Tampilkan postingan dengan label Renungan Minggu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan Minggu. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 November 2021

RENUNGAN MINGGU ADVENT I 28 NOVEMBER 2021

MENYAMBUT KEDATANGAN TUHAN

DALAM KEKUDUSAN

(1 Tesalonika 3: 9-13)



Surat ini ditujukan kepada komunitas pengikut Kristus di Tesalonika. Lukas mencatatkan bahwa misi Paulus dan Silas ke Tesalonika, menyebabkan pertobatan orang Tesalonika kepada Kristus. (Kis.7). Kekristenan di sana begitu mudah terancam karena kota itu penuh dengan patung-patung berhala.

Paulus berbicara kepada orang-orang Tesalonika untuk berpaling dari berhala-berhala, kepada Allah melayani Allah yang hidup dengan hidup benar serta menantikan anak-Nya dari surga, yang dibangkitkan-Nya dari antara orang mati, yaitu Yesus yang menyelamatkan kita dari murka yang akan datang. (1 Tes.1:9-10).

Demikianlah orang-orang percaya Tesalonika telah mulai mengikuti Raja baru, dan berusaha hidup seperti Kristus Yesus, berpaling dari norma kehidupan lama. Sukacita dan rasa syukur pun diungkapkan. Rasul Paulus tidak dapat menahan kegembiraannya dan bahkan terkejut karena penyambutan orang-orang Tesalonika. Maka suratnya ini berusaha untuk memuji orang Tesalonika atas iman mereka dan mendorong mereka untuk tetap setia bahkan dalam menghadapi kesulitan (1 Tes.2:14). Perikop khotbah ini memberikan gambaran tentang kerinduan Paulus yang sungguh-sungguh untuk dapat bertemu dengan jemaat Tesalonika lagi. Paulus pun mengerahkan Timotius untuk memeriksa orang-orang percaya ini. Paulus menceritakan kabar baik yang dia terima dari Timotius, yang telah melaporkan kekuatan iman dan kasih orang Tesalonika (1 Tes.3:6). Melawan segala rintangan yang ada, jemaat tetap setia. Orang-orang percaya telah bertahan menghadapi tekanan yang mereka hadapi dari para pejabat kekaisaran, oleh orang-orang Yahudi, dan oleh praktek-praktek iman mereka sebelumnya (1 Tes.1:9).

Akhirnya, Paulus mengingatkan mereka bahwa Kristus akan kembali (1 Tes.3:13). Inilah kabar baik! Kristus akan kembali dan datang kepada mereka yang adalah milik-Nya, apakah mereka dalam keadaan hidup atau mati (1 Tes.4:13-18). Datang kembali membawa damai sejati (1 Tes.5:23). Kembalinya Kristus menandakan kemenangan akhir Allah. Jadi, orang Tesalonika dan semua orang percaya sepanjang masa, hidup dalam harapan dengan kepastian Yesus Kristus akan kembali. Dalam penantian ini, kiranya Tuhan menjadikan kita berkelimpahan dalam kasih seorang terhadap yang lain dan terhadap semua orang.

Di tengah kesulitan yang tengah kita hadapi, kita sering mengeluh dan bertanya, Mengapa ini terjadi? atau Mengapa aku yang menderita? Marilah mengatasi masa-masa sulit itu dengan meminta pertolongan Tuhan, agar Dia meluaskan kasih-Nya di dalam hati kita dan menolong kita memanfaatkan kesempatan-kesempatan yang ada untuk makin mengasihi Tuhan dan sesama. Amin. Selamat hari Minggu! –NS-

Rabu, 17 November 2021

RENUNGAN MINGGU AKHIR TAHUN GEREJA SETELAH TRINITATIS, 21 NOVEMBER 2021

 MENGHITUNG HARI

MAZMUR 90:1–12

 


Pengalaman rohani kita pada masa lalu akan menghantar kita kepada kesaksian iman, dan juga menjadi kekuatan baru dalam menjalani hari-hari kehidupan kita selanjutnya. Pengalaman masa lalu juga akan menghantar kita menghitung hari-hari kita, dalam artian belajar memaknai hidup dengan segala pergumulannya. Belajar memahami hidup dengan segala keterbatasannya. Hidup kita terbatas, semuanya akan berlalu sebagaimana juga yang disuarakan dalam kitab pengkhotbah 3 (semuanya ada waktunya) semuanya mengalir (Panta Rhei). Bagaimanakah kita akan menyikapinya selanjutnya?

Menghitung hari, bukan berarti kita menghitung hari-hari kalender kehidupan yang telah kita lalui (hari Senin–Sabtu; Januari–Desember; tahun 1-2021); dengan tujuan supaya kita beroleh hikmat dan pengertian (ay. 12). Mengapa kita bermohon kepada TUHAN supaya mengajari kita menghitung hari-hari kita? sebab muncul kesadaran iman pemazmur dalam pengenalannya terhadap TUHAN yang adalah: Tempat perteduhan; Allah yang kekal yang sudah ada sebelum dunia dijadikan dan tidak berakhir (Alfa dan Omega); Allah sang Pencipta. Pemazmur melihat dia aman karena dia memiliki tempat perteduhan (Allah sebagai rumahnya = tempatnya berteduh); Jadi bukan karena ia memiliki sesuatu sehingga ia merasa aman. Akan tetapi adalah karena ia memiliki hubungan yang baik, yang intim/akrab dengan TUHAN. Pemazmur juga menyadari bahwa dirinya hanyalah debu, rumput yang sebentar kelihatan dan kemudian lenyap (Yak 4:14: sama seperti uap); Dalam artian menggambarkan kemahakuasaan Allah dibandingkan dengan kelemahan dan kefanaan manusia.

Pemazmur mengajak kita untuk menghitung hari, jikalau dalam ay. 10 disebut bahwa masa hidup kita hanyalah 70–80 tahun, itu menandakan begitu fananya kehidupan ini, begitu cepatnya berlalu; oleh sebab itu bagaimana kita memaknai kesempatan yang singkat ini dalam pembentukan moralitas dan spiritualitas kita untuk semakin baik. Menghitung hari hingga beroleh hikmat dan pengertian, untuk semakin menyadari bahwa TUHANlah yang berkuasa penuh dalam kehidupan kita; sehingga bagaimana kesempatan yang terbatas itu dapat kita pergunakan untuk memuji dan memuliakan TUHAN, melakukan apa yang berkenan kepadaNya. Amin. Selamat hari Minggu! -HS-

RENUNGAN MINGGU KEDUAPULUH EMPAT SETELAH TRINITATIS, 14 NOVEMBER 2021

 WASPADAH, JANGAN SESAT

 

(Markus 13: 1-8)




 

Pesta Gotilon (Panen atau menuai) telah menjadi salah satu tradisi di gereja HKBP atau barangkali di gereja-gereja lain juga, dilakukan sekali setahun. Sejak awal para misionaris hingga berdirinya Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), telah menggiatkan pesta gotilon sebagai salah satu pesta gereja tahunan, yang dilakukan setelah selesai panen. Makna yang ditanamkan untuk mensyukuri hasil panen yang dipercaya sebagai berkat Tuhan. Jemaat kaum ibu dihimbau untuk membawa serta hasil tanamannya terutama hasil dari sawah atau ladang berupa beras atau padi, buah-buahan, lampet atau sagusagu (kue tradisional batak terbuat dari tepung beras). Biasanya itu dibawa dalam tandok (sumpit tradisonal Batak). Lampet atau sagusagu dimakan bersama oleh seluruh warga jemaat yang hadir setelah kebaktian Minggu. Sedangkan beras atau padi itu disimpan dalam lumbung gereja atau dijadikan dalam bentuk uang. Kaum bapak dan Naposobulung (pemuda-pemudi) membawa persembahannya berupa uang yang dimasukkan dalam amplop. Semua persembahan diperuntukkan untuk dana keperluan operasional gereja. Tradisi ini hingga sekarang masih terus dipertahankan oleh HKBP, baik yang berada di daerah perantauan perkotaan di mana warga jemaatnya tidak lagi hidup dari hasil pertanian. Pesta Goliton terinspirasi oleh tradisi keagamaan umat Israel dalam kitab Keluaran 23: 10-19 memerintahkan tiga macam perayaan (ayat 10-12): tentang tahun Sabat dan hari Sabat. (ayat 15) tentang hari raya Roti Tidak Beragi. (ayat 16) tentang hari raya menuai (Pesta Gotilon). Dalam perayaan Pesta Gotilon, semua umat Israel datang menghadap Tuhan (Kel. 23:17) dan membawa yang terbaik dari buah bungaran (yang pertama keluar) hasil tanah (Kel. 23: 19). Pesta Gotilon ini biasa juga disebut Pesta Pentakosta (ke-50) karena dirayakan 50 hari sesudah hari raya Roti Tidak Beragi. Hari raya Roti Tidak Beragi dirayakan untuk memperingati keluarnya bangsa Israel dari perbudakan di Mesir yang biasa disebut Paskah. Dalam perayaan Kristen saat ini, maka Pesta Gotilon sama dengan peringatan Turunnya Roh Kudus yang sering kita sebut hari Pentakosta, yang kemudian dipadu dengan budaya Batak, berupa pesta tahunan masyarakat Batak sehabis panen. Bagi umat Kristiani sekarang ini Pesta Gotilon dimaknai sebagai kesadaran bahwa begitu besar kasih karunia Tuhan, maka wajib disyukuri. Kesadaran saling membantu, saling tolong menolong, setiap anggota jemaat sesuai dengan talenta dan berkatnya masing-masing menopang seluruh pelayanan dan program kerja gereja untuk berjalan dengan baik. (band. Galatia 6: 2).

Perikop Markus 13: 1-8, saat murid-murid Yesus sibuk mengagumi bait Allah versi Herodes Agung. Pendirian bait Allah ini semata-mata demi membangun ambisinya untuk berkuasa di Yehuda dengan tanpa mendapatkan banyak hambatan. Lalu Yesus berkata kepada salah seorang murid: "Kau lihat gedung-gedung yang hebat ini? Tidak satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain, semuanya akan diruntuhkan." (ay. 2). Ramai orang ingin mengetahui hal-hal yang akan terjadi pada akhir zaman. Mereka ingin tahu bila dan apa yang akan terjadi kepada bumi dan segala isinya. Sebagian orang merasa takut dan tidak kurang di antaranya berusaha mencari jalan untuk menghindarinya. Sementara sebagian lagi hanya bersikap pasrah. Apa sebenarnya yang Alkitab katakan tentang akhir zaman? Benarkah itu sesuatu yang menakutkan bagi orang yang percaya kepada Allah? Bagaimanakah kita harus menghadapi akhir zaman itu? Waspadalah, jangan sesat! Tidak seorang pun tahu bila hari Tuhan akan datang. Tetapi satu hal boleh kita yakini, bahwa selama kita berada di dalam Tuhan, berlindung pada anugerah-Nya, tidak akan ada hal apapun yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus, kepada-Nyalah kita menyerahkan diri. Kepada-Nya jugalah kita bersyukur dan menyerahkan persembahan Pesta Gotilon kita. Amin. Selamat hari Minggu! -NS_

Jumat, 29 Oktober 2021

RENUNGAN MINGGU KEDUAPULUH DUA SETELAH TRINITATIS, 31 OKTOBER 2021

 INJIL YANG MEMBAHARUI

(Roma 1: 17-18)



 

Tujuan reformasi perlu dipahami oleh setiap rakyat. Apalagi, karena gerakan ini merupakan titik balik suatu bangsa atau negara dalam menjalankan pemerintahannya. Gerakan reformasi bisa dilatar belakangi oleh krisis multidimensi akibat kebijakan-kebijakan dari pemerintahan sebelumnya di masa lalu. 

Reformasi memiliki makna perubahan secara drastis untuk perbaikan di bidang sosial, politik, atau agama dalam suatu masyarakat, bangsa, negara. Tujuan reformasi yang paling utama adalah memperbarui tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, agar sesuai dengan nilai-nilai dan kesepakan yang telah disusun dan disepakati bersama, baik dalam bidang ekonomi, politik, hukum serta bidang lainnya.

Sebagaimana menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, reformasi adalah perubahan secara drastis untuk perbaikan baik di bidang sosial, politik, atau agama dalam suatu masyarakat atau negara. Khusus di Indonesia, kata reformasi umumnya merujuk kepada gerakan mahasiswa pada tahun 1998 yang menjatuhkan kekuasaan Orde Baru.

Demikian juga dengan reformasi gereja, suatu gerakan untuk mengadakan pembaruan. Sebuah upaya perbaikan tatanan kehidupan yang didominasi oleh otokrasi pada ajaran yang menyimpang untuk kembali ke jalan yang lurus. Gerakan reformasi berupa sikap kritis terhadap penyimpangan-penyimpangan pada waktu itu. Misalnya penjualan surat Aflat (surat pengampunan dosa). Dengan 95 tesisnya Martin Luther mengawali dengan mengkritik praktek surat penghapusan dosa ini. Menekankan Alkitab sebagai satu sumber keyakinan yang benar (sola scriptura) serta keyakinan iman di dalam Yesus, bukan dengan perbuatan-perbuatan baik. Satu-satunya jalan untuk memperoleh pengampunan Allah atas dosa (sola fide).

Paulus rindu datang untuk memberitakan Injil kepada mereka yang di Roma, karena Injil itu adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang percaya. Injil adalah kebenaran dan perbuatan Allah yang layak diyakini siapa pun. Dalam Injil terdapat anugerah Allah yang memberikan hidup kekal bagi mereka yang memercayai-Nya. Inilah inti Injil, Yesus Kristus yang menyelamatkan dan harus direspons dengan beriman kepada-Nya. Bagi Paulus, Injil bukan spekulasi pengetahuan dan akal budi manusia. Injil juga bukan ajaran moral dan etika agar manusia memperbaiki perilaku berdasarkan kekuatan. Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan dan mendamaikan manusia berdosa dengan Allah.

Bila Anda tergolong orang yang masih ragu tentang hal ini. Biarlah Allah mereformasi, membaharui iman percayamu kepada-Nya. Injil Kristus ada keselamatan bagi kita dan siapa pun yang menerimanya. Kita selamat hanya oleh anugerah-Nya. Amin. Selamat hari Minggu! (NS).

RENUNGAN MINGGU KEDUAPULUH SATU SETELAH TRINITATIS, 24 OKTOBER 2021

 HIDUP RUKUN DENGAN SESAMA

ULANGAN 24: 17-18




 

Presiden I Republik Indonesia Bpk. Ir. Soekarno pernah berkata dalam sebuah pidatonya dengan istilah: “Jas Merah” (jangan sekali-kali melupakan/meninggalkan sejarah); Seruan ini mengingatkan bangsa kita akan kehidupan masa lalu, saat bangsa ini dalam penjajahan dan bagaimana bangsa ini memperoleh kemerdekaannya. Dengan demikian diharapkan semua warga menghargai nilai dari sebuah kebebasan tanpa adanya lagi penindasan terhadap sesama. Artinya bagaimana sesama warga negara mempunyai tujuan yang sama yaitu kedamaian bersama.

Pengalaman akan penderitaan masa lalu akan membawa kita kepada sukacita, kerendahan hati dan mampu menghargai hak asasi satu dengan yang lain, tidak mengandalkan kekuatan, kekuasaan/jabatan, kekayaan, jumlah mayoritas untuk menindas orang-orang miskin, lemah, yatim piatu atau golongan minoritas. Terkadang kita melihat ketidakadilan yang nyata dalam kemasyarakat, adanya perbedaan dalam hal penegakan hukum dengan istilah: Hukum tajam ke bawah dan tumpul ke atas “dan juga sebuah pertanyaan yang pesimis;” Apakah hukum dan keadilan hanya milik orang kaya?: Yang kaya dan berkuasa menindas kaum miskin, lemah dan minoritas, adanya kesombongan/arogansi moral yang dipertontonkan oleh orang-orang kaya, berkuasa, mayoritas terhadap kaum lemah. Apakah perilaku ini dapat disebut penjajahan/perbudakan masa kini?

Tatanan moralitas, sekaligus dasar hukum ditawarkan dalam perikop ini; yaitu menghargai hak asasi manusia; yang diawali dengan 2 kata/kalimat: “Janganlah” dan haruslah kau ingat.” Dalam artian bagaimana bangsa itu harus hati-hati dalam bertindak, jangan jatuh pada kesombongan moralitas maupun spiritualitas, bagaimana berjuang menegakkan keadilan dan kebenaran; menghargai hak kepemilikan seseorang, menolong tanpa pamrih dalam artian menolong seseorang bukan untuk mencari keuntungan, apalagi sampai merampas milik orang miskin sebagai gadai, tebusan utang jika mereka tidak mampu membayar. Dengan menghargai hak asasi atau hak hidup seseorang, adalah sebuah realitas kasih (1 Yoh 4:20) Mengasihi orang lain karena kita telah dikasihi Tuhan, membebaskan karena kita telah dibebaskan dari kesulitan hidup dan hukum dosa. Artinya setiap orang percaya diingatkan untuk tidak pernah melupakan masa lalunya, yang menderita dan dikuasai oleh dosa. Kehidupan yang nyaman yang kita miliki saat ini oleh kasih karunia TUHAN hendaknya menjadi kesempatan untuk menyatakan kasih terhadap sesama, menolong sesama dalam kepedulian sosial. Dan apa yang kita miliki saat ini hendaknya menggerakkan hati kita untuk saling berbagi; memberi karena kita telah menerima anugerah, mengasihi karena kita telah dikasihi Tuhan, membebaskan karena kita telah beroleh kebebasan dan keselamatan oleh Tuhan Yesus. Amen. Selamat hari Minggu! (NS).

PENELAAHAN ALKITAB (PA) SEKSI REMAJA “IBADAH YANG BENAR DI HADAPAN TUHAN” JUMAT, 15 OKTOBER 2021 ZOOM

 PENELAAHAN ALKITAB (PA) SEKSI REMAJA

HKBP PONDOK GEDE RESORT PONDOK GEDE

DISTRIK XIX BEKASI

VIA ZOOM

Jumat, 15 Oktober 2021


“IBADAH YANG BENAR DI HADAPAN TUHAN”




 

1.  Menyanyi BN HKBP No. 815: 1-2 Indahnya Saat yang Teduh D=Do 6/8

 

1.     Indahnya saat yang teduh, di hadirat-Nya yang kudus

Bapaku setia s’lalu, Dia t’rima permohonanku

Dikala susah dan resah, jiwaku dihiburkan-Nya

‘Ku bebas dari cobaan, saat berdoa pada-Nya

 

2.     Indahnya saat yang teduh, senang, bahagia hidupku

Hatiku rindu selalu, berdoa saat yang teduh

Bersama umat yang kudus, ‘ku ingin lihat wajah-Mu

Tuhanku Yesus Penebus, di dalam doa yang teduh

 

2.  Doa Pembuka (A. XV/ A. 8; D. XIII/ 58) Ayat Harian Almanak HKBP:

 

Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan. (Efesus 4: 28).

3.  Pembacaan Nats:

 

“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.”

So then, my brothers, because of God's great mercy to us I appeal to you: Offer yourselves as a living sacrifice to God, dedicated to his service and pleasing to him. This is the true worship that you should offer. (Roma 12: 1).

 

“IBADAH YANG BENAR DI HADAPAN TUHAN”

 

Masih ingatkah dengan ibadah sewaktu kecil?  Mengikuti Sekolah Minggu, mendengarkan kisah-kisah menarik tentang tokoh-tokoh Alkitab. Ketika Perayaan Natal hiasan lilin Natal dan baju baru? Atau Paskah, dibanjiri telur-telur Paskah dan aneka bingkisan lomba.

 

Bagi siapapun kanak-kanak, ibadah itu menyenangkan karena banyak teman, hadiah, makanan, cerita menarik dan kakak guru-guru Sekolah Minggu cantik dan ganteng.

Tentulah setiap remaja HKBP Pondok Gede sebagai alumni Sekolah Minggu, senang beribadah. Untuk menyanyi memuji Tuhan bersama saudara-saudara seiman, mendengar firman Tuhan. Atau adakah sesuatu yang lain hatimu mendorong kedatanganmu untuk beribadah? Misalnya hanya sebagai kebiasaan saja? Terpaksa atau dipaksa? Sebaiknya hal ini mari kita renungkan!

 

Hendaklah setiap ibadah yang kita lakukan pertama-tama harus didasari dengan pemahaman bahwa Allah itu sungguh mengasihi, Allah itu sudah banyak memberikan yang terbaik bagi kita. Ibadah kita akan menjadi benar di hadapan Allah, ketika ibadah yang kita lakukan adalah sebagai bentuk syukur kita kepada Allah atas keselamatan yang Allah sudah berikan kepada kita. Karenanya janganlah kita mengikuti ibadah, menyanyikan lagu pujian, mendengarkan firman Tuhan, tetapi juga memegang HP melakukan chat dengan teman kita. Kita bernyanyi sambil tersenyum karena membaca status teman kita yang mungkin lucu. Inikah ibadah kita? Kita memang mendengar firman Tuhan yang dibaca dan dijelaskan pengkhotbah. Akan tetapi bukannya fokus mendengar khotbah, malah kita juga tergoda mengomentari khotbah tersebut seakan kita lebih mahir dari pengkhotbah tersebut. Bukan perubahan yang terjadi pada kita, malah ketegaran hati kita yang makin kuat membatu.

 

Sungguh sayang bila ibadah seperti itu terjadi, sehingga kita sering merasa tak ada gunanya beribadah. Tak terasa ada yang berubah. Kita tidak berubah. Kita tetap seperti kemarin. Yang berubah hanya waktu. Lalu kita mengomel, untuk apa beribadah!

Pada zaman Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru kata “avoda  atau latreuo” untuk ibadah, ini merupakan sikap dan tindakan seorang hamba/budak kepada tuannya. Jadi ibadah kepada Allah adalah segala sikap dan tindakan yang dilakukan sebagai ungkapan rasa takut dan hormat, kagum dan takjub kepada Allah. Termasuk ketika kita bersikap dengan atau menggunakan anggota-anggota tubuh kita untuk melakukan pekerjaan yang dikehendaki Allah dan memperhatikan orang-orang yang lemah seperti para yatim piatu dan para janda, karena kita adalah umat yang mengabdi kepada Allah. Semua hal itu dilakukan karena didasari atau sebagai bentuk penghormatan dan ketaatan kepada Allah, karena mempersembahkan tubuh dan mengunjungi yatim piatu dan janda janda adalah kehendak Allah.

 

Tuhan Yesus mengucapkan satu perumpamaan paling menohok kepada para pendengarnya. Pada waktu itu bangsa Yahudi membanggakan kehidupan beragama mereka dan mengangkat orang-orang yang pandai dan dipandang paling terkemuka dalam agama sebagai pemimpin mereka harus mendengarkan perkataan Yesus tersebut. Tentang orang Farisi yang berdiri dan berdoa: “Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.” Tetapi pemungut cukai berdoa dengan berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. Yesus berkata bahwa pemungut cukai itu pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” (lihat. Lukas 18: 9-14). Menunjukkan betapa pentingnya sikap hati seseorang di hadapan Tuhan! Di hadapan Tuhan, kesing, penampilan luar kita tidak terlalu berpengaruh. Dia tidak mengamati yang di luar jika mata-Nya dapat menembus hingga relung terdalam jiwa manusia. Tuhan tahu dan menilai semuanya. Dia mendapati sesuatu yang menyenangkan atau tidak menyenangkan Dia di sana.

 

Ibadah adalah persembahan yang hidup sebab mengabdikan diri kepada Allah yang hidup, menyenangkan hati Nya. Semua tentang Allah bukan dirinya, hidup menyangkal diri, rela memikul salib, tetap memuji Allah, sekalipun dia hidup miskin dan sakit. Bukan kekayaan atau kesembuhan yang menjadi konsentrasinya, melainkan menyenangkan Tuhan Sang penebus, yang membuatnya bahagia bahkan dikesusahannya. Ya, itulah persembahan yang hidup. Ibadah adalah persembahan yang kudus. Kudus adalah kata yang berarti terpisah dari, tidak sama dengan dunia yang duniawi.

 

Yesus mengatakan bahwa melakukan kehendak Allah tidak selalu mudah. Dia berkata, ”Masuklah melalui gerbang yang sempit, karena gerbang yang lebar dan jalan yang luas itu menuju kemusnahan, dan banyak orang masuk melaluinya, sedangkan gerbang yang sempit dan jalan yang sesak itu menuju kehidupan, dan hanya sedikit yang menemukannya.” (Matius 7:13-14). Jalan yang sesak, atau cara beribadah yang benar kepada Allah, menuju kehidupan abadi. “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” (Amsal 4:23). Tuhan tidak suka orang yang hatinya suka membenarkan dan memuji diri. Janganlah dalam ibadahnya tampak seperti menyembah Tuhan, tetapi juga memuji dan membesarkan dirinya sendiri. “…  sebab: Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati." (Yakobus 4:6).

 

Ibadah bukan hanya tentang pergi ke gereja atau mengikuti kebaktian setiap Minggu, mengikuti pelayanan, atau aktif dalam berbagai organisasi keagamaan. “Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia.” (Jakobus 1:27). Ibadah yang sejati adalah Ketika Anda menjaga tubuh dan hidup Anda agar tetap kudus sehingga berkenan kepada Allah. Tubuh dan hidup yang kudus berarti Anda tidak mencemari diri dengan dosa. Tidak merusak bait Allah dalam tubuh Anda dengan makanan tidak sehat, minuman keras, atau obat-obatan terlarang-Narkoba. Anda memastikan hidup Anda dipakai sebagai alat kebenaran untuk Tuhan. Hidup Anda mencerminkan kemuliaan, kebesaran, dan keindahan dari Allah sendiri. Ibadah yang sejati menuntut adanya perubahan pola pikir. Perubahan pola pikir seperti apa yang Tuhan maksudkan. Amin.

 

5. Diskusi

 

Sudahkah Anda memiliki ibadah yang sejati, yang berkenan kepada Allah?

Apakah ibadah Anda selama ini menjadikan Anda pribadi yang merefleksikan gambaran Tuhan dengan kasih-Nya, pengampunan-Nya, kecintaan-Nya akan Bait Allah, dan kepedulian-Nya terhadap orang miskin dan yang membutuhkan pertolongan?

 

6.  Menyanyi BN HKBP No. 223: 1-2 ‘Ku Sembah Kau Tuhan As=Do 4/4

 

1.      ‘Ku sembah kau Tuhan, dengarkanlah.

Nyatakan padaku, kehendak-Mu.

Kiranya kasihku, bertambah pada-Mu.

Makin teguh, setiaku.

 

7.   Doa Syafaat

 

8. Menyanyi BN HKBP No. 714: 1-2 Tuhan Kau Gembala Kami Es=Do 4/4 (Persembahan)

 

1.   Tuhan Kau gembala kami, pimpin kami domba-Mu.

B’rilah kami hati damai, menikmati rahmat-Mu.

Reff.:             Tuhan Yesus Jurus’lamat,

                      Gembalakan umat-Mu

                      Tuhan Yesus Jurus’lamat,

                      Gembalakan umat-Mu

 

2.    Tuhan gembala setia, sobat agung terdekat,

Jauhkanlah pencobaan, bawa orang yang sesat.

Reff.:             Tuhan Yesus Jurus’lamat,

                      Gembalakan umat-Mu

                      Tuhan Yesus Jurus’lamat,

                    Gembalakan umat-Mu.

 

9. Doa Bapa Kami - Berkat

Rabu, 13 Oktober 2021

RENUNGAN MINGGU KEDUAPULUH SETELAH TRINITATIS, 17 OKTOBER 2021

 KEBAHAGIAAN MENDENGAR FIRMAN ALLAH

(Lukas 11: 27-28)

 


Sebelumnya Lukas memberi tahu, bahwa ibu dan saudara-saudaranya Yesus datang kepadanya, tetapi mereka tidak dapat menjangkau dia karena orang banyak. Mereka memberitahu, "Ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan ingin bertemu dengan Engkau." Tetapi dia berkata kepada mereka, "Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya." (Luk.8:19-21).

 

Memuji Maria Istri Yusuf, ibu Yesus bukanlah dosa. Malaikat Gabriel mengatakan bahwa Maria telah mendapat kasih karunia Allah (Luk.1:28,30) dan Elisabet memujinya: "Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu!" (Luk.1:42). Maria sendiri menubuatkan: “Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia.” (Luk.1:48). Maria adalah model orang yang mendengarkan, merenungkan, menjaga dan mempraktekkan firman Tuhan dalam hidupnya. Mendengarkan berarti memperhatikan, memiliki telinga yang penuh perhatian.



Merenungkan adalah proses yang digambarkan sebagai pengunyahan kata demi kata. “Apabila aku bertemu dengan perkataan-perkataan-Mu, maka aku menikmatinya; firman-Mu itu menjadi kegirangan bagiku, dan menjadi kesukaan hatiku,” (Jer. 15:16).

 

Yesus sedang mendiskusikan perlunya pertobatan sejati yang datang melalui hati baru yang diberikan Allah (Luk.11:24-26). Tiba-tiba salah seorang perempuan di antara orang banyak berteriak karena jawaban yang baru saja Yesus berikan kepada orang-orang Farisi tentang sumber kuasa-Nya. Orang banyak itu jelas-jelas tergerak oleh jawaban Yesus.  Perempuan itu berpikir, bahwa pastilah suatu berkat yang luar biasa bagi Maria untuk menjadi ibunya. "Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau." Yesus merespons, "Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya."

 

Mendengarkan firman Tuhan dan memeliharanya adalah untuk ditarik ke dalam rahim gereja Tuhan, dalam lingkungan perlindungan yang Tuhan sediakan bagi umat-Nya secara bersama-sama menikmati susu rohani yang vital dari Injil Tuhan. (Lihat. 1 Kor. 3:2; 1 Petrus 2:2-3). Penulis surat Ibrani juga mengatakan: Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras. (Ibrani 5:12). Tuhan menyediakan susu rohani, makanan keras, karunia pengampunan, iman, dan kebangkitan di dalam Yesus dan kehidupan abadi. Kita menerima dari Dia segala yang kita butuhkan untuk hidup yang kekal. Setialah mendengar firman Tuhan, merenungkan dan memeliharanya, dan selamat berbahagia karenanya. Amin. Selamat hari Minggu! (NS).

Jumat, 08 Oktober 2021

RENUNGAN MINGGU KESEMBILANBELAS SETELAH TRINITATIS, 10 OKTOBER 2021

 

Allah yang tidak pernah berubah

(Ayub 23:10-17)

 

 

Kedewasaan moralitas serta kedewasaan spiritualitas kita, akan memampukan kita untuk memahami dan memaknai serta menyikapi segala persoalan kehidupan kita. Bagaimana kita dikuatkan, serta di mampukan jika kita tengah menghadapi pergumulan atau kesulitan, juga bagaimana kita mampu bersyukur jika kita tengah bersukacita.  Keteladanan itu, diperlihatkan Ayub ketika ia menghadapi persoalan yang sangat berat, Anak-anaknya meninggal secara tiba-tiba, hartanya ludes terbakar serta ia harus menderita karena penyakit kulit yang sangat parah, juga teman-temannya/sahabatnya juga meninggalkannya dan bahkan menuduhnya telah berdosa/melanggar firman Tuhan.

 

Pemahaman orang Yahudi, segala penyakit, penderitaan adalah akibat dosa dan pelanggaran terhadap Firman Tuhan. Dan itulah yang dituduhkan sahabat-sahabat Ayub kepadanya. Akan tetapi suatu hal yang luar biasa dari kehidupan Ayub, dia tidak marah dengan segala tuduhan itu, sebab ia memiliki keyakinan yang kuat akan Tuhan. Dia percaya bahwa Tuhan bukanlah tengah menghukumnya akibat dosanya, akan tetapi hanyalah untuk menguji dan menguatkan imannya.  Ada beberapa alasan Ayub mengapa Ayub bisa bertahan mempercayai Allah dan melihat bahwa apa yang dialaminya bukanlah sebagai hukuman sebagaimana yang dituduhkan sahabat-sahabatnya kepadanya: Pertama:  Sebab Tuhan mengenalnya, tahu jalan hidupnya. Kedua:  Ayub tetap setia berjalan pada jalan Tuhan tidak pernah menyimpang ke kiri atau ke kanan.  Ketiga; Perintah dan hukum Tuhan tidak pernah dia langgar dan bahkan seluruh hidupnya dia persembahkan untuk melakukan apa yang berkenan di hadapan Tuhan.  Keempat:  Allah itu adalah Tuhan yang kekal dan tidak pernah berubah, dan tidak satu pun kekuatan di dunia ini yang dapat mengatasi kekuatan Tuhan, dan yang dapat menggagalkan segala rancangan Tuhan. Sebab Dialah Tuhan yang berkuasa diatas segalanya, dan apa yang telah dikehendakiNya/dirancangkanNya pasti akan jadi.   Dengan alasan itulah Ayub tetap percaya bahwa suatu saat Tuhan akan memberikannya kemenangan dan keselamatan.  Dan oleh semuanya itu, Allah memberkati Ayub. Amin. Selamat hari Minggu! (HS).

Sabtu, 02 Oktober 2021

RENUNGAN MINGGU KEDELAPANBELAS SETELAH TRINITATIS, 3 OKTOBER 2021

 KESELAMATAN DARI TUHAN

(Ibrani 2: 1-4)



 

 

Parapuan adalah ruang aktualisasi diri perempuan untuk mencapai mimpinya. Karena ambisi untuk menggapai mimpinya, seorang perempuan hanyut oleh rayuan manis. Akhirnya membeli tas branded dengan diskon, total sembilan tas dan tiga di antaranya sudah dibayar lunas. Namun si perempuan pembeli kecewa, ternyata dari tas branded yang dibeli banyak keanehan ditemukan. Termasuk, ada noda seperti bekas kopi. Demikian tulis Suara.com.  

Hendak mandi di sungai bersama temannya, seorang mahasiswa terseret arus sungai. Tim SAR Gabungan yang melakukan pencarian berhasil menemukannya dalam kondisi meninggal dunia. Korban ditemukan dalam kondisi tewas pada jarak dua ratus meter dari lokasi awal. Demikian tulis republika.co.id. Berita-berita tersebut ditulis dengan judul “Korban Hanyut Terbawa Arus”.

Penulis Surat Ibrani menuliskan “Karena itu harus lebih teliti kita memperhatikan apa yang telah kita dengar, supaya kita jangan hanyut dibawa arus.” (ayat 1). Harus tetap teliti dan hati-hati, jangan sampai arus tidak baik membawa hanyut.

Kita harus belajar seperti Tuhan Yesus yang ketika dicobai iblis, Ia tetap mampu melawan godaan tersebut (Matius 4: 1-11). Tuhan Yesus digoda dengan hal-hal duniawi seperti makanan, kekayaan dunia, bahkan kekuasaan dunia, namun Tuhan Yesus mampu melawan iblis. Yesus menang, iblis dikalahkan. Dengan apa Tuhan Yesus melawan iblis? Dengan firman Tuhan. Setiap kali Iblis menawarkan sesuatu kepada Tuhan Yesus, di situlah Tuhan Yesus membalasnya dengan kutipan firman Tuhan. Artinya adalah salah satu cara untuk kita menang terhadap godaan-godaan dunia, kita harus selalu memiliki firman Tuhan dalam hati kita, salah satu caranya adalah dengan cara dengan teliti memperhatikan firman Tuhan yang kita dengar, kita baca, kita lihat dan kita menyimpannya dalam hati kita, bahkan kita harus selalu membawa firman tersebut dalam hidup keseharian kita. “Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung.” (Yosua 1: 8). Keselamatan di dalam dan melalui Yesus Kristus gratis, tanpa syarat apapun, hanya percaya kepada Yesus Kristus, kita akan diselamatkan (Kis 16:31). Namun keselamatan itu bukan hanya untuk didiamkan saja, tetapi juga harus dijaga. Tuhan telah memberikan keselamatan kepada kita dengan pengorbanan-Nya di kayu salib. Kita telah lunas dibayar dari kematian kekal kepada kehidupan kekal, oleh karena itu marilah kita tetap mengerjakan keselamatan kita dengan sungguh-sungguh. Janganlah kita menyia-nyiakan keselamatan yang sebesar itu. Amin. Selamat hari Minggu! -NS-

Jumat, 24 September 2021

RENUNGAN MINGGU KETUJUHBELAS SETELAH TRINITATIS, 26 SEPTEMBER 2021

 Hidup sebagai keluarga Allah 

 (Filemon 1:8-17) 



Persekutuan yang baik akan terpelihara jika masing-masing dapat membangun komunikasi yang baik, saling menghargai dan mampu saling mendengar. Tidak mengandalkan kekuasaan, kewenangan jika ia seorang pemimpin, tidak mengandalkan kekayaannya jika ia merasa kaya, tidak mengandalkan kepintarannya jika ia merasa pintar. Tetapi, bagaimana masing-masing anggota persekutuan itu harus mampu untuk saling menerima, saling memahami, baik persekutuan dalam hubungan sosial, maupun persekutuan dengan mitra kerja atau pimpinan kepada bawahannya dan sebaliknya, bawahan kepada pimpinannya. 

Keteladanan itu Paulus perlihatkan kepada Filemon, dimana Paulus tidak mempergunakan otoritasnya sebagai rasul, maupun sebagai bapak rohani dari Filemon untuk menyampaikan maksudnya. Namun Paulus memperlihatkan kebesaran hati seorang pemimpin yang bijaksana, Paulus memperlihatkan keteladanannya untuk menggugah hati teman sekerjanya. Ia sangat menghargai keberadaan Filemon. Hal itu bermula bagaimana Onesimus yang adalah hamba dari Filemon yang melarikan diri akibat kesalahan yang pernah dia perbuat, yang menyebabkan Onesimus tertangkap dan dipenjarakan, yang secara kebetulan dalam penjara yang sama dengan Paulus. Selama dalam penjara, Paulus membimbing, dan membentuk iman kerohanian serta kepribadian Onesimus menjadi manusia baru, sehingga Paulus menyebutnya sebagai “anak rohaninya”. Paulus dengan kasih menyerahkan kembali Onesimus kepada Filemon yang lebih berhak darinya. 

Paulus tidak mengutamakan kepentingannya, yang walaupun memang dia sangat membutuhkan pertolongan Onesimus, berhubung Paulus masih terpenjara dan usianya semakin lanjut. Paulus yakin Tuhan tengah berkarya besar atas diri Filemon dan Onesimus untuk dapat dipertemukan kembali, tetapi bukan lagi hubungan seperti tuan dan budak, melainkan sebagai saudara seiman dalam Kristus (ay. 15-16); Paulus juga berharap bagaimana Filemon juga bertumbuh dalam karakter yang lebih mulia, dan akan menerima Onesimus sebagai sesama manusia termasuk bagaimana ia akan bersedia menerima Onesimus yang dulunya budaknya yang telah melarikan diri sebab sebuah kejahatan yang dilakukannya. Paulus yang telah menerima Onesimus dengan sepenuh hati, sejak pertobatan Onesimus, mengharapkan Filemon juga berkenan menerimanya kembali sebagai sesama, sebagaimana Tuhan Yesus yang telah menerima kita kembali oleh dan dalam pengampunanNya yang memberikan kita hidup dan kehidupan baru. Amin. Selamat hari Minggu! (HS)

Senin, 20 September 2021

RENUNGAN MINGGU KEENAMBELAS SETELAH TRINITATIS, 19 SEPTEMBER 2021




 HIDUP DALAM DIDIKAN TUHAN

(Pengkhotbah 10: 10-15)

 

 

Bagi sebahagian orang, sulit sekali menjalankan pekerjaan yang memerlukan banyak pikiran, misalnya seorang analis kimia atau analis keuangan. Demikian juga misalnya dalam bidang pengembangan usaha dan pelayanan, karena memang harus menggunakan lebih banyak pikiran dari pada tenaga. Bagi sebagian orang sebagai sebuah ancaman jika harus bekerja di bawah terik matahari dengan alat kapak, pacul atau cangkul. Untuk berhasil dalam bidang apa pun, perlu adanya keseimbangan antara tenaga dan hikmat. 

Pengkhotbah mengarahkan argumennya ke arah yang ia diinginkan. Menggunakan metafora besi tumpul, ular memagut, orang bodoh, dll. Menunjukkan kepada kita bahwa hidup harus berarti. Maka harus mengarahkan hidup dalam didikan Tuhan. Pengkhotbah mengingatkan kita bahwa hal-hal kecil pun memiliki konsekuensi.

Dalam satu kesempatan seorang bapak sedang mengemudi mobilnya melewati rumah sakit jiwa, seketika ban belakang kiri mobilnya kempes. Sementara si bapak sedang mengganti ban yang kempes, mobil lain lewat, melindas tempat di mana si bapak meletakkan baut roda. Semua baut roda terlempar. Si bapak pun mencoba mencarinya, tidak juga ketemu. Si bapak kebingungan apa yang harus ia lakukan. Sementara si bapak menunggu taksi, ia mendengar teriakan dari balik pagar rumah sakit jiwa, di mana salah seorang telah memperhatikannya. Si pasien rumah sakit jiwa pun bersorak. Hei, Sobat! Mengapa kamu tidak melepaskan satu mur roda dari ketiga roda lainnya? Itu akan membantu banmu sampai kamu sampai ke rumah. Demikianlah si bapak yang mengalami kempes ban terbantu oleh saran mengejutkan seorang pasien rumah sakit jiwa. Si bapak pun berterima kasih kepadanya, sambil tersenyum si pasien rumah sakit jiwa tersebut berkata, "Saya di sini karena saya gila, bukan karena saya bodoh." Ide-ide baik akan selalu ada, terpenting bekerja dengan fokus hidup dalam didikan Tuhan yang menopang kita bahkan di saat-saat tersulit sekali pun. 

Marilah untuk selalu melindungi “kepala kapak” kita serta mengasahnya. Semua orang yang bekerja untuk Tuhan, seperti orang pintar akan terus menggunakan kapak terasah, sehingga mendapatkan hasil yang jauh lebih baik. Jangan pernah menjadi orang bodoh yang walaupun selalu ingin diajar, namun tidak pernah dapat mengenal kebenaran.” (2 Timotius 3: 7). Amin. Selamat hari Minggu! -NS-

Jumat, 03 September 2021

RENUNGAN MINGGU KEEMPATBELAS SETELAH TRINITATIS, 5 SEPTEMBER 2021

 KUATKANLAH HATIMU, JANGAN TAKUT

(Mazmur 35: 4-10)




 

“Satu-satunya hal yang harus kita takutkan adalah rasa takut itu sendiri.” Demikian Delano Roosevelt, Presiden AS katakan. Kata takut berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online adalah: (1) merasa gentar (ngeri) menghadapi sesuatu yg dianggap akan mendatangkan bencana (2) takwa; segan dan hormat (3) tidak berani (berbuat, menempuh, menderita, dsb) (4) gelisah; khawatir, merasa gentar (ngeri) menghadapi sesuatu yang dianggap akan mendatangkan bencana. Setiap orang memiliki penyebab atau pemicu rasa takut yang berbeda-beda. Perasaan ini bisa muncul akibat pengalaman atau trauma masa lalu, tetapi juga bisa ada dengan sendirinya tanpa diketahui. Beberapa pemicu ketakutan, seperti serangga atau ular. Situasi tertentu, seperti sendirian, berada di ketinggian, kekerasan atau perang, ketakutan atau kegagalan, ketakutan ditolak, dan sebagainya. Peristiwa yang dibayangkan, acara yang akan datang, bahaya dari lingkungan.


Ketakutan juga dibutuhkan untuk melindungi setiap orang, agar waspada terhadap situasi yang dianggap bahaya dan mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Namun rasa takut benar-benar dapat melumpuhkan kita, dapat berbahaya bagi kesehatan jika berkepanjangan. Beberapa ketakutan dapat diatasi dengan teknologi dan ilmu pasti. Meski demikian, rasa takut bisa muncul secara tiba-tiba terkadang bisa membuat kita tidak berkutik.


Beristirahat dan meluangkan waktu untuk menenangkan diri secara fisik, berjalan-jalan, mandi, minum secangkir teh, atau aktivitas lainnya yang membuat rileks, sangat membantu dalam mengusir rasa takut.


Nabi Yesaya menyampaikan sapaan yang sangat menyejukkan bagi umat Israel yang dalam kondisi tawar hati. “Kuatkanlah hati, janganlah takut! Lihatlah, Allahmu akan datang dengan pembalasan.” Menggambarkan akan adanya perubahan situasi dari menakutkan menjadi sukacita. Sukacita yang sangat sulit dikerjakan oleh manusia. Mata orang-orang buta akan dicelikkan, dan telinga orang-orang tuli akan dibuka. Orang lumpuh akan melompat seperti rusa, dan mulut orang bisu akan bersorak-sorai. Sukacita karena Allah melakukan restorasi pada umat-Nya Israel dan kepada seluruh ciptaan-Nya. Semua itu akan terjadi karena kehadiran Tuhan.


Nubuatan Yesaya ini mengacu pada apa yang akan dilakukan oleh Yesus. Dia sanggup membuang ketakutan, menyelamatkan dan memberikan sukacita yang sesungguhnya. Allah akan melakukan pemulihan universal, baik alam dan hewan, berikut mencelikkan mata rohani yang buta, membuka telinga yang tuli, menggerakkan kaki lumpuh kita untuk datang kepada Tuhan. Tuhan kita adalah Penolong yang setia. Kuatkanlah hatimu, jangan takut! Amin. Selamat hari Minggu! -NS-

Sabtu, 28 Agustus 2021

RENUNGAN MINGGU KETIGABELAS SETELAH TRINITATIS, 29 AGUSTUS 2021

 TUHAN TAHU APA ISI HATI KITA

(Markus 7:17–23)

 

 


Orang akan lebih cenderung melihat orang lain tanpa mampu melihat diri sendiri, dan orang sering menghakimi seseorang yang disasarkan pada dugaan tanpa fakta atau bukti. Yang semuanya dapat menimbulkan kekacauan, baik yang dituduh juga yang menuduh. Menghakimi tanpa alasan dan bukti, adalah juga menggambarkan rendahnya komunikasi seseorang, atau boleh jadi hanya untuk menutupi dirinya dengan segala kekurangannya. Banyak orang berusaha menghakimi orang lain tanpa memamahi apa resiko psikologis yang ditimbulkannya baik terhadap mereka yang dituduh, juga terhadap pertumbuhan emosional dan psikologinya sendiri. Sebab perkataan kita bisa mengangkat derajat dan harga diri kita, tetapi juga dapat menjatuhkan bahkan menghinakan diri kita sendiri. Kemunafikan dan kepalsuan hidup kita, tujuan serta motivasi kita terhadap sesuatu hal, walaupun misalnya semuanya bisa kita tutupi dari orang banyak, tetapi suatu saatnya nanti pasti akan ketahuan dan terbuka. Itu sebabnya perlu ada kehati-hatian dalam bertindak dan berbicara.

 

Kemunafikan akan selalu menjadi pembenaran diri sebagaimana orang-orang Farisi dan ahli taurat saat itu. Mereka menekankan hukum, tetapi tidak hidup dalam hukum yang sesungguhnya. Misalnya: hukum mencuci tangan; tangan yang tidak dicuci akan menajiskan makanan yang akan kita makan. Tetapi Yesus menegur kemunafikan mereka, dengan mengatakan bukan sesuatu yang masuk ke dalam tubuh yang najis, akan tetapi adalah yang keluar dari mulut, sebab apa yang keluar dari mulut, adalah merupakan produksi tubuh dan pikiran kita. Ucapan yang terucap adalah representasi kehadiran moralitas dan spiritualitas kita. Ucapan yang keluar dari mulut akan dapat mengangkat derajat kita, dan juga akan dapat menjatuhkan kita hingga ke titik terendah. Sebab itulah Salomo juga katakan; jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, sebab dari situlah terpancar kehidupan (Ams 4:23) Ucapan kita bisa jadi berkat dan bisa menjadi kutuk. Aturan keagamaan/hukum siasat gereja perlu; supaya gereja itu kudus, untuk membatasi dosa dan untuk mengingatkan kita akan hukuman; tetapi aturan itu juga akan berguna jika dipakai untuk membangun moralitas dan menegakkan keadilan, kebenaran, aturan yang menghidupkan. Tuhan tahu apa alasan dibalik semua ucapan kita, pikiran dan perilaku kita. Amin. (HS)

Rabu, 18 Agustus 2021

RENUNGAN MINGGU KEDUABELAS SETELAH TRINITATIS, 22 AGUSTUS 2021 MAZMUR 34: 12-18

 ORANG BENAR DI MATA TUHAN

(Mazmur 34: 12-18)




 

 

"Orang jahat adalah orang baik yang tersakiti," begitu opini sebagian warganet usai menonton film Joker. Para penonton film tersebut memaklumi soal bagaimana Arthur Fleck menjadi Joker. Musuh Batman ini diceritakan sebagai penderita penyakit mental yang kerap disakiti lingkungannya. Setelah keluar dari rumah sakit jiwa, Arthur yang bercita-cita menjadi komedian harus bekerja sebagai badut untuk menghidupi dirinya dan ibunya. Ia kerap digebuki hingga akhirnya dipecat sebagai badut sewaan. Tak ada teman untuk berkeluh kesah karena semua orang menganggapnya aneh. Arthur baru menemukan jati dirinya dan merasa bahagia ketika ia membunuh orang. Apalagi, ia dielu-elukan oleh warga miskin Gotham yang muak dengan susahnya hidup. Apa yang dialami Joker terkesan sangat mungkin terjadi di kehidupan nyata.

 

Daud adalah orang yang diurapi Tuhan menjadi raja Israel untuk menggantikan Raja Saul yang sudah tidak dikenan Tuhan. Dalam perjalanannya, Daud meninggalkan padang penggembalaan menjadi seorang prajurit kerajaan yang gagah perkasa. Tanpa cela dia memimpin tentara Israel. Kemenangan demi kemenangan diperolehnya. Kecemburuan raja Saul, mengancam nyawanya. Karenanya pelarian demi pelarian pun dijalani oleh Daud. Bahkan berpura-pura gila pun dilakoninya agar ia selamat dari bahaya dan maut. Daud juga mengajak orang untuk menyadari konsekuensi menjadi orang benar, dalam kondisi penuh pengharapan. Bahwa "mata TUHAN tertuju kepada orang-orang benar dan telinga-Nya kepada teriak mereka minta tolong" (ay.16). Kesulitan hidup jangan menjadi alasan bagi seseorang untuk berhenti menjadi orang benar. Kesulitan hidup tidak boleh dijadikan dasar untuk melakukan hal yang tidak benar.

 

Tantangan menjadi orang benar sungguhlah berat. Misalnya, karena tidak ikutan mencuri atau korupsi, akan dijauhi oleh teman sekerja karena dianggap menghambat proyek korupsi bersama.

 

 

Memang tidak mudah menjadi orang benar di dunia berdosa ini. Belajar dari Daud, kita diajak untuk bertahan dalam kebenaran dalam keadaan sesulit apapun, karena kita menyadari bahwa Tuhan akan menyertai orang benar. Orang benar selalu berserah kepada Tuhan dan bertekad menjalani hidup dengan benar, seperti yang Tuhan inginkan. Amin. Selamat hari Minggu! (NS).

RENUNGAN MINGGU ADVENT I 28 NOVEMBER 2021

MENYAMBUT KEDATANGAN TUHAN DALAM KEKUDUSAN (1 Tesalonika 3: 9-13) Surat ini ditujukan kepada komunitas pengikut Kristus di Tesalonika. L...