Jumat, 28 Juni 2019

RENUNGAN MINGGU II TRINITATIS, 30 JUNI 2019


HASIL DARI SEBUAH PENGAKUAN
(Mazmur 32: 1-11)

Kebahagiaan merupakan sebuah pilihan dan juga menjadi sebuah permasalahan dalam kehidupan manusia, sebab setiap orang mempunyai penilaian dan pemahaman yang berbeda tentang kebahagiaan, sesuai dengan keinginan, pola pikir yang bersangkutan. Kebahagiaan sesuatu hal yang bisa diraih dan banyak orang berusaha untuk meraihnya. Sebahagian orang yang membuat nilai sebuah kebahagiaan dengan kekayaan, bila dapat dengan bebas membeli segala kebutuhan dan dapat memuaskan segala keinginannya, ada orang berbahagia jikalau dia sudah menduduki sesuatu jabatan dalam pekerjaannya, atau setelah ia berkeluarga dan memiliki anak-anak,  dan juga ada orang merasa bahagia dalam hatinya jikalau dia mampu memenangkan sebuah persaingan yang walaupun itu harus dilakukan dengan kecurangan. Ada merasa berbahagia, senang hatinya jikalau membuat orang lain susah. Ada juga orang sangat bahagia karena dapat membantu orang yang kesusahan, (turut  berbahagia melihat kebahagian/keberhasilan orang lain), dan ada juga yang berbahagia karena berkesempatan mengakui segala kesalahannya kepada orang yang pernah ia sakiti. Tetapi, ada juga orang yang berusaha menyembunyikan kesalahan yang dia perbuat, berusaha menutupinya, juga berusaha mematikan suara hatinya. Hilanglah kejujuran, keterbukaan dan kasih dalam dirinya, sehingga menutup diri untuk pengakuan. Ada orang yang merasa gundah, susah, bingung dan merasa bersalah, jikalau ia mengingat dan merenungkan kesalahan yang pernah dia lakukan di masa lalunya. Merasa tidak nyaman dan tidak sejahtera, setiap mengingat dan membayangkan kesalahannya.
Itulah yang dialami Daud, ketika dia merenungkan, mengingat apa yang dia lakukan terhadap Uria hanya untuk niat memiliki Berseba istri Uria untuk menjadi isterinya. Mulanya dia menutupinya, tetapi dia semakin gelisah. Akhirnya nabi Natan menegur dan mengecamnya, dengan segala akibat yang akan dia terima oleh dosanya. Sebuah pengakuan yang jujur dari Daud: ”Aku telah berdosa kepada Tuhan” (ay 4-6// 2 Sam 12: 13a). Pengakuan dengan tulus dan sungguh, pengakuan yang disertai dengan penyerahan diri dalam kepasrahan akan Tuhan. Tuhan menjawabnya dengan sebuah pengampunan ”dosamu telah diampuni.(2 Sam 12:13b). Pengakuan yang berbuahkan pengampunan, memampukan Daud dapat melihat masa depannya kembali, dapat bersukacita serta bersaksi (ay.1-2). “Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya....” Sebagai orang yang telah menerima pengampunan dosa, Daud berjanji akan menceritakan pengalamannya untuk tidak terulang lagi untuk generasi selanjutnya, supaya setiap orang menjauhkan diri dari keinginan daging, pemamfaatan kekuasaan untuk sebuah keinginan. Juga mengajak kita untuk mampu memberikan pengampunan, memaafkan setiap orang yang pernah: ”berbuat salah kepada kita” (Ampunilah kami...seperti kami telah mengampuni...) Pengampunan membawa kita kepada sukacita, pengharapan baru, motivasi baru. Dengan pengampunan dari Allah oleh Yesus Kristus, kita beroleh hidup dan kehidupan baru. Jadilah orang yang dengan sukacita mengampuni/ memaafkan setiap kesalahan yang mungkin orang lain perbuat kepadamu, dan berusahalah untuk mengakui setiap kesalahan, keterlajuran yang pernah engkau perbuat, demi kesejahteraan  hati. (HS)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

RENUNGAN MINGGU ADVENT I 28 NOVEMBER 2021

MENYAMBUT KEDATANGAN TUHAN DALAM KEKUDUSAN (1 Tesalonika 3: 9-13) Surat ini ditujukan kepada komunitas pengikut Kristus di Tesalonika. L...