Sabtu, 12 Desember 2015

RENUNGAN MINGGU ADVENT III 13 DESEMBER 2015

Biasakanlah Melakukan Apa Yang Baik 
(Yesaya 12: 2-6)



     Tentulah kita sangat setuju dengan perkataan “Biasakanlah melakukan apa yang baik.” Bukan sebaliknya, apa yang biasa dilakukan adalah baik. Jika kita sudah terbiasa melakukan sesuatu, lambat laun apa yang kita lakukan itu menjadi kebiasaan. Lama-kelamaan kebiasaan akan menjadi bagian dari diri kita yang susah dilepaskan. Tentu betapa menyenangkan dan menguntungkan, jika kita salah seorang yang memiliki kebiasaan melakukan yang baik. Sebab kebiasaan itu menjadi karakter. Misalnya: biasa berdoa, biasa membaca Alkitab, biasa menyanyikan Buku Ende atau lagu rohani. Karena kebiasaan tersebut kita boleh mendapatkan pembaruan hidup oleh kebenaran Firman Tuhan. Biasa menolong orang lain tanpa pamrih, biasa bersyukur kepada Tuhan dalam segala perkara, dan lain-lain sebagainya. Kebiasaan-kebiasaan itu akan memberikan kepada kita pengaruh yang baik, membangun hidup dengan biasa melakukan kebaikan tanpa beban, penuh antusias dan dengan gembira.
     Pada minggu Advent ketiga ini kita diingatkan untuk menyadari bahaya hidup tanpa bukti pertobatan. Apa artinya? Artinya kita diajak untuk tidak terjebak dalam kebiasaan buruk yang jahat dan mematikan damai sejahtera dalam hidup. Kita diajak Allah untuk melangkah meninggalkan kebiasaan yang salah dan kembali di jalan damai sejahtera-Nya. Bertobat adalah tindakan berbalik arah, kembali kepada Allah dengan membiasakan diri hidup dengan melakukan apa yang baik.
“Yesaya” berarti “Tuhan adalah keselamatan” dan dia adalah nabi keselamatan. Namun, keselamatan dan penghakiman selalu bersama-sama dalam Alkitab; jika Anda tidak mau diselamatkan, maka Anda akan dihakimi. Yesaya menggabungkan kedua tema ini: penghakiman (Yes 1:1-35:10) dan keselamatan (Yes 40:1-66:24). Kedua tema utama ini dipadukan dengan adanya bagian bersejarah tentang Raja Hizkia (Yes 36: 1-39:8).
Waktu Yesaya mulai bekerja, Israel sedang berada di ambang kehancuran. Dalam tahun 722 sebelum Masehi Kerajaan Utara dengan kesepuluh sukunya dikalahkan oleh bangsa Asyur (2 Raja 17). Tetapi Kerajaan Selatan, Yehuda, sedang menuju nasib yang sama. Secara sosial, politis mereka sudah rusak, demikian juga iman percaya mereka. Kerajaan Utara telah dihukum dan musnah. Tetapi, Yehuda berbeda. Negeri itu harus dihakimi, tetapi oleh karena adanya perjanjian abadi dengan Allah, maka Yehuda juga akan diselamatkan. Pada suatu saat, dari Yehuda akan datang seorang Hamba Tuhan, Sang Juruselamat yang akan menyelamatkan bukan hanya Yehuda, tetapi seluruh dunia.
     Keselamatan inilah menjadi Sukacita, terjadi luapan syukur tak terbendung yang akan mendorong kita untuk menaikkan pujian kepada Tuhan. Perasaan itulah yang sedang dialami oleh bangsa Israel. Bangsa Israel melantunkan YADAH (puji-pujian kemuliaan - doksologi) bagi Allah. Apa alasan mereka? YADAH adalah kata kerja dengan akar kata, "tangan diperpanjang, untuk membuang tangan, karena itu untuk menyembah dengan tangan diperpanjang." Menurut Lexicon, makna berlawanan "untuk meratapi, yang meremas-remas tangan."

     Firman Tuhan menasihatkan kita, agar dengan segenap totalitas kehidupan kita Yadah-memuji  memuliakan nama Allah dengan membiasakan melakukan apa yang baik sesuai firman-Nya. Tanda mengaminkan keselamatan yang daripada Tuhan di dalam Yesus Kristus.  Selamat hari Minggu. 
                                                            Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

RENUNGAN MINGGU ADVENT I 28 NOVEMBER 2021

MENYAMBUT KEDATANGAN TUHAN DALAM KEKUDUSAN (1 Tesalonika 3: 9-13) Surat ini ditujukan kepada komunitas pengikut Kristus di Tesalonika. L...