Selasa, 04 Oktober 2016

RENUNGAN MINGGU XIX Setelah TRINITATIS 2 Oktober 2016



PERTOLONGAN TUHAN 

AKAN SEGERA DATANG

(Habakuk 1:1-4+2:1-4)





     Apakah yang terjadi dalam diri kita saat menghadapi tantangan, kesulitan hidup bahkan kalau kita merasa dilecehkan banyak orang, dikhianati, disakiti. Boleh jadi kita akan marah, benci dan dendam, berusaha untuk membalaskan kejahatannya. Dan bagaimana sikap kita kalau kita melihat orang lain ditindas, dilecehkan, dianiaya, ditipu, apakah kita akan ambil sikap diam, tidak peduli atau menutup mata, atau bahkan ikut menindas mereka, ikut mengakimi serta menyalahkan mereka. Semuanya tergantung kepada kepribadian seseorang, tergantung bagaimana dia mampu membuka diri akan keadaan sekitar, bagaimana dalam dirinya ada kepedulian sosial dan keberanian mengatakan kebenaran, sebab hanya dengan itulah dia akan mampu membela, menolong, memotivasi serta memberikan penghiburan. Mereka yang telah merasakan dan melihat pertolongan dan campur tangan Tuhan dalam kehidupannya, akan merasa terpanggil oleh imannya untuk berbuat baik pada seseorang, akan mau mengingatkan pelaku kejahatan untuk berubah, mereka yang putus asa untuk berpengharapan, membela orang tertindas dan membawa sukacita dan penghiburan kepada orang yang berduka.  
     Habakuk, seorang nabi yang dipilih Tuhan sesuai dengan namanya: Habakuk; Tuhan merangkul, Tuhan melindungi, dia tidak tinggal diam melihat ketidakadilan yang berlaku kepada umat Israel, penindasan oleh orang Kasdim juga oleh bangsanya sendiri terutama kepada mereka yang lemah, yang miskin. Dia datang, dia mengadu kepada Tuhan, dia bergumul, mengapa sepertinya Tuhan membiarkan umatnya dilecehkan, ditindas oleh orang-orang sombong, mereka yang membusungkan dadanya menentang keadilan dan kebenaran. Ketertekan hidup Habakuk melihat penderitaan umatNya yang dilakukan oleh para pengacau, dia berkata: berapa lama lagi Tuhan ... Habakuk memperlihatkan kepeduliannya bagi umat Israel, bagi mereka yang tertindas, dia turut serta merasakan kepahitan hidup karena penderitaan itu.  Marthin Luther King berkata: “Jikalau kita menutup mata atau berdiam diri melihat segala kejahatan yang tengah berlaku, berarti pada dasarnya kita telah ikut sebagai pelaku, minimal kita turut menyetujuinya berlaku“ Hal itu tidak ada dalam diri Habakuk, dia menyampaikan semuanya pada Tuhan. Dia berdiri di atas menara pengintaian sepertinya melihat kapankah pertolongan Tuhan datang, kapanlah kejahatan akan dikalahkan (2:1) menantikan pertolongan Tuhan dalam iman dan pengharapan.  
     Kegigihan, kesungguhan Habakuk, Tuhan jawab, Tuhan janjikan sebuah pembebasan dan pertolongan, Tuhan berkata: “Tuliskanlah penglihatan ini supaya semua orang melihatnya (2:2), perderitaan akan berakhir, kejahatan akan di kalahkan, dan orang percaya akan hidup oleh percayanya (Rom 1:17). Tuhan tahu apa rancangan yang akan dipebuatnya bagi umatnya dan juga bagi orang-orang sombong (Yer 29:11); akan tetapi Tuhan tidak serta merta langsung memberikan pembebasan, boleh jadi Tuhan sepertinya mengulur waktu supaya kita semakin bertumbuh dalam iman dan kesetiaan (BE 283:2 nang sipata dipabenda ..) Rom 5:3-5; supaya kita dapat memahami dan percaya, saatnya Tuhan akan memberikan pertolongan, memberikan kekuatan dan hidup bagi mereka yang setia hingga akhirnya, yang tahan dalam pencobaan (Why 2:10; 1 Kor 10:13). Setialah dalam Tuhan walaupun harus menghadapi kesulitan, tantangan terutama oleh karena iman akan Kristus, Tuhan akan segera menolong dan memberikan pembebasan, kejahatan akan dikalahkan, tetapi orang-orang benar akan diberkati dan beroleh hidup.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

RENUNGAN MINGGU ADVENT I 28 NOVEMBER 2021

MENYAMBUT KEDATANGAN TUHAN DALAM KEKUDUSAN (1 Tesalonika 3: 9-13) Surat ini ditujukan kepada komunitas pengikut Kristus di Tesalonika. L...