Kamis, 15 Maret 2018

RENUNGAN MINGGU JUDIKA 18 MARET 2018

Bagaimanakah Aku dengan Pergumulanku

(Mazmur 43:1-5)




Setiap manusia mempunyai persoalan hidupnya masing-masing, dan setiap manusia pasti berbeda dalam hal menyikapinya. Ada orang saat ia manghadapi masalah, pergumulan hidup ia cenderung menyalahkan orang lain, menyalahkan diri sendiri dan bahkan ada yang mencari pelarian/kompensasi entah ke mana dan dengan apa. Tentu memang harus kita akui juga, tidak semua orang dapat kuat dalam menjalani hari-hari hidupnya jikalau penuh dengan pergumulan, kesusahan, tekanan apalagi harus menderita baik fisik maupun psikis. Misalnya: jikalau kita menghadapi pergumulan iman dari mereka yang tidak mengenal Tuhan Yesus, sebab ada saatnya kita akan mengalaminya, ada juga saatnya kita harus ke luar tekanan itu dengan berbagai cara. 

Sama dengan apa yang dialami oleh pemazmur dalam nats ini, ia mengalami tekanan dari bangsa sekitarnya, bangsa yang tidak mengenal Tuhan, mereka menuduhnya bahwa Tuhan Allahnya Israel tidak lagi mampu membebaskan mereka, tidak berdaya, dan sudah tidak ada. Mereka mengejeknya, akhirnya jiwanya memberontak, ingin ke luar dari tekanan itu dengan meminta supaya Tuhan bertindak atas mereka, bangsa bebal, jahat dan tidak saleh. Memang harus kita sadari bahwa ada saatnya kita akan menerima tekanan dari lingkungan yang tidak seiman, tetapi dengan sepenuhnya bersandar kepada Allah, kita akan mendapat kekuatan baru dan pertolongan. Kesadaran akan ketidakmampuannya mengatasi masalahnya, pemazmur datang kepada Tuhan meminta Allah bertindak demi keadilanNya. 

Pemazmur ingin Tuhan bersegera melepaskannya dari lingkungan orang yang jahat, yang tidak mengenal Tuhan, supaya mereka dapat beribadah dengan nyaman di Yerusalem, di kota kudus Tuhan. Pemazmur berusaha bangkit dari keterpurukkan akibat penderitaannya, dia menyadari sangat tidak baik jikalau membiarkan diri senantiasa dalam kegundahan, ketakutan dan sakit hati. Dia berusaha bangkit dan menghibur dirinya dengan pengenalannya akan kuasa Tuhan yang dapat mengubah segala sesuatunya; Pemazmur berkata dalam dirinya: “Mengapa engkau tertekan hai jiwaku? Dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepadaNya, penolongku dan Allahku“ ay.5. Dia bangkit dari kondisi “Depresi Rohaninya”, ia tidak mau tinggal diam, ia mau ke luar dari situasinya. Pertama yang dia lakukan adalah pengakuan akan keadaan yang tengah dia hadapi, menjadikan ia lebih siap menghadapinya. Kemudian pemazmur kembali mengenang bagaimana Tuhan telah memberikan mereka yang terbaik, membawa mereka ke luar dari Mesir, mengingat bagaimana kasih Tuhan senantiasa mengalir, dan ia terus berdoa (42:9). Ingatan masa lalu akan membuat kita melihat kembali kasih setia Tuhan, kemudian pemazmur berbicara dalam dirinya untuk berharap kepada Tuhan yang adalah Penolong (42:6;43:5). Itulah sebabnya kita perlu mengingat kembali apa yang telah kita lalui, bagaimana kita dapat melewati segala persoalan kehidupan, bagaimana kita dapat merasakan kuat kuasa Tuhan yang menolong dan menghiburkan.  Kita harus bangkit dalam pengharapan, tidak membiarkan diri dalam ketakutan dan kegelisahan. Sebab Tuhan adalah Allah yang peduli, Allah yang mengasihi kita dan yang senantiasa menjawab doa-doa kita. Mengapa engkau tertekan hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah dalam diriku. Berharaplah akan Tuhan, sebab Dialah Allah penolongmu. (HS)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

RENUNGAN MINGGU ADVENT I 28 NOVEMBER 2021

MENYAMBUT KEDATANGAN TUHAN DALAM KEKUDUSAN (1 Tesalonika 3: 9-13) Surat ini ditujukan kepada komunitas pengikut Kristus di Tesalonika. L...