Rabu, 29 Januari 2020

RENUNGAN MINGGU IV SETELAH EPIPHANIAS, 2 FEBRUARI 2020

Orang Yang Berbahagia 

Menurut Yesus

(Matius 5:1-12)




Boleh jadi orang berbeda-beda pemahaman akan sebuah kata “berbahagia”. Orang yang bagaimanakah yang pantas disebutkan sebagai orang yang berbahagia? Ada yang mengatakan jikalau ia memiliki harta yang bayak, jabatan tinggi, memiliki kekuasaan; yang dapat menikmati segalanya dalam kehidupannya, dan yang dapat melakukan segala sesuatu apa yang dia suka (hidup yang bebas hambatan?). Dalam pemahaman orang Batak dulu, seseorang yang berbahagia adalah mereka yang memiliki keturunan yang banyak, memiliki harta kekayaan dan memiliki jabatan/kekuasaan (Hamoraon; Hagabeon; Hasangapon). Atau boleh jadi kebahagiaan itu diukur dengan sejauh mana seseorang itu dapat menikmati kehidupannya dengan baik, berkecukupan.

Berbeda dengan pemahaman pola berfikir kita memahami nilai sebuah kebahagiaan; Tuhan Yesus mengingatkan kita bahwa kebahagiaan sejati adalah merupakan pemberian Tuhan kepada mereka yang hidupnya didasarkan pada kebaikan, kemurahan, kebenaran dan kasih Tuhan; jadi tidak diukur dengan harta/kesenangan/kepuasan duniawi. Kebahagiaan yang sesungguhnya dapat kita miliki jikalau kehidupan kita awali dengan sebuah pertobatan, dan hidupnya berorientasi pada hal-hal yang dapat menyenangkan hati Tuhan; atau jikalau seseorang itu memfokuskan seluruh kehidupannya kepada Allah. Artinya bagaimana kehidupan kita awali dengan pertobatan, di mana kita berusaha meninggalkan pola hidup, pola pikir lama, kebiasaan dan budaya yang salah. Lahirnya kesadaran moral dan spiritualitas kita akan makna hidup, akan membawa kita semakin menyadari betapa miskinnya kita di hadapan Tuhan; betapa kita belum memiliki nilai tambah bagi kehidupan sekitar kita.

Yang berbahagia di hadapan Tuhan adalah mereka yang mampu menguasai diri/keinginan duniawi, tetapi mau melangkah kepada sebuah pengorbanan akan kebenaran, kasih, kejujuran, kebenaran, kesucian dan keadilan yang diwujudkan dalam tindakan nyata, bukan dalam rutinitas seremonial keagamaan belaka. Tetapi juga mereka yang tahan uji, yang mau menderita oleh karena kebenaran yang dia lakukan, yang mampu menolong orang lain bangkit kembali dari keterpurukannya untuk melangkah maju dalam iman dan pengharapannya; yang mampu membawa dan menciptakan perdamaian dan kedamaian bagi dunia dan sesamanya; yang setia akan firman Tuhan walaupun harus mengalami banyak penderitaan; artinya bagaimana seseorang itu mampu menjadi berkat bagi orang lain/ciptaan lainnya dan inilah kebahagiaan surgawi yang memiliki karakteristik memberi perhatian sepenuhnya terhadap mereka yang membutuhkannya.

Jikalau dunia ini merasa berbahagia saat kepentingannya terpuaskan waklaupun harus banyak orang yang teraniaya; sebaliknya kebahagiaan sorgawi adalah meliputi kemampuan seseorang/tekad dan keinginan seseorang untuk terus-menerus disucikan; berusaha berbuat kebaikan, menghadirkan sejahtera bagi semua orang dan mereka yang tidak pernah mengeluh, putus asa walaupun harus menderita oleh karena imannya akan Tuhan Yesus. Berbahagialah sebab upahmu besar di surga kelak. Amin. Selamat hari Minggu. (HS).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

RENUNGAN MINGGU ADVENT I 28 NOVEMBER 2021

MENYAMBUT KEDATANGAN TUHAN DALAM KEKUDUSAN (1 Tesalonika 3: 9-13) Surat ini ditujukan kepada komunitas pengikut Kristus di Tesalonika. L...