Rabu, 26 Oktober 2016

RENUNGAN MINGGU XXIII Setelah TRINITATIS 30 Oktober 2016

Berubah

Untuk

Sebuah Kehidupan Baru

(Jesaya 1:10-18)






     Untuk menutupi segala kemunafikan dan kepalsuan, manusia cenderung melakukan hal-hal yang menarik perhatian banyak orang dengan tujuan untuk mendatangkan pujian. Banyak orang berpura-pura baik untuk suatu tujuan tertentu, datang beribadah dengan harapan pujian dari banyak orang, mengharapkan penilaian dari orang lain serta sebuah pembenaran diri, supaya dicap sebagai orang saleh. Membantu atau memberikan sesuatu untuk suatu pujian dan kehormatan dunia, sebab apa yang dia perbuat bukanlah dorongan suara hati atau belas kasihan, atau juga disebut bukan karena adanya tanggung jawab moral, hanya sebuah sandiwara moral. Dalam masalah keimanan juga banyak kita jumpai hal-hal yang penuh dengan kepalsuan dan kemunafikan. Ada banyak orang memberi sesuatu untuk gereja bukan didorong oleh rasa syukur atas anugerah Tuhan yang telah dia terima, tetapi adalah untuk satu kesempatan menyombongkan diri, mencari celah supaya orang yang dihormati, didengarkan, kesempatan untuk menyalahkan orang lain dan membenarkan diri melalui pemberiannya. 
     Orang Israel begitu setianya melakukan ritus-ritus peribadahan, memberi persembahan, merayakan hari raya, memberikan perpuluhan. Akan tetapi apa yang mereka lakukan; manindas orang lemah, menindas orang miskin dan yatim, membelokkan keadilan (Amos sebutkan: menjual orang benar dengan seharga sepasang tali kasut). Bangga dengan apa yang mereka berikan ke Bait Allah, tetapi merampas hak hidup orang lain. Pemberian mereka ke bait Allah adalah merupakan hasil rampasan, penipuan, sehingga Tuhan menolak mereka dengan menuduh tangan bangsa Israel yang penuh dengan darah. 
    Apakah yang akan kita perbuat dalam pembenahan diri di hadapan Tuhan: berubah oleh karena pembaharuan budi (Rom 12:2), menjauhkan diri dari praktik-praktik penipuan, kesombongan moral dan iman, menjauhkan diri dari segala kemunafikan dan kepalsuan. Ibadah yang benar jikalau hal itu dapat menumbuhkan rasa kepedulian sosial kita terhadap sesama. Membuka diri mendengarkan Firman Tuhan (membuka hati dengan mangalahkan ego dan kepentingan dunia ini) mendengarkan dengan segenap hati, pikiran dan jiwa serta berusaha melakukan apa yang Tuhan inginkan untuk kita lakukan sebagi wujud iman dan kesetiaan kita akan Tuhan. 
     Persembahan kita adalah buah dari iman, bukan sebagai alat suap atau sogok pembenaran diri, persembahan kita di dalam Bait Allah bukanlah seperti mesin cuci yang dapat membenarkan kita di hadapan Tuhan, dan untuk dapat melakukan kejahatan lagi. Tetapi persembahan dan ibadah kita haruslah sebagai pengungkapan rasa syukur atas kemurahan hati Tuhan yang memberikan kita hidup dan kesempatan menikmati kehidupan ini. Apakah yang akan kita bawa ke hadapan Tuhan, tidak lain hanyalah sebuah pengakuan dan perubahan moral, meninggalkan segala kemunafikan, kepalsuan, datang dalam segala kejujuran dan kerendahan hati. Memberikan yang terbaik bagi Tuhan dengan menegakkan keadilan dan kebenaran, membangun kepedulian sosial terhadap semua orang. Ibadah yang kita lakukan dengan iman yang tulus dan benar akan memberikan kita kekuatan dan pengharapan baru serta sukacita dan penghiburan, karena Tuhan akan senantiasa bersamamu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

RENUNGAN MINGGU ADVENT I 28 NOVEMBER 2021

MENYAMBUT KEDATANGAN TUHAN DALAM KEKUDUSAN (1 Tesalonika 3: 9-13) Surat ini ditujukan kepada komunitas pengikut Kristus di Tesalonika. L...