Kamis, 21 Juli 2016

MANGARADE ACARA ULANG TAON PAPITUHON PASAHAT “TUNGKOT SERE” SEKSI LANJUT USIA (LANSIA)

ACARA ULANG TAON PAPITUHON

PASAHAT “TUNGKOT SERE”

SEKSI LANJUT USIA (LANSIA)

HKBP PONDOK GEDE RESORT PONDOK GEDE

Minggu, 24 Juli 2016 Pukul 09.00 WIB














A. ACARA  DI PARMINGGUON

1.    Andorang so Parmingguan

Prosesi 3 halak RUAS lANSIA Minggu, mamboan Simbol-simbol ibadah:

1.    Bibel: Hatami do sulusulu ni pathu jala hatiuron di dalanku. (Pakpahan)

2.    Lilin: Ahu do Panondang ni portibi on. Na so tupa mardalan di na holom na mangihuthon Ahu; di ibana do tahe Panondang hangoluan. (Ny. St. Siahaan br. Simangunsong)

3.    Silang: Ai Kristus do hangoluan di ahu, jala laba nang hamatean. (St. R. Nababan)

4.    16 halak Sikola Minggu mamboan Tungkot: (Torus hundul tu hundulan na diparade tu nasida)

2.    Tingting (St. A. Simanjuntak)

3.    Mandok Hata  sian sada halak Lansia: (St. R. Panjaitan)

4.    Tangiang Pangondian (St. A. Simanjuntak)

5.    Marende BE. No.481: 1… (Pel. Ia-Ib)

6.    Jamita: 1 Musa 18:20-32

7.    Marende BE. No.280:1… (Pelean II)

8.    Marende BE. No.201:1-2               Bl.168 

           1.       Na martungkot sere au di dalanku tu na dao
Sian surgo i do ro surgo i ditudu do
I ma haporseaonku na pahothon pardalanku
Na patogu langkangki sahat ro di surgo i.
  
           2.         Sada pardisurgo i do disuru Tuhanki
Manginganhon rohangkon mangajari au tongtong
I ma holong ni rohaNa sian denggan ni basaNa
Do dilehon i tu au asa unang mago au.

9.    Manjaha Akte Lansia 70 taon (No. 1-8, (BARIS 1); 9-16 (BARIS 2)

10.  Ro ma tu Langgatan hombar goar na hona jahahon laho manjalo tungkot

11. Ganup Sikola Minggu pasahat tungkot tu Pandita laho pasahatonna tu Lansia na manjalosa

12. Pasahat “Tungkot Sere”

13.  Pengurus Lansia Pasahat Sipalas roha tu 3 halak Lansia umur 80 taon

14.  Marende BE. No.213:1+4              BL.115 (Jongjong)

1.       Dung sonang rohangku dibaen Jesus i, porsuk pe hutaon dison
Na pos do rohangku di Tuhanta i
Dipasonang tongtong rohangkon
Sonang do, sonang do dipasonang tongtong rohangkon

    4.     Mangolu nang mate  di Jesus do au Ibana haporusanki
HataNa sambing do partogi di au  ai na tau haposanku do i
Sonang do, sonang do dipasonang tongtong rohangkon


15. Tangiang Pelean - Panutup

Rabu, 13 Juli 2016

RENUNGAN MINGGU IX Setelah TRINITATIS 24 JULI 2016

“PEMBELAAN 
SEORANG YANG DIBERKATI”
 
Kejadian 18:20-32




B
erbicara dengan suatu perkara yang muncul dalam benak pikiran kita adalah adanya pengacara, hakim, terdakwa dan juga penuntun umum. Dalam peroses pengadilan, boleh saja masing-masing membuat argumentasi tuntutan maupun pembelaan, dan banyak diantara mereka bekerja karena profesi, karena tugas dan lain hal seperti kebutuhan, ataupun kepentingan lainnya. Biasanya yang terjadi adanya saling tuding, saling menyalahkan, dan yang paling lihai berkomentar, berpendapat, mengungkapkan alasan (pledoi–eksepsi dll) kesempatan mereka untuk menang pasti ada di samping adanya factor “X” di dalamnya yang pada akhirnya segala keputusan ada di tangan sang hakim yang “mulia”, keputusan akhir ada di tangan sang hakim, benar atau yang dibenar-benarkan, adil atau yang di adil-adilkan, itulah pengadilan dunia. 
    Dalam persoalan Sodom dan Gumora, Allah mencoba membicarakannya dengan Abraham, bagaimana Tuhan akan menghukum Sodom dan Gumora oleh fakta pelanggaran dan pemberontakan serta kejahatan penduduknya. Di dalamnya telah berlaku kejahatan/kebejatan moral, penindasan dan ketidakadilan. Banyak yang tertindas, yang teraniaya oleh perlakuan yang juga dapat disebutkan hampir semua penduduk Sodom dan Gumora saling berlomba melakukannya. Persoalan kehidupan itu sampai kepada Tuhan. Dia datang melawat dan akan memberikan keadilan. Hukum Tuhan akan berjalan dan akan dijatuhkan, Sodom dan Gumora akan dihancurbinasakan berikut penduduknya. 
     Adalah seorang Abraham, yang diberkati Tuhan mencoba memberikan pembelaan yang tulus, sebab apakah mungkin seluruh penduduk kota itu telah bejat moral, apakah tidak dimungkinkan masih ada yang benar kelakukannya? Abraham teringat akan saudaranya Lot, Abraham tahu apa dan bagaimana Lot dalam kehidupan sehari-harinya. Abraham memberikan “penawaran” akan jumlah, dengan harapan Tuhan akan mempertimbangkan keputusanNya, dari 50 orang hingga 10 orang. Ternyata jumlah yang Abraham coba tawarkan tidak memenuhi keadaan yang sebenarnya. ”Pengaraca/pembela” ini termenung di hadapan sang “Hakim”, sambil merenungkan apakah mungkin Tuhan akan menghukum orang benar karena orang-orang yang jahat? Atau orang benar akan mampu menyelamatkan orang yang jahat, atau semuanya akan dihukum? Ternyata iman Abaraham mampu menyelamatkan Lot, tapi istrinya Lot tidak selamat karena lebih memilih dunia dan segala keindahannya dari pada jalan Tuhan yang menyelamatkan. Abraham menjadi berkat dan menyelamatkan Lot, iman orang percaya akan menjadi berkat bagi dunia sekelelingnya dan seluruh ciptaan Tuhan (diberkati supaya menjadi berkat (Kej 12:2-3). 
    Yesus datang sebagai pembela, yang membela setiap perkara kehidupan kita kepada sang Bapa. Yesus oleh kasihNya merelakan dirinya disalibkan demi hidup orang yang mau diselamatkan, yang mau di bela dan yang mau bertobat. Dia tunjukkan jalan kebenaran (Yoh 14:6). Kebenaran Yesus telah membenarkan dan menjadi kebenaran kita, Dia telah membenarkan kita di hapadan Tuhan, (2 Kor 5:21) supaya olehNya kita diselamatkan dan beroleh hidup kekal.
Amin.

RENUNGAN MINGGU VIII Setelah TRINITATIS 17 JULI 2016

Pilihan Yang Tepat Saat Yang Tepat

 (Lukas 10:38-42)





B


agi orang berbudaya Timur, menyambut tamu dengan penuh keramahtamahan adalah suatu keharusan, dengan penyuguhan minuman, makanan atau menawarkan untuk bermalam. Apalagi kalau tamu itu merupakan orang terhormat dan tersohor (seperti Yesus), karena olehnya kita mendapat kehormatan juga. Bahkan ada orang yang mau saja berutang hanya untuk menjamu tamunya. Misalnya orang Batak karena persediaan yang minim, boleh saja mengambil diam-diam ternak sesama (Tangko Raja) kalau sedang ketibaan tamu. 
    Perikop minggu ini hanya ditulis oleh Lukas, berbicara mengenai dua tokoh bersaudara, berbeda tindakan dalam pelayanannya kepada tamu agung mereka, yaitu Yesus yang ketika itu datang berkunjung ke rumah mereka. Injil Lukas tidak bermaksud mempertentangkan tindakan kedua tokoh ini, bahkan tidak juga untuk menyatakan bahwa Maria lebih rohani sedangkan Marta duniawi. Kisah ini mengajak pembacanya menentukan “prioritas” dalam hidupnya. “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Mat.6:33). 
     Tentu tidak ada yang salah dengan Marta; toh apa yang dia lakukannya melayani Yesus, adalah budaya yang baik. Adalah manusiawi juga kalau dia kesal, uring-uringan, dan akhirnya mengeluh kepada Yesus karena saudaranya Maria yang seolah-olah tidak perduli dengan kesibukannya itu dan hanya duduk saja dekat kaki Yesus mendengarkan perkataan-Nya. Tapi apa yang terjadi? Ketika Marta mengeluhkan: "Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku." (ay.40). Maka Yesus menjawab: “Marta, Marta ...”. Kata-kata Yesus di sini tidak untuk menyalahkan Marta dan menganggap kesibukan melayaninya salah. Sebelum perikop ini, menurut Lukas 9:51 “Ketika hampir genap waktunya Yesus diangkat ke sorga, Ia mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem”. Yesus hanya mempunyai sedikit waktu lagi dalam pelayanan-Nya. Penilaian Yesus pada tindakan Maria adalah yang terbaik sebab ia memperhatikan hal yang paling perlu pada saat yang tepat. Pelayanan Marta juga baik, namun Marta ternyata telah dikuasai oleh kekuatiran, kesusahan dan kesibukan dengan banyak perkara dan melupakan sesuatu yang sangat berharga pada saat itu, yaitu satu kesempatan emas yang tidak akan terulang lagi, “mendengarkan perkataan Tuhan Yesus” yang sedang berkunjung ke rumah mereka. 
  Yesus lebih membanggakan Maria, yang menentukan/memilih prioritas pada kesempatan kunjungan-Nya itu: “Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.”(ay.42). Tuhan lebih dahulu melayani kita dengan dengan firman-Nya, berbekalkan firman-Nya tersebut kita baru layak melayani. 
     Nyanyikanlah: “Ingin seperti Maria, duduk dengar firman-Mu. Yesus aku mau setia, taat akan p’rintah-Mu, Ya Yesus Tuhanku, s’lamatkan diriku. Ampuni dosaku, dan kesalahanku. Terimalah aku jadi milik-Mu. Penuhi hatiku dengan kasih-Mu.” (Buku Nyanyian HKBP No.255:3). Selamat hari Minggu. 
Amin.

RENUNGAN MINGGU ADVENT I 28 NOVEMBER 2021

MENYAMBUT KEDATANGAN TUHAN DALAM KEKUDUSAN (1 Tesalonika 3: 9-13) Surat ini ditujukan kepada komunitas pengikut Kristus di Tesalonika. L...