Selasa, 18 Oktober 2016

RENUNGAN MINGGU XXII Setelah TRINITATIS 23 Oktober 2016



    M E R O M B A K     
P A R A D I G M A 

(Lukas 18:9-14)












 S
etiap orang pastilah mempunyai kebiasaan dalam hidup. Ada kebiasaan yang baik, namun ada pula kebiasaan yang buruk. Sebagai contoh, setiap hari kita selalu bangun pagi untuk berolah raga maka itu menjadi suatu kebiasaan baik. Ada pula orang yang mempunyai kebiasaan buruk, yaitu lebih baik tidak makan daripada tidak merokok. Pertanyaannya sekarang adalah apakah mungkin tingkah laku religiusitas keagamaan dapat menjadi suatu kebiasaan yang buruk? Dalam konteks perumpamaan ini, bagaimana mungkin orang Farisi ini bisa mempunyai kebiasaan yang buruk, bukankah ia berada di dalam rumah Allah, bukankah ia sedang berdoa dan bukankah ia sedang beribadah? Merenungkan sikap Farisi dan pemungut cukai yang datang pada Tuhan dengan sikap yang berbeda. Orang Farisi berdoa dengan membanggakan segala sesuatu yang dia lakukan menganggap diri benar. Pemungut cukai menganggap diri tidak layak dan berdoa dengan hati yang hancur. 

     Perumpamaan ini merombak paradigma orang tentang orang-orang Farisi, kalau sebelumnya orang menganggap orang Farisi sebagai orang yang terhormat kini orang mulai dibukakan kalau ternyata anggapan mereka selama ini terhadap orang Farisi adalah salah. Orang-orang Farisi telah terpaku pada hukum yang tertulis tanpa mengerti esensi dari hukum itu sendiri akibatnya mereka selalu mengkritik tindakan yang dilakukan Tuhan Yesus dan para murid-Nya seperti; makan pada saat orang Farisi berpuasa, melakukan sesuatu pada hari Sabat, dan masih banyak lagi. Mereka telah terjebak dengan suatu ritualitas belaka. Mereka tidak pernah mencari apa yang menjadi maksud dan kehendak Allah, mereka hanya mencari huruf-huruf dari hukum Allah. Religiusitas semu yang dilakukan oleh orang-orang Farisi sungguh berakibat fatal maka dengan tegas, Tuhan Yesus mengecam mereka (Mat.23:16). Yesus berkata: Pemungut cukai pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak (ay.14). Pemungut cukai memperoleh anugerah, diampuni dan dibenarkan Tuhan. Perumpamaan ini berbicara tentang hal sikap hidup pemungut cukai yang berkenan di hadapan Allah. 
      Biarlah kita mengevaluasi diri kita, ketika kita beribadah, berdoa dan melayani, apakah itu menjadikan kita lebih dekat dengan Tuhan ataukah justru menjauhkan diri dari Tuhan? Apakah semua yang kita lakukan dalam kehidupan berjemaat ini akan membawa suatu keharuman bagi nama Tuhan ataukah tindakan itu hanya merupakan arogansi diri? Sungguh merupakan suatu anugerah kalau Tuhan berkenan memakai kita untuk turut ambil bagian dalam pekerjaan-Nya. Tetapi ingatlah, biarlah semua itu menjadikan kita semakin dekat pada-Nya dan biarlah segala sesuatu yang kita lakukan hanya untuk kemuliaan nama Tuhan saja. Selamat hari Minggu. Amin.  


















Tidak ada komentar:

Posting Komentar

RENUNGAN MINGGU ADVENT I 28 NOVEMBER 2021

MENYAMBUT KEDATANGAN TUHAN DALAM KEKUDUSAN (1 Tesalonika 3: 9-13) Surat ini ditujukan kepada komunitas pengikut Kristus di Tesalonika. L...