Jumat, 06 Maret 2015

RENUNGAN MINGGU OKULI, 8 MARET 2015



Mengasihi Tuhan dan Berpegang Kepada Perintah-Nya
(Keluaran 20:1-17)





Mengasihi Tuhan dan Berpegang Kepada Perintah-Nya
(Keluaran 20:1-17)

P
engalaman iman adalah pengalaman perjumpaan dengan Allah di dalam Firman-Nya. Pada waktu membaca atau mendengar isi Alkitab, kita bukan sekedar membaca tulisan atau mendengar kata-kata saja, melainkan membaca dan mendengar Firman Tuhan. Firman Tuhan adalah penyataan Allah tertulis yang mewakili keberadaan Allah. Alkitab mencatat suatu keadaan yang sangat mengerikan pada saat Tuhan memberikan 10 hukum Taurat-Nya kepada orang Israel melalui Musa. Mereka melihat guruh mengguntur, kilat sabung-menyabung, sangkakala berbunyi dan gunung berasap. Mereka tahu bahwa ada Allah di sana (Kel. 19:16). Sebelum 10 hukum Taurat diberikan, Allah memanggil Musa dan memerintahkan agar bangsa Israel, harus mempersiapkan diri, menyucikan diri, tidak berbuat dosa dan pada hari yang ketiga, Ia akan datang. (Kel.19:14-15) Dapatlah dibayangkan perasaan bangsa ini dalam masa penantian hari ketiga, hari mereka berjumpa dengan Allah. Perasaan mereka diliputi oleh ketegangan dan ketakutan kalau-kalau ada hal yang luput mereka persiapkan sehingga Allah tidak berkenan dan menghukum mereka. Rupanya perjumpaan dengan Allah tidak selalu menjadi pengalaman yang menyenangkan dan dinanti-nantikan; bangsa Israel sangat takut. Allah adalah Allah yang kudus, Dia menuntut setiap orang yang percaya menghormati setiap aturan-aturan yang Ia tetapkan.
Peristiwa Keluaran (Eksodus) ketika umat Israel dibebaskan dari perbudakan di Mesir, adalah hasil dari Allah mengingat perjanjian yang diberikan kepada Abraham, Ishak dan Yakub (Kel.2:23-24, Kej.15:13-14; Kel.6:3,6; Ibr.11:22). Iman Israel kepada Yahweh sebagai Allah yang membebaskan dan membawa mereka keluar dari perbudakan dan penderitaan. Israel harus hidup dalam kesetiaan dengan kepercayaan: "Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan.” TUHAN-lah yang telah melepaskan dan membebaskan mereka dari Mesir. Inilah pengakuan “Credo” bangsa Israel (bdn.Yos.24:2-13; Ul.26:5-11;6:21-25). TUHAN sebagai Allah pembebas.
10 Hukum Taurat mengungkapkan kehendak dan tujuan Allah untuk umat-Nya. Bapa Gereja Lutheran DR. Martin Luther pada setiap maksud Titah Tuhan dalam Katekhismusnya menuliskan : “Kita harus takut serta kasih kepada Allah…” Mematuhi Hukum Taurat berarti mematuhi kehendak Allah, takut akan Allah, dan mengasihi Allah dan sesama manusia. "Hukum Taurat adalah kudus, dan perintah itu juga adalah kudus, benar dan baik" (Rom.7:12). Hukum itu rohani (Rom.7:14), karena ia berasal dari Allah (Rom.7:22), dan tujuannya adalah membimbing umat manusia kepada kehidupan yang benar (Rom.7:10). Penuntun sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman (Gal.3:24). Hukum Taurat sebagai pedoman hidup baru bagi bangsa Israel di tanah perjanjian, seperti cermin alat bantu bagi kita umat Tuhan melihat ketidakberesan kehidupan kita. Maka pembacaan Hukum Taurat dalam ibadah minggu, mengingatkan dosa kita, kemudian kita dibimbing kepada pengasihan Yesus Kristus yang menyelamatkan kita dari perhambaan dosa. Amin.

Selamat Hari Minggu.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

RENUNGAN MINGGU ADVENT I 28 NOVEMBER 2021

MENYAMBUT KEDATANGAN TUHAN DALAM KEKUDUSAN (1 Tesalonika 3: 9-13) Surat ini ditujukan kepada komunitas pengikut Kristus di Tesalonika. L...