Selasa, 24 September 2019

RENUNGAN MINGGU XV SETELAH TRINITATIS, 29 SEPTEMBER 2019


BERTUMBUH DI DALAM SEGALA

KE ARAH DIA, KRISTUS, 

YANG ADALAH KEPALA

 (Efesus 4: 7-16)




Antipater Sidon (140 SM) seorang pelancong asal Yunani Kuno melalui puisinya menuliskan tujuh keajaiban dunia. “Aku telah menyaksikan tembok Babilonia yang perkasa yang di atasnya terbentang jalanan untuk kereta-kereta perang, dan patung Zeus di tepi sungai Alfeus, aku telah melihat taman gantung, dan Kolosus (patung kolosal) Dewa Matahari, dan gunung buatan dari piramida yang menjulang tinggi, serta makam raya Raja Mausolus; namun ketika aku melihat kuil Artemis yang menjulang ke awan-awan, yang lain itu semuanya kehilangan keindahannya, dan aku berkata, 'Tengoklah, selain Olympus, Matahari tidak pernah lagi melihat apapun yang sedemikian agung.” (Antipater, Greek Anthology IX. 58).

Surat Efesus ini ditulis oleh Paulus kepada jemaat di Efesus sebuah kota dagang. Di sana terdapat kuil Artemis, dewi kesuburan Diana, saudara kembar dari dewa Apollo. Salah satu dari tujuh keajaiban tersebut. Adanya patung dewi ini memberi keuntungan besar di kota itu. Pada uang logam di Efesus terdapat gambar dewi ini. Orang Efesus membuat miniatur patung Artemis terbuat dari batu, perak dan emas diperjualbelikan dan terjual laris. Waktu Paulus memberitakan Injil di kota ini keadaan berubah, bisnis tersebut merosot, dan huru-hara terjadi.

Surat Efesus ini mengingatkan bahwa jemaat adalah bangunan Allah, tubuh Kristus. Hidupnya untuk memuliakan Tuhan dengan membangun pekerjaan Tuhan. Surat ini bermaksud membentengi jemaat dari pencampuradukan ajaran kekristenan (sinkretisme) dengan agama Yunani Romawi di Efesus tersebut. Paulus mengutip Mazmur 68:19 "Engkau telah naik ke tempat tinggi, telah membawa tawanan-tawanan; Engkau telah menerima persembahan-persembahan di antara manusia, bahkan dari pemberontak-pemberontak untuk diam di sana, ya TUHAN Allah” dengan beberapa perubahan kecil; "Tatkala Ia naik ke tempat tinggi, Ia membawa tawanan-tawanan; Ia memberikan pemberian-pemberian kepada manusia." Bukankah "Ia telah naik" berarti, bahwa Ia juga telah turun ke bagian bumi yang paling bawah? Ia yang telah turun, Ia juga yang telah naik jauh lebih tinggi dari pada semua langit, untuk memenuhkan segala sesuatu.” (Ef.4:8-10). Inilah nyanyian kemenangan, kepastian penyertaan, kehadiran Allah di tengah-tengah umat-Nya dan penghancuran musuh-musuh-Nya. Atas kemenangan tersebut Daud membawa peti perjanjian “naik ke tempat tinggi” Yerusalem, di bukit Sion. Paulus menerapkan nats ini kepada Kristus, setelah beroleh kemenangan-Nya dan naik ke surga. Dialah Tuhan yang melimpahkan berkat kepada umat-Nya. “Dialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar” (Ef.4:11). Setiap anggota jemaat diberikan karunia, diperlukan untuk memajukan Kerajaan Allah. Oleh karena itu, kita masing-masing dipanggil untuk mempraktekkan kuasa dari karunia kita yang berbeda-beda dalam kesatuan, demi mencapai kedewasaan penuh, untuk bertumbuh di dalam segala ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala” (Ef.4:13,15).

Doa:

     Ya Tuhan, kami berterima kasih atas kemurahan-Mu. Tolonglah kami agar dapat menggunakan segala karunia yang Kau berikan untuk kemuliaan nama-Mu. Satukanlah kami umat-Mu, ya Yesus, seperti Engkau adalah satu dengan Bapa dan Roh Kudus. Amin. Selamat hari Minggu! (NS).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

RENUNGAN MINGGU ADVENT I 28 NOVEMBER 2021

MENYAMBUT KEDATANGAN TUHAN DALAM KEKUDUSAN (1 Tesalonika 3: 9-13) Surat ini ditujukan kepada komunitas pengikut Kristus di Tesalonika. L...