Jumat, 07 September 2018

RENUNGAN MINGGU XV SETELAH TRINITATIS, 9 SEPTEMBER 2018


Tantangan Pelayanan

2 Korintus 11: 7-16





Hidup ini penuh dengan tantangan dan pergumulan, baik yang datang dari diri sendiri maupun yang datang dari luar diri kita, artinya setiap apa yang akan kita lakukan, yang kita bicarakan/katakan akan berpotensi pro dan kontra, untuk itu kita diminta untuk senantiasa mencermati, mengevaluasi setiap kencenderungan yang tengah berkembang, juga membuka diri terhadap setiap kemungkinan yang terjadi oleh karena perbuatan, pekerjaan kita. Penolakan, kebencian akan terjadi jikalau kepentingan terganggu atau tersinggung. Apalagi jikalau kita menyuarakan kebenaran dan keadilan, menasehati atau menegur seseorang. 

Tidak semuanya perbuatan baik direspons dengan baik oleh orang lain, bahkan ada yang berusaha mencari-cari alasan untuk menolak dan bahkan mempersalahkan. Tetapi semuanya mereka lakukan cenderung untuk menutupi segala kelemahan, kepalsuan mereka. Hal ini Paulus alami saat dia melayani di Korintus. Di Kota ini Paulus bertemu dengan pengajar – pengajar palsu yang mecoba memakai logika berfikirnya untuk memahami siapa Yesus, dan memahaminya dengan ilmu filsafat; ada juga pengajar pengajar yang bekerja untuk mencari upah/gaji, sehingga mereka berusaha menyampaikan pengajarannya dengan segala keindahan kata kata yang menyejukkan, padahal kebenaran dan kekuatan pemberitaan Firman/khotbah bukanlah terletak pada keindahan rangkaian kata kata, tetapi pada kuasa roh Kudus, bagaimana pemberitaan itu mempunyai kuasa untuk menegor, menasehati dan mengajar dan bahkan menghukum ketidakbenaran sekalipun. Para pengajar palsu yang paulus hadapi, mereka tidak berani menyatakan kebenaran Firman yang sesungguhnya, sebab mereka takut kehilangan mata pencaharian. Paulus tampil berbeda, dia tidak mau menerima pemberian/bantuan keuangan/gaji dari Jemaat Korintus, untuk membedakan dirinya dengan pengajar pengajar palsu yang ada berkembang saat itu. Paulus juga mau jujur dengan bantuan yang telah ada diterimanya dari Makedonia dan Filipi, artinya Paulus telah mencukupkan dirinya dengan bantuan yang telah diterimanya sebagai buah sukacita pelayanan yang dirasakan jemaat Makedonia. Paulus tidak mau membebani jemaat korintus akan kebutuhan hidupnya, tetapi dia kerjakan sebagai bentuk pelayanan yang seutuhnya, yang dia lakukan sebagai jawaban kasihnya akan Tuhan. Dia menyampaikan Firman Tuhan sebagai anugerah bagi jemaat korintus.

Paulus mereka sebut sebagai orang bodoh karena tidak mau menerima upah dari Jemaat Korint. Paulus menampakkan dirinya seperti tidak membutuhkan belanja hidup, yang walaupun sebenarnya dia butuh, tetapi dia tidak mau tertekan karena pemberian orang lain, tidak mau munafik demi kepentingan diri, tidak mau menjual penderitaan, tetapi dia mau nyatakan bahwa Tuhan senantiasa memelihara hidupnya dan mencukupkan segala kebutuhannya. Tuhan memakai jemaat yang ada di Makedonia dan Filipi untuk memberinya kebutuhan hidupnya sebagaimana layaknya.Artinya mereka yang melayani, berhak beroleh kehidupan dari pelayanannya. Kol 3: 23 ”Apapun yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan bukan untuk manusia.” Amin. (HS).

2 komentar:

  1. shaloom
    blog ini sangat membantu saya untuk membangun karakter dan memperdalam ilmu ke kristenan saya

    BalasHapus
  2. hanya terdapat satu kekurangan saja di blog ini ya itu tidak di buat tema nya

    BalasHapus

RENUNGAN MINGGU ADVENT I 28 NOVEMBER 2021

MENYAMBUT KEDATANGAN TUHAN DALAM KEKUDUSAN (1 Tesalonika 3: 9-13) Surat ini ditujukan kepada komunitas pengikut Kristus di Tesalonika. L...