Selasa, 25 September 2018

RENUNGAN MINGGU XVIII SETELAH TRINITATIS, 30 SEPTEMBER 2018

HIDUP

DALAM PENYERTAAN TUHAN

(Kejadian 39: 1-10)



Ada orang yang mengajarkan bahwa kunci keberhasilan; 50% berasal dari mental yang positif. 25% oleh kebiasaan yang baik. Keahlian 15%. Ilmu Pengetahuan 10%. 100% persen keberhasilan itu tergantung oleh kemampuan kita. Orang berpemahaman seperti ini sadar atau tidak, seringkali memiliki konsep, bahwa keberhasilan itu hanya oleh usaha sendiri tidak oleh campur tangan siapapun. Tidak adakah peran Tuhan di dalamnya? 

Yusuf anak emas di rumah Yakub, ayahnya (Kej.37). Saudara-saudaranya cemburu, ia dijual sebagai budak kepada Potifar! Kejadian ini jelas merupakan hal yang sangat berat bagi Yusuf. Yusuf mencurahkan isi hatinya kepada Allahnya. “Tuhan dekat kepada semua orang yang berseru kepadanya”. (Maz.145:18). Tuhan menyertai Yusuf. (ay.2). Anak muda ini tak mau putus asa, dan bertekad untuk bekerja sebaik mungkin. Yusuf segera disukai majikannya yang baru. Potifar melihat bahwa hambanya yang masih muda ini terus diberkati Tuhan, itu membuat keluarga Potifar semakin makmur. Yusuf kian diperkenan oleh Potifar sampai-sampai ia memercayakan semua miliknya kepada Yusuf (ay.3-6). Yusuf menjadi seorang pria makmur. (bahasa Ibrani ish matsliakh). Kebaikan Tuhan adalah sumber segala kemakmurannya. Demikianlah Yusuf, dulunya budak belian kemudian menjadi seorang pria yang makmur di rumah tuannya, orang Mesir.

Yusuf pun tumbuh dewasa. Anak remaja itu kini menjadi pria yang ”tampan perawakannya dan elok parasnya”. Yusuf sangat menghargai keloyalan; tapi istri Potifar tidak. Karena itu semua, Yusuf segera menghadapi bahaya. Istri majikannya mulai memandangi Yusuf dan berkata: “Tidurlah dengan aku.” (ay.7). Yusuf muda berkata tidak dengan tegas. Istri Potifar tidak senang. Istri Potifar adalah perayu yang pantang menyerah. Wanita ini memperlihatkan semangat seperti Setan. Yusuf menanggung risiko yang besar. Istri Potifar ingin membalas dendam. Ia cepat-cepat berteriak, memanggil pelayan-pelayan lain ke rumah. Ia mengaku bahwa Yusuf mencoba memerkosanya dan kabur sewaktu dia berteriak. Dia menyimpan pakaian Yusuf sebagai bukti dan menunggu suaminya pulang. Ketika Potifar tiba, ia kembali berdusta, menyiratkan bahwa semua ini salah suaminya karena membawa masuk orang asing itu. Kemarahannya pun berkobar. Ia menjebloskan Yusuf ke penjara, (ay.13-20).

Tuhan terus menyertai Yusuf. Penjara, belenggu, tidak menghalangi kasih Allah kepada hamba-hamba-Nya. Bahkan angin ribut pun, Tuhan hentikan. (Band. Ep. Mat.8:23-27).

Yusuf menjadi teladan bagus bagi anak muda yang melayani Tuhan dewasa ini. Misalnya, sewaktu di rumah, di sekolah, di kampus, di tempat kerja. Jika kamu berada dalam situasi seperti Yusuf, ingatlah bahwa Tuhan tidak berubah. Tuhan memberkati mereka yang memberkati umat-Nya, tetapi umat-Nya juga harus menjadi berkat dengan bekerja keras. (Kej. 12: 3-4).


Orang-orang beriman, sangat perlu memiliki tekad tetap teguh. Seperti itulah sikap Yusuf. Walaupun berada dalam situasi sulit ”dari hari ke hari”, ia tidak goyah. (ay.10). Karena ia,  HIDUP DALAM PENYERTAAN TUHAN. Selamat hari Minggu! Amin. (NS).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

RENUNGAN MINGGU ADVENT I 28 NOVEMBER 2021

MENYAMBUT KEDATANGAN TUHAN DALAM KEKUDUSAN (1 Tesalonika 3: 9-13) Surat ini ditujukan kepada komunitas pengikut Kristus di Tesalonika. L...