Rabu, 13 Maret 2019

RENUNGAN MINGGU REMINISCERE 10 MARET 2019

NILAI SEBUAH HIDUP

(Amsal 4:18-27)




Kepribadian seseorang akan dapat kita ketahui dari apa dan bagaimana seseorang itu berbuat, bersikap dan berbicara, sehingga perlu ada senantiasa pembenahan diri, baik moral maupun spritual. Perlu mencari hikmat, pengetahuan untuk mengerti dan memahami apa makna kehidupan yang sesungguhnya dan bagaimana berbuat dan bertingkahlaku yang benar. Hikmat dihasilkan oleh sebuah keputusan yang diikuti dengan disiplin diri yang kokoh seumur hidup. Itu sebabnya tidaklah mengherankan jika seorang tua selalu mengajarkan perihal kehidupan dan etika moral kepada anak-anaknya secara berulang-ulang/terus-menerus, agar kiranya anaknya tetap berpegang teguh kepada didikan, hikmat, nasehat dan pengajaran dan tidak akan pernah melepaskannya. Pentingnya pengajaran yang berulang-ulang, agar kiranya mampu melihat dan menyadari bagaimana orang-orang fasik  selalu berusaha membuat orang lain tersandung hingga terjatuh. Mereka tidak dapat tidur nyenyak sebelum mencelakai orang lain (Ams. 4:16), itu sebabnya bagaimana kita harus berhati-hati agar tidak tersandung atau jatuh, untuk tidak mau mengikuti jalan-jalan mereka. (ay. 14-16). 

Suatu hal yang terpenting untuk menjalankan hikmat itu adalah dengan menjaga hati dengan segala kewaspadaan (4:23 ”Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan“). Hati dalam konsep pemahaman orang Ibrani adalah pusat kesadaran seseorang, yang mencakup akal budi, pengertian, perasaan dan kehendak. Hikmat bukanlah respons yang bersifat lahiriah saja. Perkataan dan tindakan akan lahir dari hati seseorang; artinya perilaku, perkataan seseorang itu akan memperlihatkan karakter, sifat, watak seseorang. Perilaku digerakkan oleh hati. Itu sebabnya, diminta untuk mampu menjaga hati dengan segala kewaspadaan, melalui sikap yang menghindari mulut serong, menjauhkan bibir yang dolak-dalik (4:24). Tidak begitu spesifik apa yang dimaksudkan menjaga perkataan sendiri atau untuk tidak mendengarkan perkataan serong orang lain. Akan tetapi yang penting adalah bagaimana kita mampu menjaga diri kita untuk tidak seturut dengan perilaku jahat, kepada pembual, pemfitnah, pencemooh dan pada orang-orang yang sombong dan congkak (Roma 12:2 ”Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga dapat membedakan manakah kehendak Allah; apa yang baik, yang berkenan kepada Alah dan yang sempurna.). Sesungguhnya orang yang mampu menjaga dan menguasai lidahnya, dialah yang disebut sempurna sebab ia dapat mengendalikan seluruh tubuhnya (Yak. 3:2 ”Sebab kita semua bersalah dalam banyak hal; barangsiapa tidak bersalah dalam perkataannya, ia adalah orang sempurna, yang dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya“). Tidak mudah untuk memilih jalan hikmat karena godaan dari orang fasik, namun kita harus senantiasa berpegang serta bertekun dalam hikmat, sebab hanya dalam hikmatlah kita beroleh hidup yang berkenan di hadapan Allah. Selamat hari Minggu. (NS).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

RENUNGAN MINGGU ADVENT I 28 NOVEMBER 2021

MENYAMBUT KEDATANGAN TUHAN DALAM KEKUDUSAN (1 Tesalonika 3: 9-13) Surat ini ditujukan kepada komunitas pengikut Kristus di Tesalonika. L...