Jumat, 05 Agustus 2016

RENUNGAN MINGGU XI Setelah TRINITATIS 7 Agutus 2016

TAKUTKAH ATAU KUATIR?
(Kejadian 15:1- 6)





     Semuanya kita pasti pernah takut dan mungkin saja sering takut dengan berbagai alasan, kita takut mungkin karena dengan cerita horor, takut dengan ancaman, takut karena tidak memiliki harta, takut juga karena memiliki harta yang lebih, takut tidak punya keturunan juga takut kehilangan sahabat, jikalau mengidap suatu penyakit, terutama takut akan kehidupan akhir. Ketakutan yang kita alami boleh saja akan menghilangkan akal sehat, semangat, sukacita terutama pengharapan kita akan Tuhan. Pemuda/i gereja boleh saja kuatir karena belum punya calon pasangan hidup, belum mempunyai pekerjaan yang menetap; para orangtua kuatir sebab anaknya belum menikah dan belum bekerja, kuatir sebab anak-anaknya jauh dari sisinya, dll. Masih banyak hal yang menjadikan kita takut, was-was maupun kuatir. Rasa takut ada dalam diri manusia sejak Adam jatuh dalam dosa, dan ketakutan itu manjauhkan Adam dari Tuhan, dia lari dari hadapan Tuhan dan bersembunyi, dia kehilangan sukacita karena boleh saja dibayangi oleh rasa bersalah. Ketika kita berbuat kesalahan boleh jadi bayangan itu akan menakutkan kita tentang apa akibat atau reaksi yang muncul dari orang yang kita sakiti atau bohongi. 
    Abraham takut jangan-jangan Kedorlaomer, raja yang pernah dia kalahkan akan bangkit kembali menyerangnya, dia juga takut akan kelangsungan masa depan keturunannya sebab ia belum mempunyai anak. Ketika kita takut atau kuatir akan masa depan, terkadang kita mau menyalahkan orang/pihak lain, bahkan sepertinya kita juga menyesali Tuhan, mengapa Tuhan tidak begitu serta-merta campur tangan dalam hal apa yang tengah kita pergumulkan? Kita menganggap bahwa Tuhan itu tidak perduli, merasa orang lain tidak perduli dengan apa yang kita pergumulkan. Abraham takut jangan-jangan kalau ia tidak punya anak, hartanya akan jatuh ke tangan Elieser hambanya orang Damsik. Ketika Tuhan menyapa Abraham, “ jangan takut, Akulah perisaimu, upahmu besar“ dia malah menjawab: “apa yang akan Engkau berikan kepadaku ….. Engkau tidak memberikan aku keturunan ….” Tetapi dengan lembut Tuhan menjawab keraguan Abraham: “orang itu tidak akan menjadi ahli warismu … tetapi adalah anak kandungmu“
    Yang sering menjadi persoalan adalah, seringnya kita mengandalkan pikiran dan kekuatan kita dalam memahami hidup dan kehidupan ini, sering lupa akan kemahakuasaan Tuhan dan keagungan kasihNya. Tuhan berkata “serahkanlah segala kekuatiranmu kepadaNya, sebab Ia akan memelihara kamu (1 Pet 5:7), Tuhan menuntun hati, iman dan pikiran kita untuk memberikan waktu dan tempat bagi Tuhan untuk berkarya dan berbuat dalam kehidupan kita, bagaimana kita dengan jujur mengutarakan segala sesuatu yang membebani pikiran kita kepada Tuhan. Dialah perisai, dan kekuatan kita. Tuhan telah mengalahkan ketakutan dan kekuatiran itu dalam kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus, Dia bawa damai sejahtera, pengharapan dan sukacita. Tuhan berkata: “Damai sejahtera bagimu”. Untuk itu mari kita hilangkan kekuatiran, takut dari hidup kita supaya kita dapat menikmati syalom Allah yang agung, dapat melihat bagaimana kuat kuasa kasihNya bekerja dalam setiap aktifitas kehidupan kita. Terpujilah Tuhan yang menjawab segala pergumulan kita, yang menguatkan kita dalam menjalani hari-hari kita, dan yang selalu memberikan kita yang terbaik. Kekuatiran tidak akan pernah menjawab persoalan hidup kita, selain akan menambah katakutan, tetapi iman akan Tuhan Yesus akan memampukan kita melihat karya Tuhan dalam hidup kita dan memampukan kita untuk bersyukur. Bersyukurlah dalam segala hal. (Ef 5:20;1 Tes 5:18).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

RENUNGAN MINGGU ADVENT I 28 NOVEMBER 2021

MENYAMBUT KEDATANGAN TUHAN DALAM KEKUDUSAN (1 Tesalonika 3: 9-13) Surat ini ditujukan kepada komunitas pengikut Kristus di Tesalonika. L...