Senin, 20 Juni 2016

RENUNGAN MINGGU IV Setelah TRINITATIS 19 JUNI 2016

“Pengikut yang Bersaksi bukan Sangsi”
(Lukas 8:26-39)




P
ara tokoh, publik figur di dunia ini memiliki banyak “follower”(pengikut) di dunia maya. Jumlah follower tersebut bisa mencapai jutaan. Akun Twitter Indonesia mencatat 100 publik figur yang memiliki ratusan ribu hingga jutaan follower. Agnes Monica (agnesmo) pernah menempati urutan pertama karena memiliki lebih dari 6 juta pengikut. Begitu juga dengan Ahok yang pernah memiliki lebih dari 4 juta pengikut. Tidak mudah untuk mendapatkan pengikut yang banyak.
        Nas Alkitab yang kita baca menceritakan seorang lelaki kerasukan setan menemui Yesus yang baru saja tiba di Gerasa. (Yesus tidak disambut seperti seorang penguasa lengkap dengan tari-tarian dan karpet merah). Ketika Yesus menanyakan namanya, lelaki itu justru menjawab dengan kata “Legion”. Dalam tradisi Romawi, kata Legion berarti satu divisi tentara yang berjumlah 6000 orang. Meminjam istilah “follower” masa kini, itu berarti bahwa lelaki itu, 2000 tahun  yang lalu, lelaki itu telah memiliki 6000 follower setan, bukan di dunia maya tetapi dunia nyata. Uniknya, lelaki yang memiliki 6000 “follower” itu tersungkur di hadapan Yesus (ay.28).  
Cukup naas bagi lelaki itu. Enam ribu “follower”nya sangat menyiksanya. Jika follower masa kini, membuat seseorang bertambah makmur, namun lelaki itu justru sebaliknya. Roh-roh yang berada di dalam tubuhnya membuatnya hidup tanpa pakaian dan tinggal di kuburan. Hidupnya tersiksa. Namun setelah bertemu dengan Yesus, follower penyiksa itu justru memohon agar Yesus tidak menyiksanya (ay.2). Penyiksa yang tidak rela kalau dirinya disiksa. Akhirnya, lelaki itu diselamatkan dan setan-setan itu dimasukkan ke dalam kawanan babi.
Mengetahui kejadian itu, para penjaga babi, dan seluruh penduduk Gerasa menyuruh Yesus pergi, sebab mereka sangat ketakutan. Entah apa yang menyebabkan mereka ketakutan. Apakah mereka takut terhadap Yesus yang berkuasa atau takut jika Yesus memindahkan setan-setan lainnya ke ternak-ternak mereka. Jika mereka takut dan takjub akan kuasa Yesus, tentu mereka akan menyambut kehadiran Yesus dan mengajak-Nya tinggal lebih lama di Gerasa. Namun jikalau mereka sampai mengusir Yesus dari Gerasa, jangan-jangan mereka takut kalau-kalau kehadiran Yesus menyebabkan kerugian dan mengakibatkan kebangkrutan.
Sebaliknya, lelaki yang telah diselamatkan itu tidak takut. Dia memilih untuk mengikut Yesus. Dia bersukacita karena mengalami kesembuhan dan keselamatan dari Yesus. Namun, Yesus menyuruhnya pulang ke rumah untuk menceriterakan karya Allah dalam hidupnya. Hebatnya, dia bukan hanya berceritera di rumah saja tetapi di seluruh kota (ay.39). Sukacitanya mendorongnya menjadi pengikut yang bersaksi bukan pengikut yang sangsi (ragu-ragu).
Saudara/i yang terkasih di dalam Kristus, yang merayakan Tahun Keluarga 2016 ini, renungkanlah betapa banyak karya Allah dalam hidupmu, keluargamu. Bagaimana engkau menyaksikan karya Allah itu di tengah-tengah rumah tangga, pekerjaan, komunitas di mana engkau berada? Apakah orang yang mendengarkan kesaksianmu itu semakin takjub kepada Allah dan tersungkur di hadapanNya? Selamat hari Minggu. Pegang teguh janji Tuhan.

Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

RENUNGAN MINGGU ADVENT I 28 NOVEMBER 2021

MENYAMBUT KEDATANGAN TUHAN DALAM KEKUDUSAN (1 Tesalonika 3: 9-13) Surat ini ditujukan kepada komunitas pengikut Kristus di Tesalonika. L...