Jumat, 18 Desember 2015

RENUNGAN MINGGU ADVENT IV 20 DESEMBER 2015

Jangan Biarkan Berlalu
(Ibrani 10:5-10)



     Masih menanti yang lain? Menanti siapa? Bukankah Dia sudah datang? Betul sekali! Dia sudah datang dan akan datang lagi pada waktu-Nya. Namun yang pasti, kedatangan-Nya membawa dan memberi makna. Dia datang membawa dan memberi keselamatan. Dialah keselamatan itu, bukan yang lain. 
   
   Pada zamannya, orang Kristen yang berlatar belakang Yahudi, yang menerima surat Ibrani, mengalami banyak penganiayaan. Itulah konsekwensi yang mereka hadapi karena hidup beriman di dalam Kristus (11:1). Namun tidak sedikit yang terombang-ambing imannya di tengah penganiayaan tersebut. Mereka diajak kembali ke masa lalu (menghidupi adat istiadat Yahudi) yang dianggap paling sempurna. Segala ketetapan yang diperintahkan Musa kepada Israel, seperti mempersembahkan korban bakaran, korban sajian, korban minuman, dan korban ukupan harus dilakukan turun-temurun karena dipahami sebagai kesempurnaan dan menyelamatkan. 

   Akan tetapi menurut penulis surat Ibrani, korban-korban itu tidak dapat menyelamatkan dan mendekatkan manusia pada Allah dengan sempurna. Korban tersebut hanya mengingatkan manusia akan dosanya. Dosa menjadi penghalang antara manusia dengan Allah. Itu sebabnya Allah mengutus Yesus supaya di dalam tubuh-Nya dan dengan tubuh-Nya, Yesus melakukan kehendak Allah. 

   Korban yang benar adalah ketaatan akan perintah-perintah-Nya. Yesus adalah korban Allah yang sempurna. Sebab Dia melakukan kehendak Allah dengan sempurna. Ia menyerahkan diri-Nya dan berkata kepada Allah, “Kehendak-Mu jadilah.” Ia mempersembahkan kepada Allah apa yang tidak mungkin dapat dipersembahkan oleh manusia. Ketaatan yang sempurna itulah korban yang sempurna. Korban hewan yang dipersembahkan oleh imam berulang kali tanpa akhir dan membuat manusia tetap terasing dari Allah. Sebaliknya, korban Yesus diserahkan sekali untuk selama-lamanya. Pengorbanan-Nya adalah karya keselamatan Allah yang tidak dapat diulang kembali. Kesempurnaan seperti itu tak perlu penyempurnaan lagi. 

   Setelah menjalani tiga minggu Advent, kini kita tiba di minggu Advent IV, Advent terakhir. Akankah Advent berlalu begitu saja? Apakah yang telah kita persembahkan untuk Tuhan? Allah tidak menghendaki korban-korban hewan, tetapi mentaati kehendak-Nya. Samuel berkata "Apakah TUHAN itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan.” (1 Sam 15: 22). Kita mengakui bahwa perjalanan dan penantian panjang menyusuri jalan yang bernama “onak duri” belum segera berakhir. Namun, lembaran-lembaran baru yang mungkin saja kelabu tak perlu membuat lesu. Itu harus dijalani. Jika orang percaya ingin memiliki persekutuan dengan Allah, maka ketaatan adalah satu-satunya jalan ke sana. Mari kita jalani bersama Yesus yang telah menjalaninya dalam kesempurnaan. Itulah bentuk sambutan kita di Advent yang akan berlalu, namun tidak sekedar berlalu. Yakinlah, “orang yang menabur dengan air mata akan menuai dengan sorak-sorai.” (bdn. Mzm 126: 6; Zak.2: 10). Selamat hari Minggu dan beribadah. Yesus memberkatimu. Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

RENUNGAN MINGGU ADVENT I 28 NOVEMBER 2021

MENYAMBUT KEDATANGAN TUHAN DALAM KEKUDUSAN (1 Tesalonika 3: 9-13) Surat ini ditujukan kepada komunitas pengikut Kristus di Tesalonika. L...