Dalam hal ini Paulus juga mengalaminya dari sebuah jemaat yang dibangunnya sendiri dengan pertolongan Roh Kudus, Jemaat yang ada di Korint. Setelah jemaat ini bertumbuh dan berkembang, muncul kemudian para pengajar palsu yang mencoba mencari keuntungan kelompok, mereka memecah belah kesatuan jemaat, mereka mendiskreditkan kerasulan, dan anehnya banyak yang terikut dengan meninggalkan Paulus untuk kelompok lain. Dalam hal ini Paulus mencoba memahami apa yang tengah terjadi, dan hanya dengan sebuah pemahaman dan pengertian akan sebuah persoalan kita mampu mencari keluar, atau kita mempunyai jalan masuk untuk menghadapinya.

Pertama Paulus mau menekankan akan keabsahan kerasulannya, bahwa dia adalah orang yang terpilih dan dipilih oleh Tuhan, artinya kerasulannya dia terima dari Yesus Kristus. Di sini Paulus bukan bermaksud untuk membanggakan dirinya sebagai rasul, akan tetapi sekaligus mau menyadarkan para pengajar sesat, dengan kuasa apakah mereka mengajar, apakah yang menjadi tujuan mereka yang sesungguhnya? Dan apakah yang akan diperoleh jikalau terjadi perpecahan/kelompok di tengah-tengah jemaat? Apakah dasar pengajaran mereka berbeda dengan apa dasar pengajaran Paulus? Apakah Kristus yang Paulus beritakan berbeda dengan Kristus yang mereka ajarkan? Paulus menghargai talenta-talenta/karunia yang ada pada mereka dan bahkan mensyukurinya kepada Tuhan, sebab dengan banyaknya talenta/karunia yang dimiliki setiap warga jemaat, akan lebih mempermudah berkembangnya pengajaran Yesus; asalkan mereka mempergunakan talenta, karunia itu dalam pengungkapan syukur (ay 4-5 Aku senantiasa mengucap syukur kepada Allahku karena kamu atas karunia Allah yang dianugerahkan-Nya kepada kamu di dalam Kristus Yesus, sebab di dalam Dia kamu telah  menjadi kaya dalam segala hal; dalam segala macam perkataan dan segala macam pengetahuan”) Dalam artian; Paulus mau mengajak mereka untuk memakai seluruh karunia kasih yang mereka terima dari Allah untuk pertumbuhan jemaat, dalam pembangunan iman dan pengharapan akan kedatangan Kristus yang kedua kalinya. Anugerah penebusan Tuhan menguatkan iman kita dalam penantian kita akan hari kedatangan Tuhan yang kedua kalinya. Bersyukurlah dengan anugerah Tuhan. Amin. Selamat hari Minggu. (HS).

RENUNGAN MINGGU ADVENT I 28 NOVEMBER 2021

MENYAMBUT KEDATANGAN TUHAN DALAM KEKUDUSAN (1 Tesalonika 3: 9-13) Surat ini ditujukan kepada komunitas pengikut Kristus di Tesalonika. L...