Rabu, 23 Juli 2014

RENUNGAN MINGGU V TRINITATIS 20 JULI 2014 Yesaya 44: 6-8

RENUNGAN MINGGU V TRINITATIS 20 JULI 2014
Yesaya 44: 6-8


Ada seorang bapak yang mempunyai seorang anak yang nakal sekali. Berkalikali ayahnya memperingatkan supaya ia jangan nakal, tetapi anak itu tetap melanggar lagi. Sampai suatu hari ayahnya berkata, “Anakku, aku memberimu peringatan sampai dua kali. Kalau sampai kamu nakal lagi, kamu akan aku masukkan ke kamar gelap di bawah tanah”. Walaupun anak itu sudah diberi peringatan seperti itu, ia tetap berbuat nakal lagi. Akhirnya sang ayah harus menjalankan disiplin dengan jalan menghukum anak itu dan dimasukkan ke dalam kamar gelap di bawah tanah.
Anak itu memukulmukul pintu kamar meminta keluar karena takut. Dia meminta ampun kepada yahnya. Ayahnya mau membuka pintunya, tetapi isterinya berkata, “Jangan dibuka, disiplin harus ditegakkan, yang salah harus menerima hukuman”. Lalu suami isteri ini makan, sementara anaknya ketakutan di tempat yang gelap. Dia kedinginan dan berteriakteriak di bawah. Isterinya tetap melarang suaminya membuka pintu. Lalu ayah itu katakan, “Baik saya tidak akan melepaskan dia, tetapi saya mengasihi dia dan saya mau menemani dia”.
Kemudian ayah ini turun kembali dan membuka pintunya. Anak itu menangis dan memeluk ayahnya. Ayahnya membawa sedikit roti dan air. Mereka duduk di tempat yang gelap makan dan minum berdua. Tidak lama kemudian anak itu tertidur di tangan ayahnya.
Anak ini bayangan dari kita. Sudah berkalikali kita melanggar perintah Tuhan. Itulah sebabnya kita berada dalam kamar gelap, yaitu di dalam dosa kita. Hidup di dalam kegelapan demi kegelapan. Sebenarnya hati kita menjerit kepada Tuhan. Anak ini adalah bayangan dari kehidupan bangsa Israel. Sudah berkalikali berontak kepada Tuhan. Itu sebabnya bangsa Israel berada di dalam ketakutan dan kegelapan. Allah tidak tega membiarkan mereka dalam penderitaan, Tuhan merencanakan keselamatan untuk mereka. Penderitaan bangsa Israel di Babel, menggugah Tuhan menyatakan kasih sayangNya kepada bangsaNya. Pemberontakan bangsa Israel kepada Tuhan, tidak mampu meredam kasih sayangNya kepada umat kesayanganNya. Tuhan merencanakan kebebasan untuk mereka dari pembuangan di Babel, sebagaimana disampaikan nats kotbah minggu ini, Yesaya 44: 6-8. 
Allah berada di antara kasih dan hukuman, dua hal ini digenapi, seperti sang ayah tadi turun ke ruang bawah tanah. Demikian halnya Bapa kita di sorga. Dia turun ke dunia. Dia yang di sorga, Allah kita yang disebut “Immanuel”, Bapa Kekal, Raja Salam itu senantiasa menemani kita. Dia turun di tempat yang miskin, di tempat dimana ada penderitaan. Dia mau menemani kita. Dia mau mengganti kita mati di kayu salib untuk menebus dosa kita. Dia Tuhan Maha Baik.

Selamat Hari Minggu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

RENUNGAN MINGGU ADVENT I 28 NOVEMBER 2021

MENYAMBUT KEDATANGAN TUHAN DALAM KEKUDUSAN (1 Tesalonika 3: 9-13) Surat ini ditujukan kepada komunitas pengikut Kristus di Tesalonika. L...