Selasa, 27 Desember 2016

RENUNGAN MINGGU TAHUN BARU 1 JANUARI 2017


Menyaksikan 
Kasih Setia Tuhan

(Yesaya 63:7-9)






S

iang itu saya sedang berdiri di pinggiran jalan, menunggu taksi yang akan membawa saya. Entah ada apa hari itu, selama hampir lima belas menit menunggu, tak satu pun taksi kosong yang lewat. Tak lama kemudian saya melihat di samping saya berdiri seorang ibu tua sekitar 60-an tahun. Ia tampak gelisah, kadang mondar-mandir dan sebentar-sebentar matanya melirik ke jam tangannya. Saya penasaran, sehingga menyapa dan bercakap-cakap dengannya. Ibu tersebut juga sedang menunggu taksi. Saya bertanya kepadanya apakah ia punya urusan yang sangat penting sehingga tampak terburu-buru. “Tidak,” jawabnya. Ia hendak ke rumah jompo untuk makan siang bersama suaminya, seperti yang dilakukannya setiap hari. Suaminya sudah dirawat di sana. Lalu saya bertanya apakah suaminya akan marah kalau ia datang terlambat. Ia menggelengkan kepala dan bercerita bahwa suaminya sudah tidak lagi dapat mengenalinya sejak lima tahun terakhir ini. Saya sangat terkejut dan berkata: “Dan Ibu masih mengunjunginya setiap hari walaupun suami Ibu sudah tidak kenal lagi dengan Ibu?” Ia tersenyum. Sambil menepuk bahu saya, ia berkata: “Nak, suamiku memang tidak mengenaliku lagi, tapi aku masih mengenalinya, kan?” Kemudian lewatlah sebuah taksi, saya menyetopnya dan mempersilakan ibu itu untuk naik, sementara saya menunggu taksi berikutnya. Saya masih terpana dengan ucapan ibu. Nak, suamiku memang tidak mengenaliku lagi, tapi aku masih mengenalinya, kan? Hal yang paling menyakitkan dalam suatu hubungan adalah saat seseorang merasa tidak lagi diperdulikan, tidak lagi disayangi dan tidak lagi diperhatikan. Betapa pedihnya hati kita bila hal itu terjadi. Misalnya kekasih hati yang selama ini mencurahkan perhatiannya, kasih sayangnya, keperduliannya kini “berpaling” tidak mau menatap kita lagi. Betapa menderitanya perasaan jika orang yang kita kasihi, orang yang kita harapkan, justru menjauh di saat kasih sayangnya sangat kita butuhkan. Bangsa Israel menyadari dan menyesali dosa dan kesalahannya terhadap Allah. Oleh karena dosa-dosa itu, mereka merasakan Allah tidak lagi mau perduli atas derita yang mereka alami, Allah menjauh dari mereka. Nabi Yesaya, mewakili bangsa Israel berdoa memohon belas kasihan agar Allah mau menunjukkan lagi kasih sayang-Nya kepada bangsa itu. Nabi Yesaya yakin bahwa kasih setia Allah yang dulu pernah bangsa itu nikmati (ay.9) tidak pernah benar-benar hilang dari mereka. Allahlah yang mengangkat dan menggendong mereka (ay.9), menyertai, menuntun (ay.12) dan menaruh Roh Kudus dalam hati mereka (ay.11). Allah sendirilah yang bertindak menyelamatkan dan menebus mereka dalam kasih setia dan belas kasihan-Nya. Ketika kita tidak mengenali-Nya, kita tetap dikenal-Nya. Kasih Allah itu nyata dalam Yesus Kristus. Darah-Nya yang membasuh dosa dunia, oleh kasih setia-Nya. Allah menginginkan pertobatan, meninggalkan segala dosa dan kembali kepada-Nya. Tahun baru dengan semangat baru, setia menyaksikan, menantikan dengan tekun kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kalinya. Selamat Tahun Baru.
                                                                     Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

RENUNGAN MINGGU ADVENT I 28 NOVEMBER 2021

MENYAMBUT KEDATANGAN TUHAN DALAM KEKUDUSAN (1 Tesalonika 3: 9-13) Surat ini ditujukan kepada komunitas pengikut Kristus di Tesalonika. L...