Jumat, 18 September 2015

RENUNGAN MINGGU XVI SETELAH TRINITATIS 20 SEPTEMBER 2015

   Mengubah Demi Kebaikan 

(Mazmur 107: 33-43)




Seorang Sufi bercerita tentang dirinya seperti berikut ini: “Waktu masih muda, aku ini seorang yang revolusioner dan aku selalu berdoa: Tuhan, berilah aku kekuatan untuk mengubah dunia! Ketika aku sudah separuh baya dan sadar bahwa setengah hidupku sudah lewat tanpa mengubah satu orang pun, aku mengubah doaku menjadi: Tuhan, berilah aku rahmat untuk mengubah semua orang yang berhubungan denganku: keluarga dan kawan-kawanku, maka aku akan merasa puas. Sekarang ketika aku sudah menjadi tua dan saat kematianku sudah dekat, aku mulai melihat betapa bodohnya aku. Doaku satu-satunya sekarang adalah: Tuhan, berilah aku rahmat untuk mengubah diriku sendiri. Seandainya sejak semula aku berdoa begitu, maka aku tidak begitu menyia-nyiakan hidupku!” Setiap orang berpikir mau mengubah umat manusia. Hampir tak seorang pun berpikir bagaimana mengubah dirinya. (Burung Berkicau, Anthony de Mello SJ).
Perikop ini mengingatkan kita beberapa tokoh-tokoh Alkitab yang mengalami masa-masa sulit dan Tuhan ubahkan sesuai dengan yang Tuhan inginkan, antara lain: (1). Musa yang dibesarkan oleh Putri Firaun di Mesir (tidak dibesarkan oleh orangtuanya) sebagai persiapan untuk kelak memimpin bangsa Israel. Allah mengatakan supaya Musa cukup berbicara kepada batu di depannya, tetapi Musa memukul bukit batu itu dengan tongkatnya dua kali (Bil 20:8; Ul 3:24-27). Karenanya Musa tidak ikut membawa bangsa Israel masuk ke tanah Kanaan. (2). Daud semasa hidupnya bergumul dengan banyak masalah. Terutama masalah birahi, membunuh Uria dan mengambil, istri Uria Batsyeba binti Elia baginya. Raja Daud menyesali dosanya. Daud mengejar hati Allah tapi Allah harus meremukkan dia. (2 Sam. 11-15). (3). Yunus seorang nabi yang melawan perintah Allah. Diperintahkan memberitakan pertobatan kepada Niniwe, tetapi malah pergi ke Tarsus. Sehingga seekor ikan besar menelan Yunus; dan Yunus tinggal di dalam perut ikan itu tiga hari tiga malam lamanya. (Yunus 1-3). (4). Rasul Paulus seorang Sarjana Teologi Yahudi yang brillian sangat terampil dan fasih berdebat. Pada awalnya membenci orang Kristen. Menjadi buta, mengalami banyak kesulitan selama pelayanannya. (Kis 9; 2 Kor 6; 12). (5). Dan Yesus juga “diremukkan” (Band. Nas Epistel Mark 9:31). Dia harus mengalami penghancuran, bukan karena apa yang dia lakukan, tapi karena dosa kita. (Mat 27:46, Mark 15:34). Keempat contoh di atas mengungkapkan kebaikan Tuhan yang telah mengangkat mereka masing-masing dari keadaan terhina, menurut pandangan manusia, menjadi terhormat bahkan mulia. Mengungkapkan keadilan Allah dengan membalikkan keberuntungan orang jahat atau fasik menjadi petaka. Hukuman tujuannya meremukkan hati orang berdosa dan membuatnya memperbarui hubungannya dengan Allah. Lewat keremukan ini, Musa, Daud, Yunus, Rasul Paulus, bangsa Israel dapat mengenal Allah dengan lebih tulus, lebih dalam dan sepenuhnya. Dia dapat berjalan dengan lebih dekat pada-Nya dan melayani-Nya dengan lebih tepat. Berubah dari kepemimpinan yang berpusat pada diri sendiri kepada pelayanan yang berpusat pada Allah, seperti yang dilakukan oleh Allah di dalam Yesus Kristus. Orang-orang benar melihat bahwa Allah sanggup mengubah orang berdosa menjadi orang yang dibenarkan bagi-Nya, mengubah tanah terkutuk menjadi tanah penuh berkat.

Bersyukur, mengatakan Tuhan baik bukan suatu pilihan, tetapi lahir dari pengalaman iman dan pengenalan yang benar akan Tuhan. Hanya dengan kesediaan belajar hikmat (43) dari firman-Nya dan mengakui kemurahan-Nya kita bisa tetap mengucap syukur. Amin. 
Selamat Hari Minggu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

RENUNGAN MINGGU ADVENT I 28 NOVEMBER 2021

MENYAMBUT KEDATANGAN TUHAN DALAM KEKUDUSAN (1 Tesalonika 3: 9-13) Surat ini ditujukan kepada komunitas pengikut Kristus di Tesalonika. L...