Sabtu, 26 Desember 2015

RENUNGAN MINGGU SETELAH NATAL 27 DESEMBER 2015

Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku
(Lukas 2: 41-52)

Perikop ini adalah cerita tentang masa kecil Yesus. Lukas menuliskannya dengan kesimpulan: “Dan Yesus makin bertambah besarnya dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia” (Luk 2:52). Hampir sama dengan kisah Samuel kecil. Yang disimpulkan dengan kalimat: “Tetapi Samuel yang muda itu, semakin besar dan semakin disukai, baik di hadapan Allah maupun di hadapan manusia” (1 Sam 2:26). Apa yang membuat Yesus dan Samuel disukai Tuhan dan sesama? Setidaknya ada dua jawaban. Pertama, Tuhan berinisiatif memilih mereka. Tuhanlah yang pada awalnya “menyukai” mereka. Misalnya Mazmur 148, inisiatif Tuhan memilih tak hanya pada pribadi manusia, tetapi juga pada bangsa Israel. Kedua, mereka berdua Samuel dan Yesus merespon cinta Tuhan dengan cara mencintai Tuhan kembali. Tanggapan cinta itu terlihat melalui ketaatan Samuel, di antaranya dengan penggunaan atribut berupa baju efod dari kain lenan. Pada diri Yesus, hal itu tampak pada saat Ia menyatakan bahwa “… Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku” (Luk 2:49b).
Orang Yahudi memiliki kebiasaan untuk merayakan Paskah di Yerusalem. Yesus pada saat itu umur 12 tahun turut pergi ke Yerusalem. Orang tua Israel yang baik akan mempersiapkan anaknya masuk dalam pembelajaran baru. Pada umur 12 tahun remaja pria akan dididik langsung oleh ayahnya, agar setahun kemudian umur 13 tahun, ia mampu tampil sebagai orang dewasa, akan diterima sebagai Yudaisme atau “anak Taurat”. (Bandingkan Belajar Peneguhan Sidi di HKBP). Yusuf dan Maria mempersiapkan anaknya untuk memulai melatih tugas-tugas keagamaan sebelum pada waktunya kelak umur 30 tahun sudah boleh mengajar di depan umum.
Waktu Yesus dibawa ke Yerusalem untuk merayakan Paskah, ia tidak langsung pulang ke rumah, Yesus sempat menghilang dan membuat Yusuf dan Maria khawatir luar biasa. Lalu Yusuf dan Maria kembali ke Yerusalem  untuk mencari Yesus dan menemukannya di Bait Allah (Luk 2: 41–52).
Perlu kita renungkan rasa khawatir yang luar biasa dan kemauan dari Yusuf dan Maria untuk mencari Yesus. Ini adalah rasa tanggung jawab mereka sebagai orang tua yang sangat takut  kehilangan putranya. Rasa khawatir dan kemauan mencari inilah yang sekarang justru semakin terkikis dari para orang tua di masa kini. Coba kita renungkan, yang terjadi sekarang ini:
1. Orang tua cenderung menyerahkan urusan bayinya dan pertumbuhan bayinya serta anak-anaknya kepada baby sitter, guru les bahkan kepada tetangganya.
2. Para orang tua masa kini masih ada yang tidak ingin direpotkan dengan mendidik anak-anak mereka, dengan alasan masing-masing bekerja dan mengejar karier. Enggan membawa anak-anak ke sekolah Minggu, dan membiarkan anak-anak memainkan game dan menonton film di rumah.
3.    Bila anak-anak mulai bertumbuh besar atau menginjak remaja, jika mereka tidak pulang ke rumah tidak langsung dicari dan memilih cuek.
4.       Di masa kini  sering kita jumpai para orang tua yang sudah semakin tidak hadir dalam kehidupan anak-anaknya. Misalnya saja, anak-anak mengadakan Ibadah perayaan natal, atau Paskah di gereja, orang tua hanya sedikit yang hadir melihat anaknya tampil di depan altar gereja mengucapkan firman Tuhan.

       Kehadiran dalam kebersamaan keluarga ditampilkan oleh keluarga Yusuf, Maria dan Yesus bersama-sama menempuh perjalanan ke Betlehem, dulu bersama-sama mengungsi ke Mesir, mencari Yesus ke Yerusalem, bahkan Maria hadir sampai Yesus disalibkan. Yusuf adalah ayah yang peduli dan Maria adalah ibu yang hadir dalam kehidupan anaknya. Hai para orang tua, mari kita merenungkan kembali makna kepedulian dan kehadiran kita sebagai orang tua dalam kehidupan anak-anak kita. Hai anak-anak, katakan: “Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku” Selamat hari Minggu. Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

RENUNGAN MINGGU ADVENT I 28 NOVEMBER 2021

MENYAMBUT KEDATANGAN TUHAN DALAM KEKUDUSAN (1 Tesalonika 3: 9-13) Surat ini ditujukan kepada komunitas pengikut Kristus di Tesalonika. L...