Sabtu, 03 Mei 2014

Renungan Minggu - 13 April 2014

Renungan Minggu Palmarum

Minggu sebelum Hari Peringatan Kematian Tuhan Yesus disebut Palmarum. Palmarum artinya daun palem, atau mare-mare dalam Bahasa Batak. Penetapan nama Palmarum untuk minggu sebelum Hari Kematian Tuhan Yesus didasarkan pada peristiwa kedatangan Yesus ke Yerusalem beberapa hari sebelum Dia tersalib.
Ketika Yesus memasuki Yerusalem, Dia dielu-elukan bagaikan raja di Yerusalem. Yesus disambut dengan daun Palem. Daun palem adalah lambang sukacita. Adalah kebiasaan masyarakat Melayu menghiasi rumah mereka dengan daun palem, janur kuning ketika mengadakan pesta. Berkenaan dengan makna sukacita yang dilambangkan daun palem, timbul pertanyaan: Mengapa minggu ini mengajak orang Kristen bersukacita? Sementara pada minggu ini kita merenungkan penderitaan Yesus? Minggu Palmarum mengajak kita bersukacita menyambut peringatan hari kematian Tuhan Yesus, karena dengan salibNya kita diselamatkan dari maut dan hukuman dosa.

Apabila orang Kristen memaknai minggu Advent sebagai minggu persiapan memperingati kelahiran Tuhan Yesus, maka minggu Palmarum dimaknai sebagai minggu persiapan memperingati Kematian Tuhan Yesus. Lalu, apa yang kita persiapkan untuk memperingati kematian Tuhan Yesus? Menurut Matius 21, 1-11, kotbah minggu ini, yang kita persiapkan untuk memperingati kematiannya adalah “Yang perlu bagi Tuhan - Na ringkot di Tuhan i (Tuhan memerlukanNya)”, ay. 3. Yang diperlukan Tuhan, sesuai dengan Matius 21, 1-11, adalah:
  1. Kerendahan hati. Biasanya seorang raja, menunggang kuda. Kuda adalah lambang keperkasaan. Sebaliknya yang dilakukan Yesus, Dia sengaja menunggang keledai ketika memasuki Yerusalem. Keledai adalah lambang kesederhanaan dan kerendahan hati. Yesus meninggalkan semua ke kelebihanNya dan menyetarakan diri dengan manusia hina. Dia disalibkan bukan karena berbuat salah. Dia rela mati seperti manusia berdosa. Dia rela disalib untuk menggantikan manusia yang dikasihiNya. Dia lahir di kandang domba; Dia bergaul dengan manusia nista; Dia meninggalkan semua kemahaanNya, supaya Dia menyelamatkan manusia. Kerendahan hati yang kita teladani dari Yesus. 
  2. Ketaatan dan kesetiaan. Yesus menyuruh muridnya mempersiapkan yang perlu bagi Tuhan. Dia menyuruh muridnya menjemput keledai untuknya. Muridnya dengan patuh melakukan perintah itu. Mereka tidak berkomentar, “Bagaimana kalau tidak diberikan pemiliknya?. Mereka patuh melakukan perintah Yesus. Ketaatan adalah teladan hidup yang kita tiru dari Yesus. Ketaatan Yesus kepada Bapak disorga, bukan karena paksaan, tetapi karena Dia taat kepada BapakNya di sorga. Yesus berbeda dengan Adam yang pertama, dia gagal melakukan penugasan yang diterimanya dari Jahwe, dia tidak taat. Yesus memperlihatkan ketaataan yang tulus kepada Bapak yang mengutus Dia. Ketaatan adalah kehidupan yang kita teladani dari Yesus. Kita taat kepadaNya, pada saat penderitaan atau pada saat sukacita. 
  3. Hidup kita. Pemilik keledai memberikan keledainya karena diperlukan Tuhan Yesus. Pemilik keledai dengan ikhlas memberikan keledainya dibawa murid Yesus karena diperlukan Tuhan Yesus. Keledainya diberikan sebagai persembahannya kepada Yesus. Demikian juga orang banyak mereka mempersembahkan pujian dengan suara mereka. Sambutan mereka yang mengeluelukan Yesus di Yerusalem menjadi persembahan mereka kepada Yesus. Demikian halnya yang dituntut Yesus dari kita, hidup kita menjadi persembahan kepadaNya. Hidup kita menjadi sarana memuliakan Dia, melalui perilaku seharihari. 

Selamat Hari Minggu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

RENUNGAN MINGGU ADVENT I 28 NOVEMBER 2021

MENYAMBUT KEDATANGAN TUHAN DALAM KEKUDUSAN (1 Tesalonika 3: 9-13) Surat ini ditujukan kepada komunitas pengikut Kristus di Tesalonika. L...